ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
08 Maret 2026 17:00
“Carilah seorang seperti Khamenei yang komitmen terhadap Islam, pengkhidmat, dan yang hatinya berpikir melayani bangsa ini, tentu kalian tidak akan mendapatkannya. Aku telah mengenalnya bertahun-tahun.” Imam Khomeini R.A
12 Syahru Romadlon 1447 H atau 1 Maret 2026 M, setelah serangan tanpa provokasi dari Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, berbulan-bulan perang dingin, dan puluhan tahun pengabdian di perjuangan melawan Zionisme, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei Pemimpin Agung Iran akhirnya wafat di medan perang. Beliau syahid di bulan suci Romadlon, dalam keadan berpegang teguh pada prinsipnya tanpa rasa pengecut hingga akhir hayat.
Ayatollah Ali Khamenei atau Khamenei telah menjadi Pemimpin Agung Iran sejak tahun 1989, atau sejak beliau berusia 50 tahun hingga kini berusia 86 tahun. Khamenei adalah pemimpin ke – 2 pasca Revolusi Islam Iran, meneruskan Pemimpin Agung sebelumnya yaitu Ayatollah Ruhollah Imam Khomeini.
25 tahun menjabat, banyak hal yang telah beliau lakukan untuk Iran. Di antaranya pada bidang sosial dan budaya, sains, Pendidikan dan teknologi, serta kependudukan. Tapi hal yang paling mengesankan darinya adalah penetapan Ekonomi Perlawanan/Resistance Economy.
Di tengah gempuran Israel ke berbagai negara dan genosida di Palestina pada abad ke 21 ini, beliau adalah satu-satunya pemimpin negara di dunia ini yang tidak takut dengan kekuasaan Amerika Serikat dan Israel. Dengan terang-terangan, beliau berdiri menentang Zionis di saat pemimpin lain memilih jalan aman. Keberanian ini tentu bukan tanpa resiko. Kebijakan “Ekonomi Perlawanan” dan konfrontasi geopolitiknya telah memicu isolasi internasional dan ketidakstabilan domestik yang akut. Hal ini juga berujung pada gelombang krisis ekonomi yang terjadi di Iran pada akhir tahun 2025.
Baca di sini: Iran di Ambang Keruntuhan Ekonomi, Krisis yang Ditunggangi Kepentingan Politik
Latar belakang seperti apa yang menjadi Ayatollah Ali Khamenei teguh pada prinsipnya? Dan apa harga yang harus dibayar atas keteguhan itu?

- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno