ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
08 Maret 2026 17:00
TUMBUH DARI KELUARGA SEDERHANA
Ayatollah Ali Khamenei lahir pada tanggal 24 Tir 1318 Hijriyyah Syamsiyyah atau 16 Juli 1939 di kota Suci Mashad. Ayahnya adalah seorang Ulama’ pengajar agama, Hujjatul Islam wal Muslimin Haj Sayyid Javad Husaini Khamenei, dan ibunya Lady Mirdamadi seorang Muslimah yang pandai dalam literatur dan sejarah serta piawai melantunkan Al Qur-an dan hadits. Sayyid Javad dikenal sebagai seorang yang menjalani hidup sederhana, dan memiliki prinsip hidup pantang kenikmatan duniawi. Ia juga mengajari istri dan dua orang anaknya untuk hidup tanpa materi yang berlebihan.
“Ayahku, meski beliau adalah seorang tokoh pemuka agama yang cukup dikenal, adalah seorang zuhud. Hidup kami cukup sulit. Terkadang untuk makan malam kami tidak memiliki apa-apa untuk dimakan! Hanya ada roti kismis, yang entah bagaimana diolah jadi cukup oleh ibu kami,” terang Ayatollah, dikutip dari biografi dari website resmi Khamenei.

Beliau lalu melanjutkan bahwa rumahnya berukuran 65-meter persegi dan hanya terdiri dari satu ruangan dan satu rubanah yang gelap. Sebagai seorang ulama’, Sayyid Javad kerap kedatangan tamu masyarakat sekitar yang hendak konsultasi mengenai masalah mereka. Pada saat ada tamu berkunjung, Khamenei beserta ibu dan kakak laki-lakinya harus tinggal sementara di rubanah sampai tamu itu pergi. Mereka harus hidup seperti itu selama bertahun-tahun hingga akhirnya seorang dermawan yang menghormati Sayyid Javad membeli tanah kosong di samping rumah mereka dan menghibahkannya, sehingga mereka mampu membangun dua ruangan lagi.
Tinggal di rumah dan keluarga yang zuhud dan religious, menjadikan Khamenei seorang yang gaya hidupnya sederhana dan taat agama. Ia memulai Pendidikan agama di sebuah Maktab (sekolah dasar tradisional di dunia Muslim—red), di mana ia mulai belajar Al Qur-an. Setelah itu beliau belajar di beberapa Hauzah Ilmiah, mempelajari ratusan kitab, dan bahkan ikut pergi ke Kota Najaf di Irak sebagai bagian dari pembelajarannya bersama Hauzah Ilmiah Najaf. Puncaknya, beliau belajar di Hauzah Ilmiah Qom pada saat berusia 19 tahun. Di situlah Khamenei bertemu para guru besar, di antaranya Almarhum Ayatullah Al Udzma Boroujerdi, Syeikh Murtadha Hairi Yazdi, Allamah Taba’tabai, dan Imam Khomeini.
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang
- Mursyid Shiddiqiyyah Indonesia Pimpin Taubat Bersama Ala Tashawwuf
- Work From Future: Jawaban OPSHID Atas Job From Future
- Shiddiqiyyah Bangun Ratusan Rumah Gratis Menjelang Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Sambut Tahun Baru 1448 Hijriyyah, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Makna Organisasi Wali Songo
- Beras Uwi: Keseriusan Membangun Sistem dari Budidaya hingga Badan Usaha
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?