ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
14 April 2026 09:00

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, serta keanekaragaman bahasa dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Rum: 22)
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS. Al-Hujurat: 13)
Tulisan ini merupakan kesimpulan dari wawancara yang saya lakukan dengan beberapa orang Eropa yang mengunjungi Yogyakarta. Pokok pembicaraan dalam wawancara berkisar pada pemahaman lintas budaya serta keanekaragaman kebudayaan umat manusia.
Terdapat banyak perbedaan kebudayaan antara orang Indonesia secara umum, dan Yogyakarta pada khususnya, dengan orang dari negara-negara Eropa. Beberapa orang Eropa mengungkapkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki sifat yang jauh lebih ramah, terbuka, dekat satu sama lain, serta ringan tangan. Dari sana mereka juga memandang bahwa masyarakat Indonesia lebih luwes, tenang, dan bahagia dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Kenyataan tersebut berkebalikan dengan kebudayaan di negeri asal mereka. Dalam keseharian, masyarakat mereka hidup sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing, bersikap saling acuh tak acuh, dan mengabaikan satu sama lain. Pola hubungan semacam ini juga diakui sebagai sesuatu yang kurang sehat, karena memungkinkan timbulnya prasangka antara satu orang dengan yang lain.
Karenanya, disampaikan pula bahwa cukup mengagumkan adanya kenyataan di Indonesia, bahwa setiap orang memerhatikan orang lain. Lebih jauh lagi, pengakuan yang menurut saya lebih tinggi dan dalam maknanya, dinyatakan bahwa orang Yogyakarta memperlakukan sesama secara lebih manusiawi.
Selanjutnya, mereka mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari kebudayaan masyarakat Indonesia. Orang Indonesia dipandang memiliki cara hidup yang lebih baik, karena orang Eropa secara umum mempunyai pola hidup yang penuh dengan ketegangan dan ketergesa-gesaan, dengan selalu berpikir tentang karier dan uang, yang diakui tidak baik bagi tubuh, bagi kesehatan.
Diakui pula bahwa keterbukaan serta sifat kekeluargaan yang dimiliki masyarakat Indonesia lebih memberikan kenyamanan dan kehangatan. Salah seorang dari mereka bahkan menyatakan niatnya untuk membawa pelajaran yang ia dapatkan dari kebudayaan masyarakat Yogyakarta untuk diterapkan di tempat asalnya, serta berharap orang yang ia jumpai di sana juga dapat mengambil pelajaran darinya.
Keanekaragaman kebudayaan umat manusia dapat menjadi pintu masuk upaya pemahaman latar belakang yang mendasari perbuatan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah masyarakat. Bukan sebaliknya, menjadi alasan untuk menyalahkan cara yang ditempuh oleh orang atau masyarakat lain, dan menuntut untuk melakukannya dengan cara kita, yang kita anggap paling benar; sudut pandang kita tidak selalu menjadi yang paling tepat. Karena ada banyak jalan/pendekatan dalam kehidupan ini, yang menjadikan dunia ini indah dengan keanekaragamannya.
Sangat penting bagi setiap kebudayaan untuk dapat mempertahankan keberadaannya, menjaga agar unsur-unsur kebudayaan masing-masing tidak hilang. Akan ada peningkatan mutu kehidupan ke arah yang lebih baik ketika masing-masing kebudayaan saling menghormati dan tidak merendahkan yang lain hanya karena adanya ketidaksesuaian dengan kebudayaannya sendiri. Tentu dalam pelaksanaannya memerlukan komunikasi secara seimbang dan saksama. Akan indah ketika semua kebudayaan dapat hidup sesuai dengan sejarahnya masing-masing, serta berdampingan satu sama lain.
Lebih lanjut, masing-masing kebudayaan tersebut dapat saling belajar satu sama lain, karena ada banyak hal yang dapat dipelajari dari kebudayaan-kebudayaan yang berbeda.
Penulis: Imam Nursaid Dwi Haryanto dari Yogyakarta
------
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Warga Ploso Jombang, Lestarikan Fakta Kelahiran Bung Karno!
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa