Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah

01 Agustus 2026 17:00

Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah

Bagi banyak keluarga, rumah yang layak huni merupakan kebutuhan sekaligus harapan. Rumah bukan sekadar tempat berteduh, tetapi juga tempat membangun kehidupan yang aman dan nyaman. Harapan itu telah lama dimiliki Ahmad. Namun, hingga usianya menginjak 70 tahun, ia belum pernah merasakan tinggal di rumah yang layak. Kesempatannya memperoleh bantuan rumah juga disebut telah empat kali gagal. Data diri dan kondisi rumahnya diduga dimanfaatkan oleh oknum untuk pengajuan bantuan atas nama pihak lain.

Ahmad memiliki 4 orang anak yang seluruhnya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Dan kini, ia tinggal bersama anak bungsunya, menantu, dan dua cucunya di Desa Brongkal, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang.

Meski kondisinya tak lagi setegap dulu, Ahmad masih bekerja sebagai pengumpul barang bekas. Hampir setiap hari, ia menyusuri jalanan untuk mengumpulkan barang-barang yang masih memiliki nilai jual. Sementara itu, menantunya bekerja sebagai buruh serabutan. Dengan pendapatan yang terbatas, dan hanya cukup untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, menjadikan perbaikan rumah yang mereka tempati terus tertunda.

Ahmad: Empat Kali Dikecewakan Oknum, Terobati dengan Rumah Syukur Shiddiqiyyah
Rumah Ahmad tampak samping

Rumah kaluarga Ahmad jauh dari kata layak. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang telah lapuk dimakan usia, sementara lantainya masih berupa tanah. Saat musim hujan, rumah menjadi lembap, sedangkan ketika angin bertiup kencang, bangunan itu tak lagi memberikan rasa aman.

Di tengah keterbatasan tersebut, Ahmad mengaku beberapa kali sempat menaruh harapan ketika ada pihak yang datang melakukan pendataan calon penerima bantuan rumah. Ia diminta menyerahkan data diri dan mengizinkan rumahnya didokumentasikan sebagai bagian dari proses survei. Namun, harapan itu selalu berakhir dengan kekecewaan karena bantuan yang dijanjikan tidak pernah sampai kepadanya.

Medy, tim Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS), mengatakan hasil survei yang dilakukan menunjukkan Ahmad telah empat kali mengikuti proses pendataan bantuan rumah. Berdasarkan informasi yang diperoleh tim, data diri dan dokumentasi rumah Ahmad diduga dimanfaatkan dalam pengajuan bantuan bagi penerima lain.

"Dari informasi yang kami peroleh saat survei, Pak Ahmad sudah empat kali dimintai data untuk bantuan rumah. Ada yang mengatasnamakan Muslimat, Koramil, PKH, hingga bantuan dari perorangan. Namun, rumah yang dibangun bukan rumah Pak Ahmad, melainkan rumah orang lain," ujar Medy.

Pengalaman tersebut membuat Ahmad bersikap skeptis setiap kali ada orang yang datang menawarkan bantuan. Ketika tim Rumah Syukur mendatangi kediamannyauntuk melakukan survei, Ahmad sempat menolak.

"Saat tim awal datang, beliau merespons dengan emosional. Beliau mengatakan ingin membangun rumahnya sendiri," tutur Medy.
"Nggak, omahku mau tak bangun sendiri," ucap Ahmad kala itu.

Selain karena pengalaman sebelumnya, Ahmad juga khawatir bantuan yang diberikan nantinya tidak benar-benar gratis. Ia takut suatu saat akan diminta membayar biaya yang tidak sanggup dipenuhinya.

Untuk menghilangkan keraguan itu, Medy bersama tim DHIBRA terus memberikan penjelasan bahwa Rumah Syukur merupakan program kemanusiaan yang digagas oleh Thoriqoh Shiddiqiyyah dan tidak memungut biaya sama sekali dari penerima manfaat. Tim juga menjelaskan bahwa rumah Ahmad akan dibongkar total dan dibangun kembali hingga siap huni.

"Kalau nanti ada orang datang meminta uang setelah rumah selesai dibangun, sampean kasih nomor saya," kata Medy untuk meyakinkan Ahmad.
Keraguan Ahmad mulai sirna ketika truk pengangkut material bangunan tiba di depan rumahnya sebelum peletakan batu syukur pertama kali pada 22 Juni 2026. Material bangunan yang diturunkan di halaman rumah menjadi titik balik setelah empat kali proses pendataan yang tidak pernah berujung pada pembangunan. Untuk pertama kalinya, Ahmad menyaksikan rumah yang selama ini hanya menjadi harapan mulai dibangun.

Pada 22 Juni 2026, peletakan batu pertama Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah (RSKILHS) dilaksanakan secara serentak 135 lokasi berbeda. Di kediaman Ahmad, prosesi tersebut langsung dilanjutkan dengan pengecoran lantai sebagai tanda dimulainya pekerjaan konstruksi utama. Dan hanya dalam 23 hari, rumah telah rampung sepenuhnya.

Empat Kali Didata Tanpa Hasil, Ahmad Kini Miliki Rumah Syukur Shiddiqiyyah
Ahmad dan putrinya di depan Rumah Syukur dari Shiddiqiyyah untuk mereka.

Kini, rumah Ahmad berdiri kokoh dengan dinding bata, lantai keramik, dua kamar tidur, ruang tamu, mushola, dapur, kamar mandi, serta fasilitas air bersih dan sanitasi yang memadai. Ahmad dan keluarganya tak lagi harus tinggal di rumah bambu berlantai tanah yang selama puluhan tahun menjadi tempat mereka berteduh. Kedua cucunya pun kini memiliki lingkungan yang lebih aman dan sehat untuk tumbuh dan belajar.

Saat ditanya mengenai perasaannya setelah menempati Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah, Ahmad hanya mampu mengungkapkan rasa bahagianya, "Bungah, matur nuwun nerima Rumah Syukur (Sangat senang, terima kasih telah menerima Rumah Syukur ini)", ungkapnya.

Rumah Ahmad merupakan satu dari 135 Rumah Syukur yang dibangun tahun ini sebagai wujud rasa syukur atas Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-81. Program tersebut dikoordinasi oleh organisasi Dhilaal Berkat Rochmat Alloh (DHIBRA) Shiddiqiyyah, salah satu organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah yang secara khusus bergerak dalam penyampaian hak-hak kaum dhuafa melalui santunan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat yang membutuhkan. (OPSHID Media)

Penulis:

Editor: Nuraida