Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Hariyanti: Pembersih Kolam di Palembang Berhasil Antar Anak Jadi Sarjana

03 November 2025 15:00

Hariyanti: Pembersih Kolam di Palembang Berhasil Antar Anak Jadi Sarjana

Menjalani rumah tangga yang tak kunjung bahagia, Hariyanti kerap menghadapi tekanan dan perlakuan yang tak semestinya dari suami. Ia akhirnya memilih berpisah, demi ketenangan dan keselamatan dirinya bersama buah hatinya. Sejak saat itu, Hariyanti memegang peran ganda—menjadi ibu sekaligus ayah. Ia mencurahkan seluruh tenaganya pada satu tujuan yakni kesuksesan masa depan anak-anaknya.

Hariyanti (54) seorang janda yang hidup bersama kedua anaknya, Rizki Fadhillah (26) dan Ulya Afifah (19) di Jl. Perikanan 4, Talang Aman, Kemuning, Kota Palembang. Sedari kecil, keduanya tumbuh tanpa sosok ayah. Keputusan untuk berpisah bukanlah hal mudah bagi Hariyanti—ia menanggung luka dari orang yang justru paling ia percayai.

Faktor utama berpisah sebab terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga yang dialami Hariyanti yang bermula dari hadirnya wanita lain; istri rekan kerja suaminya di tempat pengobatan tradisional. Wanita itu dianggap lebih mampu menyenangkan laki-laki, hingga suaminya sering membanding-bandingkan Hariyanti dengan perempuan tersebut, bahkan mulai berlaku kasar.

“Suami saya kenal sama banyak wanita jadi membandingkan saya dengan wanita istri rekan kerjanya itu yang dari wanita penghibur. Pulang jam 12 malam, selalu cerita membanggakan wanita itu yang dibilang bisa lebih nyenengin laki-laki. Terus mulai yang bergerak tangannya, nampar saya.”

Bertahun-tahun ia mencoba bertahan, berharap keadaan membaik. Ia juga selalu mempertanyakan di mana letak kesalahannya, padahal telah berusaha sebaik mungkin menjadi istri dan ibu yang bertanggung jawab. Dari perlakuan kasar yang terus berulang, Hariyanti memikul beban batinnya seorang diri. Bahkan anaknya pun ikut merasakan suasana tegang yang terjadi di rumah.

“Sebagai ibu rumah tangga apa salahku, rumah sudah ku urusi, pemberian gaji kami pergunakan dengan baik, masih dibilang tidak bisa nyenengkan laki-laki itu gimana. Selama ini ya kita pendem sendiri, malu sama orang tua saya, kita masih tutup-tutupi, karena sudah tau semua yasudalah tidak bisa diperbaiki lagi, udah jadi kebiasaan dia. Juga kasian sama anak, kalo kita di rumah berantem terus jadi mikir kan? Pulang sekolah sampe rumah liat orang tuanya berantem jadi dia keluar lagi.”

Sebagai orang tua tunggal, Hariyanti harus mencari nafkah untuk menanggung seluruh kebutuhan hidup bersama anaknya. Setiap pagi, ia mendayung perahu menyusuri kolam penampungan air (retensi) di seberang rumahnya, dengan mengenakan baju pelampung, membawa serok sampah, dan topi payung untuk melindungi diri dari terik matahari. Mengumpulkan sampah dan membersihkan gulma di sekitar kolam hingga sore hari.

20251026_113323_0000.jpg (446 KB)
Potret Hariyanti Ketika Bekerja

Selama 17 tahun, ia menggantungkan hidupnya sebagai petugas pembersih kolam retensi. Bahkan saat pertama kali bekerja, Hariyanti hanya menerima upah Rp35.000/hari, dan baru beberapa tahun terakhir penghasilannya meningkat menjadi Rp100.000/hari. Sebagai pekerja harian lepas di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang, gajinya dibayar mingguan, namun kerap tertunda hingga dua atau tiga minggu—bergantung pada cairnya anggaran.

Bertahan dengan penghasilan seadanya sambil membesarkan anak, tentu begitu melelahkan. Namun Hariyanti terus menguatkan dirinya, sebab ada tanggung jawab besar yang harus diperjuangkan. “Ya capeklah, tapi ya kuat sajalah. Apalagi harus kerja kan, ngurus sekolah anak, buat makan juga. Cari kerjaan kan sulit. Ya..alchamdulillah, saya masih bisa dapat penghasilan untuk menyekolahkan anak dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kadang pinjam kanan kiri sama tetangga juga.”

Penulis: Jauharotun Naaja

Editor: Nuraida