ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Hariyanti: Pembersih Kolam di Palembang Berhasil Antar Anak Jadi Sarjana
03 November 2025 15:00
Seluruh tenaga dan waktu Hariyanti tercurah untuk kedua anaknya. Dalam keterbatasan ekonomi, ia tak pernah berhenti berjuang agar pendidikan mereka tetap berlanjut, bahkan hingga ke perguruan tinggi, demi membuka peluang dan masa depan yang lebih cerah bagi buah hatinya. “Harapan ibu, mereka bisa sekolah tinggi, masa depannya lebih cerah daripada ibu, dan bisa menghidupi diri sendiri dengan baik.”
Anak pertamanya telah lulus kuliah dan tengah menjalani praktik kerja, sementara sang adik masih menempuh pendidikan S1. Hampir seluruh penghasilan Hariyanti disisihkan untuk biaya pendidikan, hingga mereka rela hidup pas-passan. “Sudah dibilangi, kalau mau sekolah, kita hidup sederhana ya, karena uangnya untuk biaya kuliah,” ujarnya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, anak-anak bisa nerima itu.”
Kesederhanaan itu benar-benar mereka jalani. Uang yang tersisa kerap menipis, bahkan untuk makan sehari-hari. “Kalau udah nggak ada uang buat makan, ya kita makan nasi goreng aja. Ini Ibu udah nggak ada uang lagi, kita masak nasi goreng aja ya, Nak? ‘Iya, Ibu,’” ujar Hariyanti kepada anaknya saat tidak ada uang lebih untuk membeli makan.
Hariyanti terpaksa mengesampingkan kelayakan rumahnya, tempat ia seharusnya bisa beristirahat dengan nyaman setelah lelah bekerja. Rumah yang ia tinggali perlahan lapuk dimakan waktu. Tak pernah tersentuh perbaikan sejak dibangun bersama suaminya dulu, ia hanya bisa merawat sebisanya.
“Pernah sih ganti seng satu kali aja. Ya cuma bisa itu yang diperbaiki, ya gimana uangnya nggak ada.”
Seringkali saat hujan turun atap yang hanya dari seng itu bocor, menembus celah-celah plafon dari triplek yang rapuh. Tak kuat lagi menopang, beberapa triplek sampai ambruk. Membuat Hariyanti kelabakan, menadah air di sana-sini dengan ember dan terpal seadanya.
Dinding rumah itu hanya tersusun dari kayu, sementara bagian dalamnya disekat oleh triplek. Barang-barang tampak berjejal di sudut-sudut sempit, tanpa urutan, tanpa sempat dibenahi. Menurut Wahyudi, tim survei Rumah Syukur Palembang, dari luar pun rumah Hariyanti nyaris tak terlihat—bagian depannya tertutup rimbun pepohonan yang tumbuh liar di halamannya.
Letaknya yang tepat di seberang kolam retensi tempat ia bekerja pun membuat rumahnya terendam saat air meluap. “Kebanjiran ya naik sampai ke dalam rumah. Jadi harus angkat barang-barang, disusun di atas meja,” tutur Hariyanti menceritakan setiap kali banjir datang.
Walaupun berniat memperbaiki rumah, namun Hariyanti dengan tabahnya memilih untuk menunda keinginan itu. “Sekarang yang penting anak bisa sekolah dulu. Kalau sudah selesai sekolah, ada rezeki, barulah kita pikir buat perbaiki rumah”.
Hingga akhirnya, apa yang dinantikan Hariyanti benar-benar terwujudkan. Rezeki dari Alloh hadir melebihi dari yang ia bayangkan — sebuah rumah yang dibangun gratis oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) bernama Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina.
“Perasaannya seneng bahagia. Alchamdulillah sekarang udah ada yang memperbaiki duluan. Penuh lagi dibangunnya ya full”, ujarnya berbinar.
Ia tak menyangka, bisa dibangunkan rumah secara totalitas dari OPSHID tanpa dipungut biaya. Begitu gembira Hariyanti, ia juga bercerita saat pertama didatangi dulur-dulur OPSHID. “Awalnya ditanya, keberatan nggak bu rumahnya dibangun? Alchamdulillah nggak keberatan. Kaget ya, dibilang mau dibongkarkan. Apa ini bener ya? Apa ini mimpi?”
Rupanya di sekitar rumah Hariyanti sudah ada Rumah Syukur yang dibangun dalam rangka Sumpah Pemuda ke-96 lalu. Saat itu, Hariyanti hanya berangan-angan kapan tiba saatnya ada yang membangunkan rumahnya juga. Dan hal itu pula yang membuatnya percaya langsung kepada OPSHID untuk bersedia dibangunkan, bahwa program rumah ini memang fakta adanya.
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem