Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas

24 Agustus 2026 07:00

Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas

Ada kalanya perjalanan seorang murid tidak dapat diukur hanya dari berapa banyak kitab yang telah dikhatamkan. Ada ilmu yang melekat karena terus diajarkan, ada ilmu yang tumbuh karena keteladanan, dan ada keberkahan yang diyakini lahir dari khidmah serta ridlo seorang guru.

Inilah salah satu jejak perjalanan Syekh Muchammad Mukhtar Al Mujtabaa Mu’thi, yang kemudian dikenal luas sebagai Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Di tempat inilah Syekh Mukhtar bertemu dengan salah seorang guru yang sangat membekas dalam perjalanan hidupnya, yaitu KH. Abdul Hamid Chasbullah. Beliau merupakan salah satu Pengasuh utama Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan merupakan putra kandung dari KH. Hasbullah Said dan Nyai Lathifah. Hubungan keduanya bukan semata hubungan antara pengajar dan pelajar. Dari kisah yang dituturkan Syekh Mukhtar, tampak sebuah hubungan yang dibangun melalui ilmu, khidmah, kedekatan, penghormatan, dan amalan yang kemudian terus dibawa dalam perjalanan hidupnya.

Pada sekitar tahun 1944, Syekh Mukhtar remaja di usia 16 tahunan pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Rejoso. Barulah kemudian perjalanan menuntut ilmunya berlanjut ke Bahrul Ulum Tambakberas. Di bawah bimbingan KH Abdul Hamid Chasbullah, Syekh Mukhtar mempelajari sejumlah ilmu di pesantren. Di antaranya Taqrib, Nahwu, Sharaf, serta Tafsir Jalalain.

Namun bagi Syekh Mukhtar, belajar kepada Kyai Hamid tidak berhenti pada kitab yang dibaca dan diterangkan. Ada pengalaman lain yang justru sangat membekas: menyimak bacaan Al Qur-an gurunya secara langsung.

Syekh Mukhtar menuturkan bahwa setiap sore setelah Ashar beliau mendapat tugas untuk menyimak bacaan atau juga disebut nderes Al Qur-an Kyai Hamid. Dari kebiasaan itu beliau merasa mendapatkan ilmu secara langsung dari gurunya. Pengajian Tafsir Jalalain juga dilakukan pada waktu setelah Ashar tersebut.

Waktu Ashar sendiri mempunyai makna khusus dalam pandangan Kyai Hamid. Surah Al 'Ashr menjadi perhatian karena mengandung pesan tentang waktu, amal saleh, kebenaran dan kesabaran.

Pesan tersebut kelak memiliki resonansi dalam ajaran Kyai Mukhtar kepada para santri Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia yaitu: hargailah waktu.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.