Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak

12 Agustus 2026 19:12

Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak

Surabaya - Tidak semua orang dapat memilih kehidupan yang diinginkan. Keterbatasan membuat sebagian orang harus menerima keadaan, bertahan, dan menjalani hidup dengan apa yang dimiliki.

Di Kec. Jambangan, Surabaya, ada sebuah rumah yang ditempati oleh Riyandoko (54) bersama kakaknya, Mukadi (60). Riyandoko merupakan anak terakhir dari 6 bersaudara. Sejak mengalami kecelakaan ketika ia berusia 19 tahun, kaki kirinya mengalami kecacatan yang membuat geraknya terbatas. Kecelakaan tersebut terjadi akibat tertabrak kereta. Kondisi fisiknya turut membatasi kemampuannya untuk bekerja. Dalam kesehariannya, ia berjalan dengan bantuan tongkat.

“Jatuh dari kereta itu waktu umur 19 tahun, saat masih kerja di pabrik. Waktu libur kerja 10 hari, saya diajak teman gandol sepur. Saya sebenarnya nggak berani. Kata teman saya, nanti keretanya berhenti. Ternyata keretanya datang, saya nggak kelihatan. Tahu-tahu sudah di Rumah Sakit Dr. Soetomo, Karang Menjangan”, ujar Riyandoko mengingat peristiwa yang dialaminya.

Sebelum kecelakaan, Riyandoko bekerja di sebuah pabrik. Musibah itu membuatnya sempat menganggur karena kesulitan untuk kembali bekerja. Hingga kini, ia mengandalkan penghasilan dari usaha kecil-kecilan yang dijalankan dari rumah.

“Pasca kecelakaan ya sulit, mau kerja apa. Awalnya sudah biasa saja, tapi lama-lama berpikir, kerja apa ini. Terus solusinya dikasih modal sama teman sekitar 100 ribu, tahun 1998-an. Alchamdulillah bisa jual kecil-kecilan. Jualnya menetap di rumah,” cerita Riyandoko tentang awal mula dirinya membuka usaha.

Sejak itu, Riyandoko bertahan dengan menjual berbagai kebutuhan sehari-hari dari rumah. Dagangannya berupa kebutuhan rumahan seperti obat-obatan, sabun, dan juga menyediakan pulsa.

“Jualannya ada obat, sabun, kebutuhan sehari-hari, pokoknya barang yang tidak basi. Sama ada pulsa. Sekarang agak berkurang karena umumnya sudah ada paket internet, penghasilan pulsa sudah berkurang, tidak seperti dulu,” jelasnya.

Dari usaha kecil tersebut, Riyandoko memenuhi kebutuhan untuk dirinya dan kakaknya. “Saya mengandalkan ini saja. Kalau nilainya nggak ngerti saya, lakunya tidak bisa ditarget. Kadang sehari tidak ada yang beli sama sekali. Bukan ngersulo, memang kenyataannya begitu,” ungkap Riyandoko mengenai penghasilan dari dagangan yang tidak menentu.

Meski penghasilannya tidak menentu, Riyandoko bersyukur karena selama ini tidak memiliki utang. Kehidupan sehari-hari dijalaninya dengan sederhana, menyesuaikan apa yang ada. Ketika dagangan tidak menghasilkan, kebutuhan makan terkadang terbantu dari perhatian tetangga.

“Alhamdulillah selama ini tidak punya utang. Cuma ya itu tadi, nggak bisa hidup mewah. Kalau diperinci kehidupan sehari berapa, saya nggak tahu. Kadang tiga sampai empat hari nggak ada yang beli. Soal makan, kadang tetangga ada yang ngasih lauk atau gorengan buat makan. Pokoknya nggak minta-minta, dikasih ya diterima. Sekali-kali ada rezeki dari tetangga,” tuturnya.

Di tengah kehidupan yang serba terbatas, Riyandoko juga menjalani hidup tanpa pasangan. Ketika ditanya mengenai keinginan untuk mencari pekerjaan lain, ia mengaku tidak memiliki keterampilan yang menurutnya dapat diandalkan selain berjualan. Dengan kondisi fisiknya, pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan pun semakin terbatas.

Tentang pernikahan, Riyandoko juga tidak banyak mempersoalkannya. Baginya, selama masih bisa membeli beras dan memenuhi kebutuhan makan, kehidupan tetap dapat dijalani sambil mencari rezeki dari pekerjaan kecil yang mampu dilakukannya.

Bagi Riyandoko, keyakinan kepada Alloh menjadi penyemangat untuk terus menjalani hari. Ia tidak menganggap keadaan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Selama masih mampu, ia akan menerima berapa pun rezeki yang diperoleh.

“Penyemangat ya Gusti Alloh, beribadah. Kalau rezekinya sudah nggak tahu, bisa dikasih rezeki dari Allah lewat orang lain. Fokus di situ saja. Bukan putus asa, cuma kalau sekarang kerja apa, nggak ada solusinya, ya jualan sedapat-dapatnya,” ujarnya.

Penulis:

Editor: Nuraida