ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
22 September 2026 15:00
Jombang — Dalam menyambut momentum Tasyakuran Sumpah Pemuda dan Hari Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98, ada semangat yang terasa berbeda di dalam sebuah gang sempit di Dusun Turi, Desa Puri Semanding, pada Senin pagi, 21 September 2026.
Para murid-murid Madrasah Linailil Maqooshidil Qur-aanil Mubiin, atau umumnya juga disebut Maqooshidul Qur-aan (MQ), berkumpul dan bersiap untuk melaksanakan amanat pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina, yang merupakan bagian dari program Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME).

Pukul 10.00 WIB, Peletakan Batu Syukur Pertama telah terlaksana. Rangkaian Seremonial ini dihadiri oleh perwakilan dari perangkat desa Puri Semanding, perwakilan pembina MQ, perwakilan Wali Talqin Shiddiqiyyah sekaligus wali murid MQ, perwakilan Pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Jombang OPSHID FKYME, perwakilan Jam'iyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) Pusat, serta murid-murid MQ angkatan 12 dan 13.
Rumah tersebut dibangun untuk keluarga Ibu Masripah (63), yang kedua putrinya, yakni kakak beradik, Sita Jannatul Munawaroh (24) dan Siti Zubaedah (22), merupakan murid MQ sekaligus bagian dari anggota OPSHID.
Selama kurang lebih dua tahun terakhir, murid-murid MQ telah konsisten mengambil bagian dalam pembangunan Rumah Syukur. Dari tahun ke tahun, mereka belajar menerjemahkan rasa syukur menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan,menjadi fakta bicara melalui pengamalan yang nyata.
Penanggung Jawab pembangunan, Saifu Umar Ahmadi, menjelaskan bahwa gagasan pembangunan Rumah Syukur tahun ini bermula dari forum pertemuan OPSHID se-Indonesia Raya pada 12 September 2026 lalu. Dalam forum tersebut dibahas berbagai program, termasuk pembangunan Rumah Syukur. Setelah mengetahui adanya kesempatan untuk berpartisipasi, MQ memutuskan untuk mengambil kesanggupan dengan membangun satu unit Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina.
Setelah adanya keputusan ini, murid-murid melakukan pendataan dan survei. Setelah melihat kondisi masing-masing, dilakukan pertimbangan mengenai siapa yang paling membutuhkan. Hingga akhirnya, pilihan jatuh kepada keluarga Bu Masripah.
“Kami memutuskan untuk membangun dan karena ini juga saudara kami, kami mengutamakan membangun dari saudara kami dulu,” ujar Saifu.
Keluarga Bu Masripah sebetulnya bukan keluarga yang sepenuhnya tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Melainkan perjalanan hidup keluarga tersebut dan kondisi rumah yang ditempati inilah yang menjadi perhatian bagi murid MQ.
Bu Masripah memiliki empat anak. Dua anak laki-laki berasal dari pernikahan pertama, sedangkan dua anak perempuan, Sita dan Zubaedah, berasal dari pernikahan berikutnya.
Suaminya telah meninggal dunia sejak lama, sejak anak-anaknya masih kecil. Sehingga Bu Masripah menjalani kehidupan dengan berjuang sendiri memenuhi kebutuhan keluarga. Ia pernah merantau ke Surabaya, Gresik, Grobogan, bahkan pernah pergi ke luar pulau selama berbulan-bulan untuk mencari penghidupan.
Ia pernah berjualan nasi, pernah bekerja serabutan, apa pun yang dapat ia kerjakan, akan dilakukan untuk menghidupi keluarga.
Di sisi lain, rumah yang ditempati keluarga tersebut juga memiliki persoalan tersendiri. Beberapa bagian bangunan masih menggunakan konstruksi lama yang dinilai kurang kokoh dengan ukuran bangunan yang terbilang sempit. Rumah tersebut bahkan pernah dibobol hingga terjadi insiden penusukan. Oleh karena itu, ketika beberapa murid MQ ini melakukan survei, yang mereka lihat bukan sekadar kondisi ekonomi keluarga, melainkan adanya kebutuhan akan tempat tinggal yang lebih nyaman dan aman.

Bagi Saifu, pembangunan Rumah Syukur yang kini sedang dilakukan oleh murid-murid MQ ini tidak dapat dipisahkan dari ilmu-ilmu yang telah mereka terima. Ada sebuah pesan dari Sang Maha Guru Besar MQ, Syekh Moch. Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu'thi, yang tetap mereka pegang dengan teguh, tentang Lima Perkara: “Mudamu perjuangkan sungguh-sungguh sebelum datengnya masa tuamu.”
Masa muda adalah waktu ketika tenaga masih kuat, langkah masih panjang, dan kesempatan untuk melakukan banyak hal masih terbuka lebar. Maka momentum Sumpah Pemuda tahun ini kemudian menjadi ruang bagi seluruh murid MQ untuk menghidupkan semangat tersebut.
Saifu juga menjelaskan, para murid diajarkan bahwa rasa syukur tidak cukup hanya disampaikan melalui ucapan. Syukur perlu diwujudkan dalam perbuatan yang dapat menghasilkan kemanfaatan.
“Kalau mensyukuri sesuatu itu harus ada fakta bicaranya. Tidak hanya mengucapkan syukur. Makanya kami terpicu untuk membangun rumah dan mungkin sambungannya itu sebaik-baiknya manusia itu adalah manusia yang bermanfaat. Kami diajarkan seperti itu.”
Jika para pemuda pada masa lalu mengikrarkan persatuan melalui Sumpah Pemuda, generasi muda hari ini memiliki kesempatan untuk mengisi persatuan tersebut dengan gerakan yang bermanfaat.
Keterlibatan murid MQ dalam pembangunan ini mencakup hampir seluruh proses. Mulai dari koordinasi, survei, pengelolaan keuangan, konsumsi, hingga tenaga pembangunan dilakukan oleh murid-murid MQ sendiri.
“Keterlibatannya murid MQ ini ya 100 persen. Ada bantuan dari kakak-kakak kami yang mengarahkan mungkin teknisnya yang lebih baik seperti ini. Cuman soal pengerjaan full di murid MQ,” ungkap Saifu.
Untuk pembongkaran bangunan lama, mereka telah menggunakan excavator. Selanjutnya, penggunaan alat berat lainnya akan disesuaikan dengan kondisi dan akses menuju lokasi.
Rumah yang dibangun di Puri Semanding ini memiliki ukuran 4,5 x 11 meter. Di dalamnya dirancang tiga kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dapur, serta taman di bagian depan. Desain dibuat memanjang agar keluarga memiliki ruang yang lebih leluasa ketika berkumpul.
Saifu berharap, ketika rumah ini selesai, kemanfaatan tidak berhenti pada keluarga Bu Masripah. Keluarga penerima juga diharapkan memiliki semangat yang sama untuk membantu keluarga lain yang membutuhkan.
“Jika hari ini mereka menjadi penerima. Suatu hari nanti, mereka diharapkan bisa menjadi pemberi manfaat,” ujar Saifu.
Semangat seperti itulah yang ingin terus dijaga oleh murid-murid Maqooshidul Qur-aan. Bahwa Mensyukuri Sumpah Pemuda bukan hanya tentang mengenang perjuangan pemuda di masa lalu. Tapi juga meneruskan perjuangan di dalam persatuan untuk mengisi kemerdekaan ini dengan kemanfaatan. (OPSHID Media)
- Realisasikan Ajaran Al Qur-an, Santri MQ Wujudkan Syukur Menjadi Aksi Bangun Rumah
- Setetes Bakti untuk Bangsa dan Negara: Rumah Baru dari Pemuda Shiddiqiyyah Sidoarjo
- Sambut Sumpah Pemuda ke-98, OPSHID Gotong Royong Bangun Rumah Syukur!
- Serah Terima Rumah Syukur Kemerdekaan Unit ke-136, OPSHID Bangun Dengan Desain Berbeda
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas