ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaArab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
· 4 menit baca · Diperbarui
Ada masyarakat yang berbagi bahasa dan sejarah tetapi hidup dalam negara berbeda. Indonesia menempuh jalan lain: membangun satu identitas kebangsaan di tengah keragaman yang sangat besar.
PETA DUNIA TIDAK SELALU MENGIKUTI BAHASA
Jika kesamaan bahasa, etnis, atau sejarah otomatis membuat sebuah bangsa menjadi satu negara, peta dunia mungkin akan terlihat sangat berbeda.
Di Jazirah Arab, banyak masyarakat berbagi bahasa Arab dan hubungan budaya yang panjang. Namun, kawasan tersebut terdiri atas negara-negara dengan pemerintahan, sejarah politik, dan kepentingan nasional masing-masing. Gambaran kawasan Jazirah Arab menunjukkan bahwa kedekatan budaya tidak sama dengan kesatuan politik.
Britania Raya juga memiliki cerita tersendiri. Negara itu terdiri atas Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Bahasa Inggris digunakan secara luas, tetapi identitas historis dan politik masing-masing bagian tetap penting. Keterangan Office for National Statistics juga menegaskan bahwa Republik Irlandia adalah negara yang berbeda dari Britania Raya.
Di Asia Tengah, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgizstan, Tajikistan, dan Turkmenistan berdiri sebagai negara yang berbeda. Nama yang memiliki akhiran serupa tidak berarti bahasa, identitas, atau sejarah politik mereka identik.
Kesamaan dapat mendekatkan masyarakat. Namun, ia tidak otomatis menghapus batas negara.
KETIKA PERSATUAN POLITIK RUNTUH
Pengalaman Yugoslavia memperlihatkan persoalan yang lebih rumit.
Negara federasi itu pecah pada awal 1990-an di tengah krisis politik dan ekonomi, menguatnya nasionalisme, serta konflik antarkelompok. Catatan Office of the Historian, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menjelaskan bahwa perpecahan tersebut tidak dapat dipisahkan dari dinamika politik yang mengguncang federasi.
Bosnia-Herzegovina, yang muncul dari konflik berdarah dalam proses pembubaran Yugoslavia, tetap memiliki struktur konstitusional yang kompleks untuk mengelola kehidupan politik masyarakat multietnisnya. Konstitusi Bosnia-Herzegovina memperlihatkan betapa rumitnya membangun institusi bersama setelah konflik.
Korea memberi pelajaran lain.
Masyarakat Korea memiliki sejarah dan bahasa yang sama, tetapi semenanjung tersebut terbelah setelah Perang Dunia II. Ketegangan geopolitik kemudian berkembang menjadi perang pada 1950–1953. Catatan sejarah Perang Korea menjelaskan konteks pembelahan yang bertahan hingga sekarang.
Kesamaan etnis tidak mampu dengan sendirinya mengatasi persaingan ideologi, kekuasaan, dan geopolitik.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari