ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaBerkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
· 2 menit baca · Diperbarui
NGAWI – Setiap orang mempunyai keinginan untuk dapat hidup dalam rumah yang layak. Namun tidak semua dari mereka mampu mewujudkannya. Keterbatasan ekonomi kerap kali memaksa mimpi sederhana itu terkubur di bawah kerasnya tuntutan hidup sehari-hari. Potret kenyataan tersebut pernah begitu lekat pada pasangan lansia Mbah Saminem dan Mbah Suparmin, warga Desa Kandangan, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi.
Lima tahun silam, takdir berpihak pada mereka. Nama keduanya tercatat sebagai penerima anugerah Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS) yang diprakarsai oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) dalam momentum Tasyakkuran Hari Sumpah Pemuda ke-93 tahun 2021.
Mengenang masa lalu, peluh dan lelah menjadi santapan harian tanpa jeda. Demi mencukupi dapur dan menyekolahkan kedua buah hatinya—Anton Sai’in yang saat itu duduk di bangku kelas 3 SMK serta Erna Vidiana di kelas 2 SMP—Mbah Sam rela menyusuri jalanan mengumpulkan barang bekas sejak fajar hingga petang. Sementara sang suami, Mbah Min, membagi tenaga menggarap ladang warisan sekaligus menjadi buruh tani serabutan di lahan tetangga.
Sampai, kehadiran Rumah Syukur menjadi titik balik kehidupan mereka. Ketiadaan beban biaya untuk memikirkan renovasi tempat tinggal membuat energi dan rezeki mereka tercurah pada pemulihan ekonomi mandiri.
Foto Mbah Sam dan Mbah Min di depan kandang sapi dan kambing
Setahun pascapenyerahan kunci, teras rumah mereka lengkapi dengan kanopi peneduh. Sang putra sulung, Anton, yang kini berusia 26 tahun dan telah bekerja, menghadiahkan dua ekor kambing. Hewan ternak itu berkembang biak menjadi sumber rezeki baru.
Dari rezeki warisan yang disusulkan, mereka juga mampu menambah dua ekor sapi. Mbah Sam pun kini tak lagi diforsir mencari rongsok; waktunya banyak dialihkan mencari rumput dan merawat ternak di pekarangan.
Kemandirian kian tampak saat Mbah Min menyisihkan upah buruh taninya untuk memperluas bangunan belakang menjadi dapur serta ruang sisi barat dengan memanfaatkan kayu dari bangunan rumah lama yang masih bisa digunakan. Fasilitas air bersih berupa sumur pompa submersible pun berhasil terpasang secara swadaya menggantikan sumur lama yang mati.
Kebahagiaan mereka kian paripurna saat kediaman yang semakin luas tersebut sukses menjadi saksi digelarnya hajatan pernikahan sang putri, Erna (22 tahun) pada 04 Oktober 2026 lalu, lengkap dengan tradisi masak besar warga desa.
"Kehidupan kami saat ini jauh lebih baik dan tenang dibanding lima tahun lalu. Kami menghaturkan beribu terimakasih kepada warga Shiddiqyyah dan OPSHID," ungkap Mbah Suparmin.
Penulis: Umamah - OPSHID Media Ngawi
=========
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari