ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
28 April 2026 07:00
Kalau semua kretek pada akhirnya sama, kenapa ada orang yang rela menempuh jalan lebih jauh hanya untuk mendapatkan satu bungkus tertentu—dari kios yang tidak selalu ada, dari tangan orang yang baru pertama kali ditemui, di sudut kota yang tidak masuk peta distribusi manapun?
Pertanyaan itu bukan retorika. Ia muncul berulang di lapangan, dari cerita agen dan konsumen yang sulit dijelaskan dengan logika harga atau ketersediaan semata.
KEBIASAAN DULU, PILIHAN BELAKANGAN
Sebagian besar orang mulai merokok bukan karena keputusan yang matang. Ada yang mulai karena pergaulan, ada karena penasaran, ada yang tidak punya alasan cukup kuat untuk tidak mencoba. Rokok menjadi jeda di antara dua percakapan yang melelahkan, teman kerja di sudut kantin, pelarian yang paling mudah dijangkau.
Tidak ada yang perlu dihakimi dari situ.
Tapi di dalam kebiasaan yang sama, tidak semua orang berhenti di tempat yang sama. Sebagian berhenti di kebiasaan. Sebagian mulai memilih—bukan hanya soal rasa atau harga, tapi sesuatu yang lebih susah disebutkan: perasaan bahwa ada pilihan yang lebih bermartabat, meski sulit diverbalkan.
Di titik itulah merek mulai bekerja dengan cara yang berbeda dari sekadar distribusi.
DARI MANA ST DATANG
Sehat Tentrem lahir di Jombang pada 2013. Bukan dari riset pasar atau analisis kompetitor—tapi dari keresahan seorang pemuda yang melihat betapa mudahnya perekonomian lokal digoyang, dimonopoli, dan dilupakan oleh bangsanya sendiri.
Bahan baku utamanya tumbuh dari tanah Kabuh, Jombang—sekitar 1.900 hektar tanaman tembakau yang panennya menjadi tulang punggung mata pencaharian petani setempat. Tembakau lokal, cengkih, jinten, rempah-rempah—semuanya disuplai dari dalam negeri. Tidak ada formula impor. Tidak ada bahan kimia tambahan yang tidak perlu.
Racikan ini bukan klaim pemasaran. Ia adalah konsekuensi dari dari mana ST memilih berakar sejak hari pertama.
SOAL NAMA
Kata Sehat dalam nama ini adalah pemberian sang Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tentrem—nama yang diajukan sang pendiri—adalah kondisi yang dituju: ketenangan batin, tidak tergesa, tidak bergantung pada hal-hal yang sewaktu-waktu bisa diambil.
Dua kata yang tidak dipilih karena terdengar bagus di billboard. Keduanya membawa kondisi yang ingin diwujudkan—bukan sekadar dijual.
Bagi sebagian konsumen yang mengenal lebih dalam latar belakang ini, nama itu bukan sekadar identitas merek. Ia adalah konteks yang membuat setiap batang terasa berbeda dari yang lain—bukan karena sugesti, tapi karena ada sesuatu yang nyata di baliknya: sejarah, niat, dan komunitas yang tidak berpura-pura.
YANG TIDAK TERLIHAT DI KEMASAN
Sejak berdiri, ST menjalankan sejumlah program yang tidak lazim untuk ukuran perusahaan rokok seusianya.
Program Rumah Syukur telah menyentuh ribuan penerima manfaat—keluarga yang sebelumnya tidak memiliki tempat tinggal layak. Santunan rutin diberikan kepada 150 tukang becak di Jombang. Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan dijalankan untuk pekerja informal yang selama ini tidak masuk dalam sistem perlindungan apapun. ST hadir aktif di momen 17 Agustus dan 28 Oktober—bukan sebagai sponsor yang pasang logo, tapi sebagai bagian dari narasi yang sedang ditulis bersama.
Jaringan agennya kini tersebar di lebih dari 70 titik di seluruh Indonesia—sebagian besar bukan di kota besar, tapi di daerah-daerah yang justru menjadi tulang punggung konsumsi nyata. Dari ekosistem ini, dampaknya tidak terpusat: ia bergerak ke komunitas lokal, ke orang-orang yang dari penjualan ini bisa ikut menopang pembangunan di lingkungan sekitarnya.
Bagi yang sudah lama mengenal ekosistem ini, semua itu bukan program CSR dalam pengertian konvensional. Ia adalah konsekuensi wajar dari niat awal yang tidak pernah sekadar mencari margin.
YANG MEMBUAT ORANG KEMBALI
Setiap hari, di ribuan warung kecil yang tidak masuk radar distribusi besar manapun, ada orang yang menyalakan sebatang Sehat Tentrem.
Sebagian dari mereka tahu persis apa yang sedang mereka pegang—dari mana ia berasal, siapa yang menanam tembakaunya, ke mana sebagian dari uang pembelian itu mengalir.
Sebagian yang lain mungkin belum sampai ke sana. Mereka hanya tahu ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat mereka kembali, meski tidak selalu bisa mereka jelaskan dengan kata-kata yang cukup sederhana.
Di antara kedua kelompok itu, ada satu kesamaan: pilihan mereka bukan murni soal rasa.
Ada sesuatu yang lebih tua dari preferensi konsumen yang sedang bekerja di situ—sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan, dengan rasa memiliki, dengan keinginan untuk tidak sekadar mengonsumsi tapi menjadi bagian dari sesuatu yang arahnya jelas.
Itulah yang tidak bisa ditiru oleh kompetitor yang hanya meniru formula atau harga.
Dan itulah yang membuat pertanyaan di awal tadi—kenapa orang rela menempuh jalan sejauh itu untuk satu bungkus—memiliki jawaban yang lebih sederhana dari yang terlihat:
Karena mereka tidak sedang mencari rokok. Mereka sedang memilih di mana mereka berdiri.
Penulis: Rizki Hikmawan dari Surabaya
------
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon