Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari

· 3 menit baca

Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari

BOJONEGORO – Hanya dalam 16 hari, OPSHID Bojonegoro berhasil membangun dua unit rumah gratis. Bukan sekadar memperbaiki bangunan lama, keduanya dibangun dari awal, dengan pengerjaan dimulai pada 21 September dan memasuki tahap finishing pada 7 Oktober 2026.

OPSHID telah menjalankan program rumah gratis atau Rumah Syukur ini setiap tahun sejak 2010. Dan kini, pembangunan kembali dilakukan sebagai wujud syukur atas 98 tahun Sumpah Pemuda dan lahirnya lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang diperingati setiap 28 Oktober sebagai momentum kebangkitan nasional.

Seiring berjalannya program tersebut, OPSHID terus meningkatkan kualitas bangunan, kecepatan, dan manajemen pengerjaan Rumah Syukur. Satu di antaranya, terlihat di Bojonegoro ketika dua unit rumah berhasil dibangun hanya dalam 16 hari tanpa mengurangi standar kualitas bangunan.

Meski dikerjakan dalam waktu singkat, pembangunan tetap mengacu pada standar OPSHID, dengan pondasi yang kokoh, dinding bata yang kuat, hingga kelengkapan ruang tidur, kamar mandi, dan fasilitas pendukung lainnya.

Penanggung jawab lapangan OPSHID Bojonegoro, Shodiqul Aziz, menjelaskan bahwa percepatan pengerjaan dilakukan melalui persiapan yang matang sebelum pembangunan dimulai.

“Kami membangun dengan prinsip, kalau bisa cepat kenapa harus lambat. Jadi, kita persiapkan segala sesuatunya sebelum kita mulai, baik materi maupun yang lain-lain,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaannya, pengerjaan setiap rumah melibatkan lima tukang utama serta relawan OPSHID yang bertugas secara bergiliran berdasarkan wilayah kecamatan di Bojonegoro. Selain itu, warga setempat pun sering kali ikut membantu.

OPSHID menargetkan program Rumah Syukur ini bagi masyarakat yang belum memiliki hunian layak dan menghadapi keterbatasan ekonomi, sehingga kesulitan memperbaiki tempat tinggal mereka. Di Bojonegoro, dua penerima manfaat program ini adalah Kasmin (60 tahun) dan Sumani (56 tahun). Keduanya bekerja serabutan dengan penghasilan tidak menentu.

Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari
Rumah Kasmin dan Sumani sebelum dibangun ulang oleh OPSHID

Ikatan kekeluargaan antara Kasmin dan Sumani begitu erat. Istri mereka adalah kakak beradik yang selama puluhan tahun tinggal berdampingan di rumah berdinding papan kayu tanpa pernah direnovasi. Kasmin tinggal bersama lima anggota keluarga, sedangkan Sumani mendiami rumahnya bersama istri, anak, menantu, dan tiga cucunya.

Selain keterbatasan ekonomi, masalah kesehatan turut menguji kehidupan keluarga Sumani. Pengeroposan tulang membatasi ruang gerak Sumani hingga tak lagi mampu bekerja berat. Kondisi serupa sayangnya juga dialami oleh anaknya.

OPSHID menjadikan keadaan tersebut sebagai bagian dari pertimbangan dalam menentukan penerima Rumah Syukur. Perangkat desa setempat pun menilai hasil survei OPSHID sudah sesuai dengan kondisi warga yang membutuhkan hunian layak.

Untuk menyelesaikan dua unit rumah ini, OPSHID Bojonegoro menghabiskan dana sekitar Rp240 juta. Sumber pendanaan maupun tenaga pelaksana murni berasal dari gotong royong murid Thoriqoh Shiddiqiyyah serta anggota OPSHID sendiri, tanpa bergantung pada bantuan pihak luar.

Aksi sosial ini tak sekadar menghadirkan hunian yang layak, melainkan dibangun dengan penuh totalitas. Rasa haru pun tak mampu disembunyikan oleh Sumani saat menyaksikan rumah barunya berdiri kokoh.

Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari
Rumah Syukur keluarga Kasmin dan Sumami setelah dibangun OPSHID

"Saya nggak nyangka mbak kalau jadinya rumah saya sebagus ini, tolong disampaikan terima kasih saya kepada Syekh Mukhtar di Jombang." Ungkap Jami', istri Kasmin penerima rumah syukur Bojonegoro.

Melalui Program Rumah Syukur ini, Shodiqul Aziz berharap hadirnya hunian yang layak dapat meningkatkan kualitas hidup penerimanya, sehingga kehidupan keluarga Kasmin dan Sumani ke depan bisa menjadi jauh lebih baik.

Bagi OPSHID, upaya ini sekaligus menjadi wujud nyata pemaknaan kemerdekaan, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, termasuk hak setiap keluarga untuk memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera. (OPSHID Media)

Penulis:

Editor: Nuraida