ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaDari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
· 9 menit baca · Diperbarui
Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 bukan sekadar catatan sejarah tentang persatuan bangsa. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia merupakan pengingat bahwa Indonesia dibangun melalui kesadaran untuk melampaui perbedaan dan bergerak menuju cita-cita bersama.
Namun, nilai persatuan tidak cukup hanya dikenang melalui upacara, dibacakan dalam pidato, atau diperingati setiap tahun. Persatuan membutuhkan tindakan nyata agar tetap hidup di tengah masyarakat. Salah satu wujudnya dapat dilihat melalui pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah yang dilaksanakan oleh OPSHID FKYME.
Melalui program ini, semangat kebangsaan bertemu dengan kepedulian kemanusiaan. Rumah tidak sekadar dibangun sebagai tempat berlindung, tetapi juga menjadi ruang bagi tumbuhnya harapan, kebersamaan, dan kehidupan yang lebih layak.
DARI IKRAR PERSATUAN MENUJU TINDAKAN KEMANUSIAAN
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bergerak bersama. Semangat tersebut menemukan bentuk konkretnya ketika banyak orang bersedia menyatukan tenaga, waktu, dan kemampuan untuk membantu sesama.
Pembangunan Rumah Syukur memperlihatkan bagaimana persatuan dapat diwujudkan melalui gotong royong. Orang-orang dengan latar belakang dan kemampuan berbeda mengambil bagian dalam satu pekerjaan yang sama: membantu keluarga yang membutuhkan rumah layak huni.
Dalam program ini, persatuan tidak berhenti pada kesamaan identitas sebagai bangsa Indonesia. Persatuan hadir ketika seseorang bersedia mengulurkan tangan bagi orang lain, bahkan ketika mereka tidak memiliki hubungan keluarga atau kepentingan pribadi.
Di sinilah nilai Sumpah Pemuda memperoleh makna yang lebih luas. Satu tanah air bukan hanya wilayah yang ditempati bersama, tetapi juga ruang kehidupan yang menghadirkan tanggung jawab bersama. Satu bangsa bukan sekadar identitas, melainkan kesediaan untuk saling menjaga. Sementara itu, satu bahasa persatuan dapat dimaknai sebagai kesepahaman untuk mengutamakan kemanusiaan di tengah perbedaan.
- Dari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
- Sebelum Republik Berdiri, Indonesia Raya Sudah Menggema
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional