ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaDari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
· 9 menit baca · Diperbarui
DARI LAMPUNG HINGGA KALIMANTAN, KEPEDULIAN YANG TERUS BERGERAK
Berdasarkan data Sekretariat DPP OPSHID, sebanyak 58 dari total 59 penerima Rumah Syukur dalam program ini telah tercatat. Mereka tersebar di 50 kabupaten/kota pada 12 provinsi, dari Lampung hingga Kalimantan.
Jawa Timur tercatat sebagai wilayah dengan 27 unit, sedangkan Jawa Tengah sebanyak 13 unit. Di Jombang terdapat lima unit, Malang tiga unit, serta Bojonegoro dan Sleman masing-masing dua unit.
Di balik angka tersebut, terdapat kehidupan yang tidak selalu mudah. Para penerima berusia antara 20 hingga 74 tahun, dengan latar belakang pekerjaan seperti pekerja serabutan, buruh tani, buruh bangunan, hingga asisten rumah tangga.
Sebagian penerima merupakan perempuan yang menjadi penopang ekonomi keluarga setelah ditinggal suami. Ada pula keluarga yang selama bertahun-tahun tinggal di rumah dengan kondisi lapuk dan hampir roboh. Bahkan, terdapat rumah yang belum direnovasi sejak 1991.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan akan hunian layak bukan sekadar persoalan bangunan. Di dalamnya terdapat kebutuhan akan rasa aman, kenyamanan, dan kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Rumah Syukur berupaya menjawab kebutuhan itu melalui tindakan nyata. Di tengah perbedaan usia, pekerjaan, dan keadaan keluarga penerima, kepedulian menjadi titik temu yang menyatukan banyak orang.
GOTONG ROYONG SEBAGAI WUJUD NYATA PERSATUAN
Pembangunan Rumah Syukur dilakukan melalui rangkaian pekerjaan yang tidak sederhana. Prosesnya dimulai dari survei kondisi rumah, pembongkaran, pembangunan kembali, hingga pengadaan perlengkapan agar rumah siap dihuni.
Setiap tahapan membutuhkan tenaga, waktu, koordinasi, dan kebersamaan. Pekerjaan tidak hanya berlangsung ketika pembangunan dimulai, tetapi terus berjalan sampai rumah benar-benar siap ditempati.
Seluruh biaya pembangunan dan konsumsi selama pengerjaan ditanggung oleh OPSHID. Penerima tidak dibebani biaya untuk memperoleh rumah tersebut.
Cara kerja ini memperlihatkan bahwa gotong royong bukan hanya tentang berkumpul dan mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong juga berarti kesediaan untuk berbagi beban, menjaga keberlangsungan pekerjaan, dan memastikan bahwa tujuan bersama benar-benar tercapai.
Semangat tersebut memiliki hubungan erat dengan Sumpah Pemuda. Jika para pemuda pada 1928 menyatukan tekad untuk memperjuangkan identitas dan masa depan bangsa, maka generasi hari ini memiliki kesempatan untuk merawat persatuan melalui tindakan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Persatuan tidak harus selalu diwujudkan dalam peristiwa besar. Ia dapat tumbuh melalui pekerjaan yang tampak sederhana, seperti mengangkat material bangunan, memasang atap, menyiapkan makanan bagi para pekerja, atau membantu memastikan rumah seseorang menjadi layak dihuni.
- Dari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
- Sebelum Republik Berdiri, Indonesia Raya Sudah Menggema
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional