ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaDari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
· 9 menit baca · Diperbarui
BUKAN HANYA MEMBANGUN RUMAH, TETAPI MENYIAPKAN MASA DEPAN
Bagi OPSHID, pembangunan rumah gratis bukan semata-mata menyediakan tempat tinggal. Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia yang dapat memberikan dampak bagi kehidupan keluarga, termasuk generasi berikutnya.
“OPSHID memilih untuk membangun Indonesia dengan memberikan pembangunan rumah gratis bukan tanpa sebab. Rumah adalah salah satu kebutuhan dasar manusia, dan bisa diwariskan generasi ke generasi. Dengan memberikan rumah, harapan kami bisa memperbaiki kenyamanan hidup 1 keluarga, dan generasi selanjutnya, memutus rantai kemiskinan mereka,” jelas Mulyono, perwakilan DPP OPSHID.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembangunan Rumah Syukur membawa harapan yang melampaui selesainya pekerjaan fisik. Rumah yang layak dapat menjadi titik awal bagi keluarga untuk menjalani kehidupan dengan lebih aman dan nyaman.
Dalam konteks kebangsaan, kepedulian seperti ini turut memperkuat kehidupan bersama. Sebab, membangun Indonesia tidak hanya berarti membangun infrastruktur atau mengejar kemajuan secara material, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat yang membutuhkan tidak dibiarkan menghadapi kesulitannya sendirian.
Di sinilah pembangunan rumah bertemu dengan cita-cita persatuan. Ketika kepedulian diarahkan kepada sesama, hasilnya tidak hanya berupa bangunan, tetapi juga tumbuhnya rasa bahwa setiap orang merupakan bagian dari kehidupan bangsa yang sama.
HATI DAN AMAL: LANDASAN KEBAIKAN YANG BERKESINAMBUNGAN
Di balik pekerjaan yang terlihat secara fisik, terdapat nilai yang lebih mendasar, yaitu bagaimana manusia menjaga hati dan mewujudkan kebaikan melalui amal perbuatannya.
Sang Mursyid, Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu’thi, menjelaskan bahwa rupa, warna kulit, tinggi badan, kekayaan, kehormatan, maupun banyaknya pengikut bukanlah ukuran utama dalam penilaian Alloh Ta’ala terhadap manusia. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rosululloh tersebut, yang menjadi perhatian adalah hati dan amal perbuatan.
Karena itu, manusia hendaknya menggunakan waktu dan tenaganya untuk menjaga hati serta memperbaiki amal.
“Bagi orang yang betul-betul memperhatikan hadits tersebut, sepanjang hidupnya di dunia ini tidak perlu susah payah kalau bukan untuk dua tersebut, hati dan amal. Tidak perlu gembira kalau bukan untuk dua tersebut,” jelas Sang Mursyid.
Mukhtarulloh Al Mujtabaa Mu’thi juga menegaskan bahwa amal kebaikan terbaik di sisi Alloh SWT adalah kebaikan yang berkesinambungan dan lestari, bukan sekadar kemeriahan sesaat atau sak gebyaran.
Pesan tersebut memberikan sudut pandang yang mendalam untuk memahami pembangunan Rumah Syukur. Nilai sebuah kebaikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar kegiatan terlihat, seberapa ramai pelaksanaannya, atau seberapa cepat hasilnya dapat ditampilkan. Lebih dari itu, kebaikan memiliki makna ketika lahir dari hati yang tulus dan diwujudkan melalui amal yang terus dijalankan.
Pembangunan rumah menjadi salah satu bentuk nyata dari hubungan antara hati dan amal tersebut. Kepedulian yang tumbuh di dalam hati diterjemahkan menjadi pekerjaan: melakukan survei, mengumpulkan dukungan, membangun rumah, dan mendampingi prosesnya hingga selesai.
Dengan demikian, kebaikan tidak berhenti pada niat atau ucapan. Ia membutuhkan tindakan yang nyata, kesungguhan dalam menjalankan amanah, dan kemauan untuk terus bekerja meskipun menghadapi berbagai kendala.
- Dari Ikrar ke Tindakan: Semangat Sumpah Pemuda Mengalir dalam Pembangunan Rumah Syukur
- Sebelum Republik Berdiri, Indonesia Raya Sudah Menggema
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional