ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaPerjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
· 7 menit baca · Diperbarui
Bagi saya yang tinggal di lingkungan pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathon Minal Iman Shiddiqiyyah, munculnya rokok Sehat Tentrem (ST) membuat orang-orang di sekitar saya berbondong-bondong mengonsumsi ST. Alasannya karena ST dinilai sangat besar kontribusinya pada pesantren dan gerakan sosial di masyarakat, karena itulah membeli atau mengonsumsi ST sama saja dengan ikut berkontribusi dengan pesantren dan kegiatan sosial ke masyarakat. Namun, bagi saya, seorang Ikhwan (alumni pesantren), saya memiliki benteng prinsip yang cukup keras kepala dalam memandang ST. Saya bukan tipikal orang yang latah. Saya tidak mau sekadar ikut-ikutan atau terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) hanya karena semua orang berbondong-bondong beralih mengonsumsi ST.
Waktu itu, ST masih menjadi rokok sampingan bagi saya. Sebagai perokok yang telah melanglang buana mencicipi berbagai jenis rasa—mulai dari kretek lokal, rokok putih dari yang paling murah hingga paling mahal, hingga berbagai varian rokok mild—selera saya terkunci cukup lama pada salah satu merk rokok lain.
Karena pilihan itu, orang-orang sekitar saya kerap menyoroti rokok yang saya bawa karena masih menggunakan merk lain padahal saya tinggal dilingkungan yang dekat sekali dengan pertumbuhan Sehat Tentrem. Bahkan sebagian orang mulai membawa-bawa argumen bahwa 80% keuntungan ST dialokasikan untuk perjuangan dan shodaqoh, sementara hanya 20% untuk pribadi.
Bagi saya, alasan-alasan itu terlalu biasa. Saya menjawab dengan ketegasan seorang murid, “Kalau aku pindah ke ST hanya gara-gara rokok ini bisa menyumbang Rumah Syukur dan sebagainya, aku tidak perlu jadi wong Shiddiqiyyah. Orang umum pun bisa kalau sekadar begitu.” Sebagai seorang Ikhwan, saya menuntut sebuah esensi yang lebih dalam. Saya tidak mau menjadi manusia latah yang menelan mentah-mentah apa yang tampak di permukaan. Saya harus menemukan rahasia yang lebih besar di balik produk Sehat Tentrem.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari