ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
22 Juli 2026 15:00
PETUNJUK DARI SANG MURSYID DAN SANG MAULANA
Perjalanan pencarian ini membawa ingatan saya kembali pada momen-momen krusial di masa lalu. Saya teringat suatu hari ketika Sang Maulana duduk di depan gedung MQ (gedung di pesantren Shiddiqiyyah yang berfungsi sebagai tempat sekolah para murid Maqooshidul Qur-aan), Beliau berucap sebuah kalimat yang terus terngiang di kepala saya: “Aku arep gawe obat lewat media rokok. Rokok kan dikonsumsi wong akeh yang mana selama ini imejnya menjadi penyakit, justru aku arep gawe obat lewat rokok.” Sebuah gagasan yang radikal, menurut saya pernyataan beliau merupakan sebuah upaya untuk melawan propaganda global yang mencap rokok hanya semata-mata sebagai sumber penyakit belaka.
Rantai petunjuk itu semakin kuat saat Pak Bari (Alm. Bapak Shobari Hasan, Kholifatus Shiddiqiyyah) menceritakan pengalamannya ketika sowan kepada Sang Mursyid. Kala itu, Pak Bari masih setia dengan rokok versinya sendiri. Namun, saat sowan, Sang Mursyid bertanya, “Loh Bari, durung rokokan iki?” sambil menunjukkan batang rokok Sehat Tentrem, yang kemudian diikuti dengan dawuh mendalam: “Nek njerone iki iku ono aku.” (Di dalam rokok ini, ada saya). Mendengar dawuh itu, Pak Bari seketika beralih total ke ST.
Informasi-informasi ini mulai merangkai teka-teki di benak saya. Apalagi kami mengetahui bahwa nama "Sehat Tentrem" sendiri merupakan perpaduan restu dan ide antara Sang Maulana dan Sang Mursyid, bahkan Sang Mursyid bertindak langsung sebagai tester penentu rasa pada varian tertentu.
Rasa hati saya berputar: Jika memang ini adalah obat, mengapa medianya harus rokok? Kenapa bukan kapsul, tablet, atau jamu? Sebagai orang yang gemar merenung dan menganalisis saya meyakini bahwa segala sesuatu yang lahir dari Mursyid pasti menyimpan pelajaran atau hikmah yang luar biasa.
Kalau begitu, saya harus mencari tahu. Dan untuk mencari tahu, saya harus bertanya langsung pada rokoknya.
Untuk memecahkan misteri ini, saya melakukan sebuah ritual personal. Saya sengaja membeli dua bungkus varian RPE (Raos Paling Eco). Bungkus pertama saya gunakan untuk berjaga-jaga jika ada teman yang meminta, sedangkan bungkus kedua murni saya dedikasikan untuk berdialog secara batiniyah (versi saya).
Setiap kali hendak menyulutnya, saya menggunakan bahasa tanpa suara dan tanpa huruf, diiringi dengan doa. Saya menanyai batang rokok RPE yang saya hisap itu: kamu ini apa? Apa latar belakangmu? Apa tujuan serta manfaat yang dibawa olehmu? Apa pelajaran yang terkandung di dalam dirimu?
Berbatang-batang rokok itu berlalu dalam keheningan, hingga tibalah momen di bulan Romadhon.
Suatu hari, saya sedang berada di Puri, Plandaan, saya duduk di teras Rumah Sehat Tentrem (RST), menghadap ke arah utara. Setelah obrolan singkat dengan almarhum Pak Juned selesai bertepatan dengan berkumandangnya adzan magrib, saya berbuka puasa dengan seteguk air putih dan kopi hangat. Kemudian, saya menyulut batang rokok RPE yang kesembilan.
Di saat itulah, sebuah kesadaran spiritual menghantam saya (menurut keyakinan saya). Seolah-olah rokok itu berbicara langsung kepada saya dengan bahasa yang sangat kasar namun jujur, persis seperti gaya bicara saya sendiri: “Kon kok goblok,wong dadi arek ikhwan kok gak paham-paham,!”
Dari dialog batin itu saya menemukan banyak pelajaran di balik Sehat Tentrem.
Asal-usul Kata: Kesadaran saya disentil tentang dari mana kata "rokok" berasal. Rokok dekat secara fonetis dengan kata "Ruku’", salah satu gerakan dalam ibadah Sholat. Ini adalah simbol yang mengikat erat aktivitas menghisap tembakau ini dengan esensi sholat.
Nafas kehidupan: Untuk menikmati sebatang rokok, elemen paling utama bukanlah api, melainkan napas yang menghisapnya. Napas adalah tanda paling valid apakah manusia masih hidup atau sudah mati. Rokok itu seolah memperingatkan saya: “Uripmu iki loh kontrolen, jogoen! Kamu harus selalu bisa merasakan hembusan nafasmu, dan untuk itu, jangan sembrono dengan sholatmu.”
Batik dan Kitab: Kemasan RPE yang bermotif batik pun ikut berbicara. Sebagai arek Malang yang akrab dengan bahasa walian (khas dibalik), kata BATIK jika dibalik akan berbunyi KITAB. Artinya, saya diwajibkan untuk selalu membaca "kitab" diri saya sendiri, selalu mengoreksi kekurangan ego saya agar mampu mencapai kehidupan yang benar-benar sehat dan tentram.
Lambang Segi Empat: Simbol segi empat pada logo ST mengingatkan saya pada empat unsur jasmani manusia dan empat gerakan garis besar dalam salat: berdiri, rukuk, duduk, dan sujud. Pelipit berwarna merah putih menegaskan arti berani melakukan kesucian dengan cara berusaha menegakkan sholat lima waktu.
Malam itu, saya merasa menjadi manusia yang sangat bodoh. Mengapa rahasia seindah ini baru saya sadari? menurut saya ST bukan sekadar komoditas ekonomi atau alat sumbangan sosial. ST adalah media transendental dari Sang Mursyid dan Sang Maulana agar saya selalu mampu mengontrol hidup, mengoreksi diri, dan mensyukuri nikmat terbesar dari Allah—yaitu diwujudkan sebagai manusia, yang diberi akal dan iman. Sejak detik itu, saya beralih 100% menjadi konsumen setia ST atau yang sekarang disebut sebagai STHolics.
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati