Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau

11 Agustus 2026 07:00

Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau

Di mata banyak orang, sepak bola hanyalah pertandingan yang berlangsung selama sembilan puluh menit. Ada kemenangan yang dirayakan, ada kekalahan yang disesali. Namun, jika diamati lebih dalam, lapangan hijau sesungguhnya menyimpan pelajaran yang jauh melampaui urusan skor. Ia adalah ruang tempat manusia diuji oleh ego, kesabaran, kerja sama, bahkan keikhlasan.

Tashawuf mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah orang lain, melainkan hawa nafsunya sendiri. Nafsu untuk merasa paling hebat, paling benar, paling layak dipuji. Menariknya, semua itu juga hadir di lapangan sepak bola.

Seorang pemain yang terlalu sibuk mengejar ketenaran akan lupa bahwa sepak bola adalah permainan kolektif. Ia ingin mencetak gol sendiri, enggan mengoper bola, dan menganggap rekan setim hanya pelengkap. Akibatnya, bukan kemenangan yang diraih, melainkan kekalahan karena ego lebih besar daripada tujuan bersama.

Bukankah kehidupan juga demikian?

Sering kali kita gagal bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena terlalu sibuk memenangkan diri sendiri. Dalam tashawuf , ada konsep mujahadah, yaitu perjuangan melawan dorongan ego dan hawa nafsu. Seorang pesepak bola pun menjalani hal serupa. Ia harus bangun pagi untuk berlatih, menjaga pola makan, menerima kritik pelatih, dan tetap berlatih meski namanya tidak selalu masuk susunan pemain. Semua itu menuntut disiplin dan pengendalian diri.

Penulis:

Editor: Nuraida