ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
11 Agustus 2026 07:00
Di sinilah sepak bola berubah menjadi sekolah kehidupan.
Seorang kiper, misalnya, bisa bermain sempurna selama delapan puluh sembilan menit. Namun satu kesalahan kecil di menit terakhir dapat mengubah pahlawan menjadi sasaran kritik. Dalam keadaan seperti itu, yang diuji bukan hanya kemampuan menangkap bola, tetapi juga kemampuan menerima kenyataan. Kesadaran inilah yang melahirkan sikap rendah hati.
Ketika menang, ia bersyukur tanpa menyombongkan diri. Ketika kalah, ia bersabar tanpa menyalahkan keadaan. Dalam satu tim, ada penyerang yang mencetak gol, ada gelandang yang mengatur permainan, ada bek yang menghalau serangan, dan ada kiper yang menjadi benteng terakhir. Tidak ada posisi yang lebih mulia daripada yang lain. Semua memiliki tugas masing-masing.
Begitu pula kehidupan.
Tidak semua orang ditakdirkan menjadi sosok yang berdiri di depan. Ada yang bekerja dalam diam, tetapi jasanya menjadi penentu keberhasilan banyak orang. Sepak bola juga mengajarkan bahwa sebuah tim besar tidak dibangun oleh sebelas pemain hebat, melainkan oleh sebelas pemain yang saling percaya.
Pada akhirnya, pertandingan sepak bola selalu berakhir. Peluit panjang akan berbunyi. Papan skor akan dimatikan. Sorak-sorai penonton perlahan menghilang. Begitu pula kehidupan manusia.
Jabatan, kekayaan, popularitas, bahkan tepuk tangan manusia hanyalah sementara. Yang akan tetap tinggal adalah nilai-nilai yang kita tanamkan selama menjalani pertandingan kehidupan.
Mungkin karena itulah lapangan hijau bukan sekadar tempat mengejar kemenangan. Ia adalah tempat belajar menjadi manusia. Sebab kemenangan yang paling sulit bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mengalahkan diri sendiri.
Penulis: MJ Irawan
-------------------
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Mengejar Bola, Menemukan Diri: Membaca Tashawuf dari Lapangan Hijau
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis