Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID

24 September 2026 16:29

Tinggalkan Rumah Kayu, Buruh Tani di Jombang Dapat Rumah Gratis dari OPSHID

JOMBANG – Rumah berlapis kayu yang telah berlubang dan tidak lagi layak ditempati keluarga Gito di Dusun Mandenan, Desa Genengan Jasem, Kecamatan Kabuh, segera berganti menjadi hunian layak yang dibangun Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID).

Melalui Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Kabuh dan Kudu, Jombang, OPSHID memulai pembangunan Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina yang ditandai dengan peletakan batu syukur pada Senin (21/9/2026).

Sepasang Buruh Tani Tinggalkan Rumah Kayu, Segera Tempati Rumah Impian dari Pemuda Shiddiqiyyah

Pembangunan tersebut menjadi bagian dari ungkapan syukur dalam momentum Sumpah Pemuda dan Hari Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke-98. Momentum tersebut dimaknai OPSHID dengan menghadirkan aksi nyata bagi sesama. Ketua OPSHID DPC Kabuh, Ismadi, mengatakan pembangunan Rumah Syukur merupakan bentuk meneladani semangat perjuangan para pahlawan sekaligus wujud cinta tanah air.

“Kami ingin merefleksikan makna perjuangan para pahlawan dengan berbagi kasih dan memberikan manfaat bagi sesama. Pembangunan Rumah ini menjadi bukti nyata OPSHID bersama seluruh warga Shiddiqiyyah kepada bangsa Indonesia tercinta. Kami ingin membuktikan bahwa rasa cinta tanah air tidak hanya diucapkan, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan", jelasnya.

Sepasang Buruh Tani Tinggalkan Rumah Kayu, Segera Tempati Rumah Impian dari Pemuda Shiddiqiyyah

Berbeda dengan program bedah rumah, pembangunan Rumah Syukur Fatchan Mubiina dilakukan secara menyeluruh mulai pondasi sampai rumah jadi. OPSHID bergotong royong menanggung seluruh kebutuhan pembangunan, mulai dari material, tenaga kerja hingga konsumsi, tanpa membebankan biaya kepada penerima.

“Kami berkomitmen penuh untuk menanggung semua kebutuhan selama proses pembangunan. Semua biaya mulai dari material bangunan, tenaga kerja hingga konsumsi sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami, tidak membebankan sepeserpun kepada penerima", terang Ismadi.

Rumah Syukur di Dusun Mandenan tersebut diperuntukkan bagi keluarga Gito. Tergolong kondisi yang kurang mampu, mereka pernah mengikuti agenda santunan nasional di Shiddiqiyyah.

Menurut keterangan Ismadi, nama Gito sebelumnya pernah masuk dalam kriteria calon penerima pembangunan Rumah Syukur. Setelah sekitar tiga tahun, akhirnya pembangunan tersebut dapat direalisasikan tahun ini.

Gito (56) dan istrinya, Yasmin (43), sehari-hari mengandalkan penghasilan sebagai buruh tani di sawah milik orang lain. Pekerjaan tersebut tidak selalu tersedia setiap hari. Saat mendapat pekerjaan, Gito memperoleh penghasilan sekitar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama istri dan tiga anaknya yang masih bersekolah.

“Mau nggak mau, kalau tidak cukup ya dicukupkan", kata Yasmin menggambarkan cara mereka bertahan menjalani kehidupan. 

Sebelumnya, keluarga tersebut menempati rumah berdinding kayu dengan atap tambalan dari kayu dan genteng yang kerap mengalami kebocoran, serta masih beralas tanah. Dengan kondisi yang sangat tidak layak, menurut Ismadi bahkan rumah itu nampak seperti kandang sapi. 

Keinginan memiliki rumah yang lebih layak sebenarnya telah lama ada, namun belum dapat diwujudkan. Rumah yang ditempati saat ini merupakan peninggalan orang tua Yasmin.

Sepasang Buruh Tani Tinggalkan Rumah Kayu, Segera Tempati Rumah Impian dari Pemuda Shiddiqiyyah

Bagi Yasmin, pembangunan Rumah Syukur ini menjadi kabar yang tak disangka. Ia berharap rumah tersebut membawa keberkahan bagi keluarganya dan program Rumah Syukur dapat membantu lebih banyak masyarakat.

“Awal didatangi kaget, tapi alchamdulillah dibangunkan seperti ini senang, bersyukur, dan berterima kasih. Semoga berkah dan bahagia bersama anak-anak. Semoga Rumah Syukur ini semakin banyak membantu yang lain", ungkapnya.

Pembangunan rumah seluas 5 × 9 meter tersebut ditargetkan selesai dalam 30 hari dan rencana diresmikan pada Oktober mendatang.

Ismadi menambahkan, pembangunan Rumah Syukur tersebut tidak lepas dari ajaran Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah dan arahan Ketua Umum OPSHID FKYME yang mengajarkan pentingnya rasa syukur dengan fakta pembuktian. Semangat tersebut menjadi dorongan bagi OPSHID untuk memberikan yang terbaik.

“Dorongan semangatnya tidak ada yang kendor, kami dilatih dalam keikhlasan dan terus menjalankan apa yang diajarkan, bagaimana memberikan manfaat untuk orang lain, khususnya dalam mensyukuri momentum yang menjadi kebanggaan nasional. Semoga keluarga penerima bisa merasakan kemerdekaan yang sejati", Pungkas Ismadi. (OPSHID Media)

 

Penulis:

Editor: Nuraida