Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kiriman Pembaca

Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan

· 8 menit baca · Diperbarui

Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan

Dari sebuah rumah sederhana di Dusun Keboan, kisah Ratno mempertemukan pendidikan, ibadah, kemanusiaan dan pengingat tentang akhir kehidupan dalam satu ruang kehidupan yang sama. Sebuah pemandangan yang mungkin tampak biasa di Dusun Keboan, Desa Sekaran, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan.

Di lingkungan itu terdapat sekolah madrasah ibtidaiyah, masjid, pemakaman umum, dan sebuah rumah yang kini sedang dibangun melalui program Rumah Syukur OPSHID. Keempatnya berdiri tidak jauh satu sama lain.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam, tempat-tempat tersebut seperti menyimpan rangkaian pelajaran tentang kehidupan manusia.

Sekolah mengajarkan manusia untuk mengenal ilmu. Masjid menjadi tempat mendekatkan diri kepada Alloh. Rumah menjadi tempat manusia membangun kehidupan bersama keluarganya. Sementara makam menjadi pengingat bahwa perjalanan kehidupan dunia pada akhirnya memiliki batas. Di antara keempat ruang itulah, sebuah rumah sedang dipersiapkan untuk Ratno.

RUMAH UNTUK KELUARGA RATNO

Bagi sebagian orang, rumah mungkin hanya dipahami sebagai bangunan dengan dinding, pintu, jendela dan atap. Tetapi bagi Ratno, rumah memiliki arti yang jauh lebih dalam.

Sehari-hari, Ratno dikenal sebagai penjual degan. Pekerjaan sederhana itu menjadi salah satu sumber penghidupan bagi keluarganya. Sayangnya, beberapa waktu terakhir, aktivitas tersebut harus terhenti karena pasokan dagangan belum tersedia. Hal itu membuat keluarga Ratno hidup dalam keterbatasan.

Ratno memiliki tiga orang anak. Anak pertama laki-laki, saat ini bekerja di luar kota. Anak kedua perempuan, baru saja menikah dan ikut suaminya, sehingga di rumah tinggalah Ratno, istri, beserta anak bungsunya yang kini baru berusia lima tahun. 

Situasi yang dialami Ratno menjadikan rumah bukan sekadar tempat berteduh. Tetapi sekaligus tempat untuk bertahan. Tempat untuk pulang setelah mencari nafkah. Tempat berkumpul dengan keluarga. Dan tempat anaknya tumbuh dan mengenal dunia.

Karena itu, ketika sebuah rumah layak hadir bagi keluarga yang membutuhkan, yang dibangun sesungguhnya bukan hanya bangunan fisik tetapi juga, rasa aman, ketenteraman yang diupayakan serta harapan agar sebuah keluarga dapat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tulisan ini merupakan kiriman pembaca. Isi dan pendapat di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Nuraida