ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaDi Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
· 8 menit baca · Diperbarui
BANGUNAN YANG MENGAJARKAN KEHIDUPAN
Menariknya, Rumah Syukur yang di bangun OPSHID untuk Ratno berada dalam lingkungan yang memperlihatkan hampir seluruh tahapan kehidupan manusia.
Tidak jauh dari rumah terdapat sekolah. Anak-anak belajar mengenal huruf, angka, ilmu pengetahuan dan kehidupan. Tetapi pendidikan sesungguhnya tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Ketika mereka melihat orang-orang bergotong royong membangun rumah, mereka juga sedang menyaksikan pelajaran tentang kepedulian. Mereka melihat bahwa sebuah rumah dapat berdiri karena banyak tangan bekerja bersama.
Sebagian orang yang membawa material. Ada yang mengangkat, memasang, mengukur dan mengerjakan bagian-bagian bangunan. Ada pula mereka yang mungkin tidak ikut membangun secara langsung, tetapi turut memberikan dukungan melalui materi.
Bagi anak-anak yang melihatnya, semua itu merupakan pendidikan yang hidup.
Pendidikan tentang kemanusiaan.
Pendidikan tentang gotong royong.
Pendidikan tentang memberi manfaat kepada orang lain.
Selain itu, tak jauh dari sana terdapat masjid. Ketika azan berkumandang, warga meninggalkan aktivitas dan menuju rumah Alloh untuk menunaikan ibadah.
Rumah Syukur untuk Ratno berada di dekat masjid seolah mengingatkan bahwa ibadah tidak berhenti pada hubungan kepada sesama manusia tetapi juga dengan Alloh. Dan di belakang masjid terdapat makam. Tempat yang setiap hari mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Di sanalah rangkaian itu menjadi semakin utuh. Sekolah mengajarkan. Masjid mengingatkan. Rumah Syukur mengamalkan. Makam menyadarkan.
Empat ruang yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah: bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.
RUMAH DAN TEGAKNYA JIWA
Gagasan Rumah Syukur berangkat dari pemahaman bahwa membangun rumah bukan sekadar mendirikan bangunan. Rumah merupakan bagian dari kehidupan manusia. Bangunan membutuhkan fondasi agar dapat berdiri kokoh. Begitu pula kehidupan manusia membutuhkan pijakan yang memungkinkan seseorang menjalani hidup dengan lebih aman, tenang dan bermartabat. Gagasan tersebut memiliki hubungan erat dengan pesan dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya:
“Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.”
Kemerdekaan tidak seharusnya hanya dimaknai sebagai terbebasnya bangsa dari penjajahan. Kemerdekaan juga mengandung cita-cita agar manusia Indonesia dapat hidup lebih berdaya, mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.
Tetapi kenyataan sosial menunjukkan bahwa masih banyak saudara kita yang belum memiliki hunian yang nyaman dan hidup dengan segala keterbatasan. Karena itu, Rumah Syukur ditempatkan sebagai salah satu bentuk ikhtiar kemanusiaan. Bukan untuk menghapus seluruh persoalan kehidupan seseorang dalam seketika. Melainkan
memberikan salah satu fondasi penting yakni tempat tinggal yang aman dan layak. Dari sana diharapkan lahir ketenteraman bagi para penerimanya. Karena dari ketenteraman itu seseorang memiliki ruang yang lebih baik untuk menata kehidupan.
- Dari Toko Material ke Warung, Menelusuri Jejak Ekonomi di Balik Satu Rumah Syukur
- Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan
- Tinggal di Kios Jahit, Kini Buchori Dapat Rumah Gratis
- Sempat Bimbang, OPSHID Ngawi Akhirnya Tetap Bangun Rumah Syukur
- Sehat Tentrem Dukung Pembangunan 59 Rumah Gratis OPSHID
- Syekh Mukhtar: Jaami'atul Mudzakkirin Pedoman Dan Jangkar Kehidupan
- Terdampak Penggusuran, Petugas Kebersihan Dapat Rumah Gratis OPSHID
- 3 Rumah Syukur Gratis OPSHID Malang Raya Target 21 Hari
- Rumah Gratis untuk Ojol Semarang
- Syekh Mukhtar Mu’thi: Rumah Gratis Shiddiqiyyah Wujud Amal Lestari yang Paling Dicintai Alloh