Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kiriman Pembaca

Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan

· 8 menit baca · Diperbarui

Di Antara Sekolah, Masjid, dan Rumah Syukur, Ada Pelajaran Tentang Kehidupan

DARI SYUKUR MENJADI PERBUATAN

Bagi warga Shiddiqiyyah, rasa syukur tidak boleh berhenti pada ucapan. Tetapi harus diwujudkan dalam perbuatan yang bermanfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Atas dasar itulah OPSHID membangun Rumah Syukur, sebagai program kemanusiaan yang dilaksanakan atas petunjuk Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi. Di dalam rumah syukur terdapat berbagai simbol keagamaan dan kebangsaan seperti Burung Garuda, Teks Pembukaan UUD 1945, Surya Majapahit, lambang OPSHID Front Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sang Merah Putih. Selain itu, Terdapat juga prasasti Rumah Syukur bertulisan QS Al-An'am ayat 162:

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Alloh, Tuhan seluruh alam.”

Ayat tersebut menempatkan seluruh kehidupan manusia sebagai bagian dari pengabdian kepada Alloh.

KETIKA AMAL TIDAK BERHENTI DI HARI PERESMIAN

Satu hal yang membedakan Rumah Syukur dengan program rumah gratis lainnya. Rumah syukur tidak hanya berhenti pada selesainya rumah dibangun, bukan hanya proses pembangunannya, tetapi setelah rumah selesaipun shilaturochmi dengan penerima tetap dijaga. Seperti pada momen menjelang hari raya, OPSHID mengadakan kunjungan di tiap-tiap rumah syukur yang dibangun guna untuk memberikan parcel lebaran. Hal itu sekaligus menjadi bagian dari perhatian untuk mengetahui kondisi rumah serta kehidupan keluarga setelah menempatinya.

Dalam pitutur luhurnya, Sang Mursyid Syekh Mukhtar Mu’thi menjelaskan pentingnya amal yang terus memberikan manfaat.

Menurut beliau, amal yang lestari bukan sekadar kebaikan yang dilakukan sesaat, tetapi kebaikan yang keberadaannya dapat terus dirasakan manusia. Sebuah kegembiraan yang hanya berlangsung sesaat akan berlalu ketika peristiwa selesai. Berbeda dengan rumah yang tetap berdiri. Hari ini ditempati oleh penerima. Besok digunakan oleh anak-anaknya. Kelak dapat dinikmati oleh cucunya. Dengan demikian, kebahagiaan dari sebuah amal tidak berhenti pada hari rumah diserahkan. Ia dapat terus memanjang mengikuti usia bangunan dan kehidupan keluarga yang menempatinya. 

RUMAH YANG MENJADI WARISAN

Bapak Ratno mungkin tidak mengetahui seluruh tangan yang ikut menghadirkan rumah tersebut.

Ada orang-orang yang menyisihkan sebagian hartanya. Ada yang menyumbangkan tenaga.

Ada yang membantu dalam proses pembangunan. Ada pula mereka yang mungkin tidak pernah ditemui oleh Ratno, tetapi ikut menjadi bagian dari gotong royong tersebut.

Namun kelak, setiap pagi ketika Ratno membuka pintu rumah, setiap kali istrinya menjalankan aktivitas keluarga, dan setiap kali anak kecilnya bermain di dalamnya, manfaat dari seluruh kebaikan itu menjadi nyata. Rumah tersebut juga akan menjadi bagian dari perjalanan hidup anak bungsunya. Anak yang hari ini masih berusia lima tahun mungkin kelak tumbuh dewasa dengan kenangan bahwa pernah ada banyak orang yang bergotong royong membangun tempat tinggal keluarganya.

Di situlah sebuah bangunan berubah menjadi cerita. Dan cerita berubah menjadi warisan nilai. Di Antara Sekolah, Masjid dan Makam Menjelang malam, suasana Dusun Keboan perlahan berubah. Anak-anak yang sejak siang memenuhi lingkungan sekolah mulai pulang. Aktivitas pembangunan rumah berhenti. Warga mulai beristirahat.

Dari masjid, suara azan dan lantunan ibadah mengisi suasana. Sementara di sisi lain, makam tetap diam. Tidak ada aktivitas manusia seperti di sekolah, tidak ada suara pembangunan seperti di Rumah Syukur, dan tidak ada keramaian seperti di masjid. Namun justru dalam kesunyian itulah makam seperti menyampaikan pesan paling sederhana: setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Alloh. Maka kehidupan seperti membentuk sebuah lingkaran. Manusia belajar, kemudian beribadah, lalu beramal dan memberikan manfaat. Dan pada akhirnya kembali kepada Sang Pencipta.

Rumah Syukur yang berdiri di antara sekolah, masjid dan makam menjadi bagian dari rangkaian tersebut. Ia bukan hanya tempat tinggal bagi Bapak Ratno dan keluarganya.

Ia juga menjadi pengingat bahwa kehidupan manusia akan memiliki nilai ketika ilmu yang diperoleh melahirkan pengabdian, ibadah melahirkan kepedulian, dan kepedulian melahirkan manfaat yang terus hidup.

DARI RUMAH UNTUK INDONESIA RAYA

Kemerdekaan pada akhirnya bukan hanya tentang berdirinya sebuah negara.

Kemerdekaan juga tentang bagaimana manusia yang hidup di dalamnya dapat merasakan kehidupan yang lebih layak, aman dan bermartabat. Karena itu, membangun rumah bagi keluarga yang membutuhkan dapat dibaca sebagai bagian kecil dari cita-cita besar tersebut. Rumah menjadi fondasi bagi keluarga. Keluarga menjadi bagian dari masyarakat. Masyarakat menjadi bagian dari bangsa. Dan bangsa adalah rumah besar tempat seluruh rakyat menjalani kehidupan bersama.

Di Dusun Keboan, kisah Bapak Ratno memberikan wajah manusiawi pada gagasan tersebut. Seorang penjual degan yang kini belum memiliki pekerjaan tetap. Seorang ayah yang tinggal bersama istri dan anak bungsunya. Sebuah keluarga yang sedang menanti rumah baru sebagai tempat menjalani hari-hari mereka.

Di dekatnya ada sekolah, ada masjid, ada makam, dan kini ada Rumah Syukur. Semuanya seperti berbicara dalam bahasa yang berbeda, tetapi membawa pesan yang sama. Bahwa hidup bukan hanya tentang memiliki. Hidup juga tentang belajar, beribadah, berbagi dan meninggalkan manfaat. Sebab manusia tidak akan membawa rumahnya ketika meninggalkan dunia. Tidak pula membawa harta dan segala yang melekat padanya. Yang menjadi bekal adalah amal.

Dan ketika sebuah amal terus menghadirkan manfaat bahkan setelah tangan yang mengerjakannya berhenti bekerja, di situlah sebuah kebaikan menemukan makna yang lebih panjang.

 

Penulis: Silvi Andini OPSHID Media Madiun

Narasumber: Firman OPSHID DPD Lamongan, Alsara Opshidmedia Lamongan

-----------

 

Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:

1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.

Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net 

 

Tulisan ini merupakan kiriman pembaca. Isi dan pendapat di dalamnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Nuraida