ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kiriman PembacaArab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
· 4 menit baca · Diperbarui
INDONESIA MEMILIH MEMBANGUN IDENTITAS BERSAMA
Di tengah contoh-contoh itu, Indonesia menawarkan pengalaman yang berbeda.
Publikasi BPS tentang keragaman suku dan bahasa mencatat lebih dari 1.200 kelompok suku dan 694 bahasa yang digunakan untuk komunikasi keluarga maupun masyarakat. Negara ini juga memiliki ribuan pulau dengan masyarakat yang tumbuh dalam lingkungan budaya berbeda.
Namun, pada 1928, para pemuda menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Mereka tidak sedang menghapus semua identitas lokal. Mereka sedang membangun kerangka kebangsaan yang dapat menampung identitas-identitas tersebut.
Inilah pembeda yang penting: Indonesia tidak menunggu keseragaman untuk membangun persatuan.
Bahasa Indonesia menjadi sarana komunikasi bersama. Sumpah Pemuda memberi rumusan tentang identitas nasional. Indonesia Raya menyediakan simbol emosional yang dapat dinyanyikan lintas latar belakang.
Ketiganya membantu membentuk rasa kebangsaan yang melampaui perbedaan daerah.
BAHKAN EROPA TIDAK HARUS MENJADI SATU NEGARA
Uni Eropa menunjukkan bahwa kerja sama lintas bahasa dapat dibangun tanpa menjadikan semua anggotanya satu negara. Menurut panduan resmi Uni Eropa, organisasi itu terdiri atas 27 negara dan memiliki 24 bahasa resmi. Kerja sama dibangun melalui aturan, institusi, dan kepentingan bersama, bukan dengan menghapus seluruh identitas nasional anggotanya.
Perbandingan ini tentu tidak berarti pengalaman Eropa sama dengan Indonesia. Sejarah dan bentuk politiknya berbeda. Namun, contoh tersebut memperkuat satu kesimpulan: kesamaan bahasa bukan syarat mutlak untuk bekerja sama, dan keragaman bahasa bukan penghalang yang mustahil diatasi.
PERSATUAN BUKAN TAKDIR. IA HARUS DIPELIHARA
Sumpah Pemuda bukan bukti bahwa Indonesia bebas dari risiko perpecahan. Ia menunjukkan bahwa para pemuda pernah mengambil keputusan untuk membangun identitas bersama di tengah perbedaan.
Keputusan itu harus terus dirawat melalui institusi yang adil, kesempatan yang setara, pendidikan yang inklusif, dan penghormatan terhadap identitas lokal.
Jika warga merasa bahwa rumah kebangsaan hanya memberi tempat bagi sebagian kelompok, simbol persatuan akan kehilangan daya hidupnya. Sebaliknya, ketika perbedaan dihormati dan setiap warga memiliki ruang yang setara, persatuan memperoleh dasar yang lebih kuat.
Dari Jazirah Arab hingga Korea, sejarah memperlihatkan bahwa kesamaan tidak menjamin persatuan. Dari Indonesia, kita belajar bahwa perbedaan tidak harus berakhir menjadi perpecahan.
Tetapi tidak ada persatuan yang dapat bertahan hanya karena pernah diikrarkan. Ia harus terus dipilih.
Penulis: Windu Haribadi
=========
Resonansi Pembaca adalah rubrik tulisan pembaca OPSHID Media. Apabila anda tertarik untuk mendaftarkan tulisan anda untuk mendapat peluang diterbitkan di OPSHID Media, berikut tata caranya:
1) Kirimkan file tulisan anda dalam bentuk lampiran file doc.
2) Sertakan data diri anda berupa: nama, alamat, dan no. hp.
3) Foto/gambar referensi dari tulisan, bila ada.
Kirim ke alamat email berikut: opshidmedia@gmail.com atau saadatush@opshid.net
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari