Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Jayus: Depresi Karena Ditinggal Keluarga Satu Per Satu

04 Desember 2023 12:00

Jayus: Depresi Karena Ditinggal Keluarga Satu Per Satu

BOJONEGORO – Ditinggalkan oleh anggota keluarga tercinta memang bukan cobaan yang mudah. Itulah yang dialami oleh Bapak Jayus (38), seorang kepala keluarga yang tinggal di Desa Tlatah, Kec. Purwosari, Kab. Bojonegoro. Bapak Jayus harus menanggung beban mental yang menimpa ketika beberapa anggota keluarganya, satu per satu, pergi dari hidupnya.

Pak Jayus sempat memiliki seorang istri dan seorang anak perempuan bernama Viyani. Namun hubungan beliau dengan istrinya hanya bertahan selama kurang lebih 3 tahun. Tanpa alasan yang jelas, istrinya meninggalkan Pak Jayus untuk menikah lagi, dan anak mereka mengikuti ibunya.

Hal itu tentu bukan hal yang mudah untuk diterima. Butuh waktu lama, tetapi Pak Jayus bisa menerima kepergian istrinya dan membuka hati untuk orang baru dalam waktu kurang lebih 2 tahun. Beliau akhirnya menikah lagi dengan perempuan bernama Ibu Yatin, dan memiliki satu anak laki-laki bernama Tirta (9).

Hidup bahagia hingga memasuki tahun ke-5 dengan Ibu Yatin dan dikaruniai seorang anak, ternyata cobaan kembali menimpa. Pada awalnya, istri kedua beliau sakit dan dibawa ke puskesmas sampai dirujuk ke rumah sakit, pada hari itu juga Ibu Yatin dinyatakan menderita kanker payudara. Satu hari setelahnya dilakukanlah operasi, dan keesokannya Pak Jayus harus merelakan istrinya meninggal dunia.

Hal ini tentu membuat Pak Jayus dan anaknya Tirta sangat terpukul. Tetapi seakan tak berhenti sampai disitu, belum genap 100 hari sejak wafatnya Almarhumah Ibu Yatin, ibunda dari Bapak Jayus meninggal dunia.

Dengan lirih Pak Jayus menceritakan pengalaman menyedihkan itu, dan betapa beratnya hal itu bagi Tirta. “Niku bar ibunya terus neneknya, ibunya niku belum ada satusnya, neneknya nyusul” (Itu setelah ibunya (Tirta) terus neneknya), ibunya itu belum ada seratus harinya, neneknya nyusul), kata Pak Jayus.

Tanpa memiliki kerabat lainnya, kini Bapak Jayus tinggal hanya bersama Tirta. Mengalami peristiwa yang menyesakkan hati, Tirta yang masih menduduki Sekolah Dasar (SD) sempat tidak mau berangkat sekolah dan mengaji sepeninggal ibunya. Di sekolah, Tirta juga jarang diajak bermain oleh teman-temannya. Setiap kali diiantar ke Sekolah ia selalu menangis.

Tasek sekolah tapi mboten purun, sejak ditinggal ibu e niku mboten purun sekolah, diterke ten sekolahan nangis mawon” (Masih sekolah tapi tidak mau, sejak ditinggal ibunya itu tidak mau sekolah, diantarkan ke sekolah nangis saja) ucap Pak Jayus.

Selain itu, Bapak Jayus juga memiliki penyakit hepatitis, membuat tenaga beliau tidak maksimal dalam bekerja kasaran. Pak Jayus juga memiliki kekurangan dalam membaca atau buta huruf, yang mana hal tersebut menghambat Pak Jayus dalam mencari pekerjaan, beliau hanya bisa menulis namanya saja.

Sehari-harinya, Pak Jayus mencari rumput untuk diberi makan kepada 1 anak lembu yang dimiliki supaya kelak bisa dijual atau disembelih. Terkadang beliau membantu pekerjaan orang-orang, seperti memanen jagung, dan mendapatkan upah. Jadi penghasilan sehari beliau belum tentu cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

Syukur tetangga-tetangga di sekitar Bapak Jayus adalah orang-orang dengan rasa kemanusiaan yang tinggi, “Dari tim survey sendiri itu menyampaikan bahwa untuk makan saja itu dari tetangganya. Jadi Alchamdulillah dari tetangga-tetangga ini Pak Jayus mendapatkan rumah justru malah bersyukur dan InsyaAlloh tidak ada yang iri karena kondisinya sangat layak”, terang M. Mukhlisin selaku Ketua DPD OPSHID Bojonegoro.

Datanglah hari dimana OPSHID mendatangi rumah Pak Jayus. Mengetahui keadaan disana, awalnya tim OPSHID mengalami sedikit kesulitan dalam berkomunikasi, namun selalu mencoba berinteraksi dengan Pak Jayus dan keluarga dengan niat mengembalikan kondisi mental beliau, dan dengan harapan ketika RSLH sudah jadi, Tirta mau sekolah dan mengaji lagi.

“Ini yang menjadi PR kita dari tim bangunan itu kita sampaikan kondisi Pak Jayus dan bagaimana kita dari tim itu menjaga komunikasi yang baik agar Pak Jayus itu depresinya sedikit demi sedikit akan pulih. Kalau makan, makan bareng-bareng, akhirnya komunikasi itu sangat terjalin”, ujar Mukhlisin.

“Kemudian dari keadaannya seperti itu mempengaruhi juga pola pikir anaknya. Dan Alchamdulillah sejak kita mulai disini awal itu takut sekali anaknya, tapi sampai detik ini sudah terbiasa komunikasi dan bisa tertawa lepas”, lanjutnya.

Sebelumnya, tim OPSHID punya rencana untuk membangun RSLH di rumah Pak Jayus, namun kesepakatan akhir dibangunkan di tanah kosong samping rumah, Mukhlisin menjelaskan “Rumahnya tidak boleh dibongkar karena mungkin punya nilai history-nya, karena kita takut juga kalo itu dibongkar malah tambah parah depresinya, jadi kita bersepakat dengan dulur-dulur untuk membangunkan di samping rumahnya”, katanya.

Semangat dan harapan dari jiwa-jiwa OPSHID sangat besar kepada para penerima RSLH, inilah bagaimana jadinya jika jiwa-jiwa para pemuda bangkit atas dasar keimanan dan kemanusiaan.

“Semoga dengan selesainya bangunan Rumah Syukur ini, semoga saja sekaligus anaknya mau sekolah lagi dan mau ngaji, ini harapan kita. Jadi di samping membangun juga tugas dulur-dulur dari relawan itu komunikasi terhadap keluarga Pak Jayus agar mental, derpresinya itu kembali pulih, dan masa depan anaknya lebih terjamin”, harap jiwa-jiwa OPSHID diwakili Mukhlisin. (OPSHID Media)

Penulis: Baqiyat Aliansyah Siregar

Editor: Sa’adatush S.