ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Parni: 10 Tahun Menjadi Ibu Dan Ayah Untuk Anak-Anaknya
12 Oktober 2024 17:00
Karanganyar—Sosok kepala keluarga ibarat tiang penyangga utama yang menjaga keutuhan dan keseimbangan keluarga. Bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pelindung, pemimpin, dan teladan. Pada pundaknya, tertumpu tanggung jawab besar untuk memberikan rasa aman, membimbing dengan bijaksana, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan bagi setiap anggota keluarga. Tanpa arahan yang kuat, keluarga dapat kehilangan arah, seperti kapal yang berlayar tanpa kompas.
Lantas, bagaimana jika sosok kepala keluarga itu hilang, meninggalkan keluarganya tanpa jejak selama bertahun-tahun?
Itulah yang tengah dirasakan Parni (43), wanita tangguh yang terpaksa berjuang sendiri menghadapi kejamnya kehidupan. Tanpa pelindung ataupun pemimpin, ia menjadi benteng terakhir bagi ketiga buah hatinya. Setiap langkah adalah perjuangan melawan kerasnya dunia.
SEBUAH PERJUANGAN TANPA AKHIR
18 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2006, Parni menikah dengan harapan akan masa depan yang lebih baik. Dikaruniai tiga anak, ia menjalani kehidupan yang jauh dari kata mewah. Suaminya bekerja sebagai sopir antar kota Solo - Jakarta, pulang hanya beberapa minggu sekali. Penghasilan yang ia bawa nyaris tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam ketidakpastian itu, Parni mengambil langkah berani. Ia memutuskan untuk bekerja sebagai buruh di pabrik mainan plastik, meski saat itu ia sedang hamil tua anak pertamanya.
Dengan perut yang semakin besar, Parni menghadapi setiap hari dengan semangat yang tak pernah padam. Harapan untuk memberikan kehidupan yang lebih baik kepada anak-anaknya menjadi kekuatan yang mengalahkan semua rasa sakit. Namun, ketika suaminya mencoba peruntungan merantau selama satu tahun, harapan itu semakin pudar. Ia kembali dengan tangan hampir kosong, tanpa hasil yang berarti. Sejak saat itu, kehidupan Parni menjadi lebih berat.
Ketika anak ketiganya baru berusia enam bulan, suaminya berpamitan untuk bekerja, berjanji akan memperbaiki nasib keluarga. Namun, janji itu kosong. Hingga kini, 10 tahun kemudian ia tak pernah kembali. Parni terjebak dalam ketidakpastian yang menyakitkan, terpaksa menanggung beban sebagai satu-satunya pencari nafkah. Keluarganya marah, “laki-laki seperti itu tak perlu dicari.” Parni terjebak di antara amarah keluarga dan kenyataan pahit yang harus ia hadapi sendiri.
Tanpa ada kata cerai, selama sepuluh tahun suaminya tak pernah menampakkan wajah. “Sepuluh tahun berlalu, dan dia tak pernah sekalipun datang untuk melihat anak-anaknya,” ujar Parni, suaranya penuh kepahitan. “Saya tak pernah melarang anak-anak mencari ayah mereka, tapi mereka pun tak mau.” Rasa sakit yang mendalam tergambar jelas dari kata-katanya, seperti luka yang tak pernah sembuh oleh waktu.
- Peletakan Batu Pertama Perpustakaan Tashawwuf: Tanda Shiddiqiyyah Semakin Berkembang
- Santunan Nasional ke-22 Capai Miliaran Rupiah, Mursyid Shiddiqiyyah Berpesan: Jangan Terlena Tipu Daya Dunia
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus