ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Rumat: Rumah Dijual Karena Terlilit Hutang
· 4 menit baca · Diperbarui
Bojonegoro – Mengenal sosok bernama Rumat, salah satu penerima Rumah Syukur yang kini telah menginjak usia senja, dengan fisik yang tak tegap, namun semangatnya untuk terus bergerak menjalani hidup sangatlah besar.
Rumat (84), sosok perempuan yang tangguh, sosok pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Kesehariannya menjadi pedagang bawang, cabai, juga bunga tabur kuburan. Dengan hasil dagangan yang tak seberapa itu, harus beliau tempuh dari rumah ke pasar sejauh 3 kilometer dengan berjalan kaki. Jangan bayangkan jalannya mulus seperti di kota besar, beliau tinggal di daerah perbukitan, dengan medan jalan berkelok dan naik turun.
Hingga suatu ketika, tepatnya 3 tahun yang lalu musibah menimpa Rumat. Kala itu dalam perjalanan untuk menjajakan bunga tabur kuburan, beliau terjatuh sampai tubuh ringkih itu tak lagi sanggup berucap 'tolong'. Sembari merasakan sakit yang dialami, Rumat hanya terdiam dan menunggu bantuan dari warga sekitar, "Tibo, ajenge ten pasar. Gloyor mboten saget tulung-tulung (Jatuh, mau ke pasar. Badan tidak seimbang, tidak bisa minta tolong)", Ujar Rumat.
Musibah di usia senja yang beliau alami tentu saja berdampak besar pada kondisi kesehatan beliau. Meski telah membaik, kekuatan fisiknya telah menurun jauh, sekedar berjalan saja perlu alat bantu agar tidak jatuh,“Alah nggeh taseh, melampa taseh, mbeto teken (masih bisa, bisa jalan, pakai alat bantu)", lanjut Rumat.
Dalam pernikahannya, Rumat dikaruniai 4 orang anak. Anak sulungnya bernama Rebo (70), lalu Jaman (diperkirakan berusia rentang 54 hingga 69 tahun), Samini Ratnaningtyas (53), dan yang terakhir Sainah (36). Rumat sendiri telah menikah 2 kali, pada pernikahan pertamanya dikaruniai 3 putra-putri dan pernikahan keduanya dikaruniai 1 putri. Suami kedua, yang bernama Sadak (berkisar usia 77 tahun) telah meninggal sejak 30 tahun lalu.
Bersama anak bungsu dan ketiga cucunya, Rumat tinggal di Desa Bareng, Kec. Sekar, Kab. Bojonegoro. Sedang putra-putrinya yang lain memilih tinggal di luar kota bersama keluarga masing-masing.
Rupanya, di usia yang jauh lebih lama dari usia kemerdekaan Bangsa Indonesia, Rumat belum memiliki hunian yang layak. Beliau menikmati kemerdekaan di balik dinding dan atap yang rapuh.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari