ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Rumat: Rumah Dijual Karena Terlilit Hutang
10 Agustus 2024 10:00
Bojonegoro – Mengenal sosok bernama Rumat, salah satu penerima Rumah Syukur yang kini telah menginjak usia senja, dengan fisik yang tak tegap, namun semangatnya untuk terus bergerak menjalani hidup sangatlah besar.
Rumat (84), sosok perempuan yang tangguh, sosok pekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Kesehariannya menjadi pedagang bawang, cabai, juga bunga tabur kuburan. Dengan hasil dagangan yang tak seberapa itu, harus beliau tempuh dari rumah ke pasar sejauh 3 kilometer dengan berjalan kaki. Jangan bayangkan jalannya mulus seperti di kota besar, beliau tinggal di daerah perbukitan, dengan medan jalan berkelok dan naik turun.
Hingga suatu ketika, tepatnya 3 tahun yang lalu musibah menimpa Rumat. Kala itu dalam perjalanan untuk menjajakan bunga tabur kuburan, beliau terjatuh sampai tubuh ringkih itu tak lagi sanggup berucap 'tolong'. Sembari merasakan sakit yang dialami, Rumat hanya terdiam dan menunggu bantuan dari warga sekitar, "Tibo, ajenge ten pasar. Gloyor mboten saget tulung-tulung (Jatuh, mau ke pasar. Badan tidak seimbang, tidak bisa minta tolong)", Ujar Rumat.
Musibah di usia senja yang beliau alami tentu saja berdampak besar pada kondisi kesehatan beliau. Meski telah membaik, kekuatan fisiknya telah menurun jauh, sekedar berjalan saja perlu alat bantu agar tidak jatuh,“Alah nggeh taseh, melampa taseh, mbeto teken (masih bisa, bisa jalan, pakai alat bantu)", lanjut Rumat.
Dalam pernikahannya, Rumat dikaruniai 4 orang anak. Anak sulungnya bernama Rebo (70), lalu Jaman (diperkirakan berusia rentang 54 hingga 69 tahun), Samini Ratnaningtyas (53), dan yang terakhir Sainah (36). Rumat sendiri telah menikah 2 kali, pada pernikahan pertamanya dikaruniai 3 putra-putri dan pernikahan keduanya dikaruniai 1 putri. Suami kedua, yang bernama Sadak (berkisar usia 77 tahun) telah meninggal sejak 30 tahun lalu.
Bersama anak bungsu dan ketiga cucunya, Rumat tinggal di Desa Bareng, Kec. Sekar, Kab. Bojonegoro. Sedang putra-putrinya yang lain memilih tinggal di luar kota bersama keluarga masing-masing.
Rupanya, di usia yang jauh lebih lama dari usia kemerdekaan Bangsa Indonesia, Rumat belum memiliki hunian yang layak. Beliau menikmati kemerdekaan di balik dinding dan atap yang rapuh.
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang