Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis

19 Juli 2026 07:00

Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis

Di tengah tekanan biaya hidup yang terus meningkat, kelompok yang paling berat menanggung dampaknya adalah masyarakat menengah ke bawah. Beban inflasi sebesar 4,58% di sektor makanan dan minuman terasa jauh lebih berat bagi kelompok rentan karena porsi pengeluaran rumah tangga miskin untuk kebutuhan pangan mencapai lebih dari 60% dari total pendapatan. Artinya, kenaikan sedikit saja pada harga pokok langsung memangkas kemampuan mereka memenuhi kebutuhan lain.

Tekanan itu berujung pada persoalan yang lebih struktural: hunian. Berdasarkan data BPS tahun 2024, sebanyak 34,75% keluarga di Indonesia masih menempati rumah tidak layak huni — yakni tempat tinggal yang belum memenuhi kriteria ketahanan bangunan, kecukupan luas lantai, akses air minum layak, dan sanitasi layak. Persoalannya bukan sekadar biaya renovasi yang mahal. Sekitar 82,86% rumah di Indonesia dibangun sendiri oleh masyarakat secara swadaya, sebagian besar tanpa dukungan pembiayaan yang memadai. Ketika untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari saja anggaran keluarga sudah terkuras, membenahi tempat tinggal menjadi kebutuhan yang nyaris mustahil dijangkau.

Begitulah yang dirasakan oleh Martono (52) seorang kepala rumah tangga yang tinggal di desa Kranon, Sorosutan, Yogyakarta, Jawa Tengah.

Martono menghabiskan separuh hidupnya bersama keluarga dalam rumah kotak seng berukuran 4 x 7 meter. Di ruang yang lebih menyerupai lorong sempit itu, ia tinggal bersama istrinya Eli Ritana (41), serta kedua anaknya Sabrila Adiva Marta (14) dan Ibrahim Pranandika Marta (10).

Sehari-hari Martono bekerja di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) dengan upah setingkat Upah Minimum Provinsi (UMP) Yogyakarta yang masih tergolong rendah, sehingga hasil dari kerjanya tersebut hanya cukup untuk kebutuhan sehari-harinya dan keluarga. Seringkali ia harus menahan keinginannya supaya kebutuhan makan keluarganya tercukupi. Martono sebenarnya juga ingin memiliki tempat hunian yang layak. Namun, baginya membangun rumah yang layak untuk istri dan kedua anaknya hanyalah mimpi yang terus tertunda oleh urusan perut.

c4ea38f3-5f1a-4137-9f7b-b9382ad647d8.webp (170 KB)
Dokumentasi rumah Martono sebelum pembongkaran

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.