ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
· 4 menit baca · Diperbarui
"Kami sebenarnya menemukan beberapa kandidat calon penerima, tapi banyak yang kurang memenuhi syarat secara legalitas, seperti status tanah Magersari atau lahan pinggir sungai yang rawan penggusuran. Dari semua kandidat yang ada ternyata Pak Martono yang memenuhi kriteria, dan yang terpenting, beliau benar-benar sangat membutuhkan," ungkap sekretaris DHIBRA Yogyakarta.
Menariknya, Martono bukanlah warga Shiddiqiyyah. Ia adalah masyarakat umum yang terpilih murni karena faktor kebutuhan mendesak. Hal ini mencerminkan bahwa aksi sosial yang dilakukan oleh Organisasi DHIBRA bersama warga Shiddiqiyyah tersebut tidak memandang golongan, siapa saja yang membutuhkan berhak mendapat rumah syukur dari DHIBRA. Kegiatan tersebut tentu mendapat respon positif dari masyarakat sekitar.
Meski lokasi pembangunan rumah syukur di Yogyakarta cukup jauh dari kebanyakan rumah orang-orang DHIBRA dan warga Shiddiqiyyah, namun semangat gotong royong pembangunan rumah syukur tidak pernah padam. Warga Kampung Kranonpun menyambut dengan hangat serta memberikan dukungan penuh, bahkan memberikan toleransi waktu jika memang pengerjaan harus dilakukan lembur hingga larut malam.
Karena keterbatasan lahan yang tidak memenuhi standar luasan ideal yang ditentukan oleh pengurus DHIBRA, tim teknis mengambil langkah progresif, yakni Rumah Syukur Martono direncanakan akan dibangun dua lantai guna mengakomodasi fasilitas wajib agar sesuai standar organisasi DHIBRA, yakni ruang tamu, dapur, dan kamar mandi yang layak.
Martono bersama keluarga tak henti-hentinya mengucap syukur, mendapat rumah tanpa mengeluarkan uang sepeserpun adalah keajaiban yang tidak pernah ada dalam bayangan sebelumnya.
“Alchamdulillah bahagia sekali, saya belum bisa bangun rumah sendiri tapi sekarang saya dapat rumah dari Shiddiqiyyah, saya benar-benar sangat bersyukur,” ungkap Martono ketika melihat proses pembangunan rumahnya.
“Pokoknya kedepannya akan saya gunakan dengan baik, akan saya rawat dan jaga bersama keluarga untuk ibadah,” tambahnya.
Kini rumah Martono dalam proses pengerjaan dan ditargetkan rampung sebelum tanggal 17 Agustus mendatang. Semoga dengan mendapat Rumah Syukur layak Huni kemerdekaan Indonesia Layak Huni Shiddiqiyyah ini, Martono bisa menjalani hidup dengan nyaman dan tentram bersama keluarganya. (OPSHID Media)
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945