Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

02 Juli 2026 07:00

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

Jadi WNI itu ujian yang berat!

Begitulah kurang lebih narasi dan candaan yang beredar di sosial media. Tidak dipungkiri, dengan melemahnya nilai rupiah yang menembus Rp18 ribu per dolar, naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi yang melonjak nyaris 32 persen, ditambah gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang datang silih berganti dari sektor tekstil, otomotif, sampai elektronik, menjalani hari-hari di negara Wakanda ini terasa lebih berat. Kalaupun ada kabar upah minimum naik, angkanya cuma menyentuh segelintir pekerja formal, tak menjangkau mayoritas yang menggantungkan hidup pada kerja serabutan dan sektor informal. 

Rasanya, semakin sering kita menggeser lini masa di dunia maya, semakin banyak narasi yang memusingkan kepala: masyarakat seolah terbagi menjadi kubu hitam putih, kubu pro dan kontra pemerintah.

Kubu pro dan kontra pemerintah ini tercipta dari gelombang apatisme terhadap pemerintah imbas dari ketidakpuasan dan nilai kepercayaan publik yang makin menurun, berhadapan dengan gelombang lain yang masih meyakini kinerja pemerintah. Terlepas dari persoalan politik, penting bagi kita untuk melihat perkara ini dengan kepala dingin, tanpa mudah terpengaruh narasi yang beredar di sosial media — entah memang dirancang untuk memperkeruh keadaan, atau tidak.

Panggung politik tidak sehitam-putih itu. Memberikan kritik dan mengajukan protes pada pemerintah tidak bisa selalu diartikan sebagai “anak abah”, ataupun pihak oposisi yang berusaha memecah belah negara. Sebaliknya, memilih untuk tetap optimis sembari terus memantau keadaan di Indonesia juga tidak dapat disalahkan sebagai nirempati apalagi sebagai buzzer pemerintah.

Nyatanya, narasi yang semakin tidak menentu cenderung mengarah pada kesalahan dalam memahami suatu perkara. Imbasnya, optimisme seringkali disalahkan sebagai kebodohan dan sikap tidak kritis untuk menutupi masalah sebenarnya. Nilai-nilai luhur kebangsaan direduksi sebagai omong kosong, dan cinta tanah air dianggap sebagai nasionalisme buta dan sorak-sorai semata.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud cinta tanah air, dan apa yang menjadikan makna cinta tanah air tetap relevan—khususnya—di masa kini?

Penulis:

Editor: Nuraida