ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
07 Agustus 2026 07:00
Di sudut Desa Ngembal, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, berdiri sebuah bangunan sederhana yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempat pulang bagi Suwarsi (48) dan ketiga anaknya; Silvia (20), Diva (19) dan Edo (10).
Bangunan itu belum sepenuhnya dapat disebut rumah yang layak. Dindingnya masih berupa batako yang belum diplester. Sebagian atap hanya ditutup lembaran asbes bergelombang, sementara lantainya masih berupa tanah.
Di atas lantai tanah itulah mereka menggelar tikar, terpal bekas, dan kardus sebagai alas tidur setiap malam. Tidak ada kasur. Hanya sebuah ruang sederhana yang mereka pertahankan agar tetap bisa menjadi tempat berteduh bagi keluarga.
Sehari-hari, Suwarsi bekerja mengisi tanah untuk pembibitan di Bedengan. Pekerjaan itu menjadi salah satu sumber penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ketika ada pekerjaan lain sebagai buruh harian, ia pun tak pernah menolak. Apa pun akan dikerjakan selama halal dan dapat membawa pulang rezeki bagi keluarganya. Suwarsi menjalani semuanya seorang diri.
MENJADI IBU SEKALIGUS TULANG PUNGGUNG KELUARGA
Perjalanan hidup Suwarsi tak selalu mudah. Ia telah tiga kali berpisah dengan pasangan hidupnya. Sebagai seorang ibu, ia memutuskan untuk memikul peran sebagai tulang punggung keluarga sekaligus mengasuh ketiga anaknya seorang diri.
Setiap hari, ia berusaha mencari nafkah dengan pekerjaan apa pun yang bisa dikerjakan. Di saat yang sama, ia tetap memastikan anak-anaknya tumbuh, bersekolah, dan memiliki tempat untuk pulang, meski rumah yang mereka tempati masih jauh dari kata layak.
Beban yang dipikulnya memang tidak ringan. Namun, Suwarsi memilih untuk tidak pernah menyerah dengan keadaan.
"Rasa sayang kepada anak-anak membuat lelah, lapar, ataupun sakit seolah tertutupi. Yang terpenting bagi saya, mereka bisa merasa aman," tutur Suwarsi.
Rasa kasih sayang kepada anak-anaknya menjadi kekuatan yang membuatnya terus bertahan. Di tengah keterbatasan, ia percaya bahwa setiap usaha yang dilakukan hari ini adalah bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
BANTUAN RUMAH YANG BELUM LAYAK HUNI
Pada tahun 2023, keluarga Suwarsi pernah menerima bantuan material bangunan berupa batako, semen, dan pasir. Melalui dukungan pemerintah desa dan swadaya warga, material tersebut didirikan menjadi sebuah bangunan sederhana.
Namun rumah itu belum benar-benar layak dihuni.
Sebagian atap masih terbuka dan hanya ditutup asbes, dinding belum diplester, sementara lantainya tetap berupa tanah. Ketika hujan turun, air dapat masuk melalui bagian atap yang bocor, sementara lantai tanah yang mereka pijak berubah menjadi lembap.
Meski demikian, rumah sederhana itu tetap mereka syukuri karena menjadi satu-satunya tempat berteduh yang mereka miliki.
- Ditinggal Suami, Suwarsi Banting Tulang Hidupi Ketiga Anaknya
- Sehat Tentrem Mahal Tapi Laku!
- Berkali-kali Didata, Tak Kunjung Nyata, Ahmad Kini Miliki Rumah Gratis dari Shiddiqiyyah
- Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
- Chrinsesia: Ditinggal Wafat Sang Suami, Rumah Syukur Pertama Menjejak di Tanah Papua
- Surat Terbuka Yang Tidak Dibuka: Catatan Tentang Paket Rahasia Sehat Tentrem
- Suliyastiningsih: Rumah Syukur yang Mengubah Air Mata Menjadi Senyuman di Kaki Gunung Arjuno
- Perjalanan Spiritual Dalam Mencari Makna Di Balik Kretek Sehat Tentrem
- Martono: Buruh Sampah Yang Dapat Rumah Gratis
- Eksperimen Kretek Untuk Penyembuhan - Catatan Pribadi Dokter Hewan Tentang Sehat Tentrem