ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Yatim Piatu di Bogor Menanti Masa Depan di Rumah yang Hampir Roboh
· 5 menit baca · Diperbarui
Selama bertahun-tahun, maut seolah-olah mengintip dari langit-langit rumah Arifin yang kini dihuni oleh ketiga anaknya. Rumah itu bertempat di Desa Tlajung Udik, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Bangunan yang kian lapuk itu merupakan rumah peninggalan era 1980-an yang kini sudah tampak tua dan usang sehingga tak lagi layak disebut sebagai tempat berlindung. Atapnya kian miring, dinding batanya melapuk dimakan usia, dan seluruh jalannya struktur bangunan hanya bersandar pada topangan batang-batang bambu yang dipasang seadanya.
Kondisi rumah tersebut begitu rapuh dan menakutkan, hingga tiga anak laki-laki yang mendiaminya terpaksa membuat emperan darurat di luar rumah sebagai tempat tidur sementara karena menghindari risiko tertimbun bangunan jika sewaktu-waktu ambruk saat mereka terlelap.
Di balik dinding retak itu, tersimpan kisah keteguhan sebuah keluarga yang diuji cobaan bertubi-tubi. Rumah itu adalah milik almarhum Moh. Arifin, seorang pria yang dikenal baik dan jujur, ia pernah mengabdikan dirinya sebagai Ketua RT setempat.
Namun, dedikasi sosial tidak secara otomatis menjamin kesejahteraan ekonomi keluarganya. Kehidupan almarhum dan anak-anaknya sangat sederhana bahkan jauh dari kata cukup.
Ujian pertama menghantam pada tahun 2022, ketika sang istri, Nani (46) meninggal dunia akibat terpapar pandemi Covid-19. Belum genap luka itu mengering, penderitaan kembali datang menghampiri. Sang suami, Moh. Arifin (53), menyusul berpulang ke rochmatulloh pada akhir tahun 2025.
Kepergian kedua orang tua secara beruntun meninggalkan enam anak yang harus berjuang menata kembali kehidupan pasca ditinggal sang ayah wafat: Agus (38), Arinta (34), Samsul (28), Andrian (24), Tedi (22), dan si bungsu Dimas Ramadhan (12) yang kini masih duduk di bangku kelas 7 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sebelum Arifin wafat, dipertengahan tahun 2025, Subiyati, Bendahara Organisasi Dhilal Berkat Rochmat Alloh Shiddiqiyyah (DHIBRA) Bogor, melakukan penyisiran lapangan untuk survei mencari kandidat penerima "Rumah Syukur"—sebuah program pembangunan rumah tidak layak huni dari Organisasi DHIBRA Shiddiqiyyah untuk masyarakat yang membutuhkan.
Subiyati menghubungi pengurus RT Tlajung Udik untuk bertanya apakah ada warganya yang sangat membutuhkan bantuan hunian. Tak disangka dari percakapan tersebut Subiyati mendapat jawaban yang mengejutkan.
"Rumah saya mbok dicek, Bu. Rumah saya hampir ambruk," ujar Arifin kala itu, yang ternyata merujuk pada rumahnya sendiri.
Didorong rasa penasaran dan kepedulian, Subiyati mendatangi lokasi. Matanya menyaksikan sendiri pemandangan yang memilukan. Rumah Arifin sangat tidak layak huni. Pengurus DHIBRA Bogor segera bergerak cepat merencanakan pembangunan. Namun, setelah diselidiki rumah milik Arifin ternyata belum memiliki sertifikat resmi.
Sesuai prosedur program Rumah Syukur Shiddiqiyyah, penerima bantuan wajib memiliki tanah milik pribadi yang bersertifikat resmi atas nama sendiri. Sementara itu, tanah yang ditempati Arifin masih menyatu dalam satu surat milik orang tuanya.Pengurusan pemecahan sertifikat memakan waktu yang tidak singkat. Karena asas keterbatasan waktu dan kondisi mendesak, bantuan Rumah Syukur periode 2025 akhirnya terpaksa dialihkan terlebih dahulu kepada warga lain yang kondisinya juga membutuhkan.
Namun, dipenghujung tahun 2025 Arifin dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Sebelum sempat menyelesaikan pengurusan legalitas tanahnya. Ia wafat meninggalkan anak-anaknya dalam kerentanan, tanpa sempat melihat rumah impiannya berdiri.
BAHU MEMBAHU MENYAMBUNG WASIAT AYAH
Kepergian Arifin menjadi ujian kedewasaan bagi anak-anaknya. Tiga anak tertua—Agus, Arinta, dan Samsul—memang telah berumah tangga dan tinggal terpisah. Namun, Agus sebagai anak sulung tak melepaskan tanggung jawab begitu saja. Ia mengambil peran sang ayah untuk memayungi adik-adiknya. Dengan tinggal tak jauh dari rumah orang tua, Agus terus memantau tiga adiknya yang masih tinggal di rumah lapuk tersebut: Andrian, Tedi, dan Dimas.
Kehidupan tiga bersaudara di rumah tua itu dipenuhi perjuangan keras. Andrian kini bekerja serabutan setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah pabrik. Adiknya, Tedi, bekerja di industri kayu melalui jalur yayasan dengan penghasilan pas-pasan—sekitar Rp2.000.000 per bulan. Angka itu harus dicukup-cukupkan untuk biaya hidup harian dan menyekolahkan Dimas.
REALISASI RUMAH SYUKUR UNTUK KETIGA AHLI WARIS ARIFIN
Memasuki tahun 2026, kondisi rumah peninggalan almarhum semakin mengkhawatirkan. Bambu-bambu penyangga makin melemah. Melihat situasi kritis ini, organisasi DHIBRA bersama warga Shiddiqiyyah Bogor memutuskan untuk menindaklanjuti pembangunan Rumah Syukur bagi ahli waris Almarhum Arifin. Momen ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Tasyakkuran Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI ke-81.
Agus, selaku anak sulung, langsung turun tangan mengurus tuntas berkas-berkas dan surat tanak milik orang tuanya yang sempat terbengkalai. Sesuai wasiat almarhum orang tua mereka, rumah tersebut tidak boleh dijual dan harus dijadikan rumah induk bagi keluarga.
Kini, kecemasan itu perlahan berganti menjadi senyum penuh haru. Di atas tanah warisan keluarga, sebuah bangunan permanen berukuran 8x7 meter mulai menampakkan wujud kokohnya. Pembangunan ini menggunakan jatah lahan milik Andrian dan Tedi, yang disepakati akan menjadi "Rumah Induk" bagi seluruh saudara sesuai wasiat sang ayah agar tanah tersebut tidak dijual.
Dengan estimasi biaya total mencapai Rp160 juta, proyek ini telah menembus progres 50 persen. Atap asbes gelombang mulai terpasang rapi, dan proses plester-aci pada dinding-dinding sedang berjalan.
Tangis keharuan tak mampu ditahan oleh Andrian dan Tedi. Ketika pertama kali diberitahu bahwa rumah mereka akan dibangun secara gratis, oleh Orgnanisasi DHIBRA Bogor. Mereka sempat terpaku tak percaya.
"Awal mula anak-anak dikasih tahu kalau mau dibangunkan rumah, mereka tidak percaya. Rasanya seperti mimpi, semuanya terharu," kenang Subiyati saat menceritakan awal mula memberitahu anak-anak almarhum akan dibangunkan rumah gratis.
Solidaritas sosial pun terlihat kompak di Desa Tlajung Udik. Saat proses pembongkaran rumah tua dimulai, warga sekitar dan para tetangga berbondong-bondong datang untuk membantu meruntuhkan dinding tua dan mengangkut material bersama-sama. Gotong royong yang hangat itu sebagai balasan atas kebaikan almarhum Arifin semasa hidupnya.
Rumah Syukur yang sedang dibangun ini dirancang memiliki tiga kamar tidur, dua kamar mandi, ruang tamu, ruang makan, dan dapur yang bersih. Bagi Dimas Ramadhan dan kakak-kakaknya, pembangunan rumah syukur ini bukan sekadar bangunan. Tetapi babak baru sebuah akhir dari rasa takut akan atap yang roboh dan awal dari kehidupan yang lebih nyaman di bawah naungan rumah yang kokoh. (OPSHID Media)
- OPSHID Serahkan 7 Rumah Gratis Siap Ditempati
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945