Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

02 Juli 2026 07:00

Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air

BAGAIMANA MENCINTAI NEGARA YANG TIDAK MENCINTAI RAKYATNYA?

Banyak yang membuang narasi cinta tanah air ke tong sampah, akibat patah hati sebagai tuan rumah yang tidak merasa memiliki tanah airnya sendiri. Seperti cinta yang bertepuk sebelah tangan—kata mereka. Dan rasa itu tak pantas diremehkan; ia lahir dari lelah yang nyata.

Tapi mari kita tilik lebih dekat: siapa sebenarnya yang tidak membalas cinta itu? Bukan tanah airnya. Bukan pula laut, hutan, sungai, dan udara yang tiap hari menghidupi kita. Karena sebagaimana dinyatakan di atas: tanah air adalah bentuk konkret cinta dari Tuhan untuk manusia.

Cinta tanah air sejatinya adalah urusan iman, ideologi, dan prinsip dalam setiap individu—janganlah dimaknai sebagai bahan orasi para penguasa untuk ‘mengontrol’ rakyatnya.

Oleh sebab itu, untuk menjawab pertanyaan di atas: “bagaimana mencintai negara yang tidak mencintai rakyatnya?” Sejatinya tidak ada negara yang tidak mencintai rakyatnya, yang tidak mencintai anda adalah para pelayan yang tidak cinta tanah air dan tidak amanah dalam menjalankan perannya di negara.

Maka seruan ini tidak hanya tertuju pada anda yang tiap hari berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup; yang bangun pagi, menempuh perjalanan panjang, dan pulang malam dengan basah kuyup dan kelelahan. Tidak hanya untuk petani yang mencangkul, nelayan yang berlayar, guru yang mengajar, pedagang di pasar, buruh di pabrik, maupun seniman yang berkarya. Pesan ini juga, dan terutama, untuk anda: para politikus yang berdiplomasi, pebisnis yang meneken kontrak miliaran, wakil rakyat yang mewakili rakyat, pejabat yang menyusun kebijakan, dan semua yang berada di lingkaran itu.

Untuk mewujudkan rumah bagi ratusan juta jiwa—yang mencintai semua lapisan penghuninya, maka semua lapisan rakyat itu juga harus mencintai rumahnya. Tanpa terkecuali.

Orang yang tidak cinta tanah airnya, pastilah orang itu tak memiliki rasa sayang. Tidak sayang pada lautan, hutan, daratan, sungai, ladang, udara, kota yang ada di negerinya. Dan pula tidak akan ada rasa sayang apabila mereka itu sendiri berbuat kerusakan di hutan, daratan, sungai, ladang, udara, dan kota. Selain itu, tidak akan ada rasa sayang terhadap manusia-manusia lain yang tinggal di negerinya—yang ikut makan, minum, dan beraktivitas dengan adanya hutan, daratan, sungai, ladang, udara, dan kota. Khianat kepada manusia-manusia terdahulu yang menjaga tanah air untuk kita tinggali sekarang, khianat kepada manusia-manusia yang sezaman dengan kita, dan khianat kepada manusia-manusia yang akan datang.

Tanpa cinta tanah air yang membentengi, rasa sayang pada sesama ikut runtuh. Dari sanalah persatuan retak, percekcokan tumbuh, dan bangsa terancam terbelah. Maka tepatlah bila cinta tanah air kita sebut sebagai benteng: benteng yang melindungi NKRI dari kerusakan, dan menjaga rumah ini tetap layak dihuni oleh siapa pun yang mewarisinya kelak.

“Tanpa adanya cinta tanah air, maka robohlah negara itu”

- Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi. 


---------

Data statistik bersumber dari:

  • Trading Economics
  • Pertamina
  • Kementerian Ketenagakerjaan RI
  • Bank Indonesia
  • Badan Pusat Statistik (BPS)
  • Indikator Politik Indonesia

Referensi penulis:

  • Al-Qur'an (QS Al-Mu'minun: 12; QS Al-A'raf: 25; QS Al-Jatsiyah: 13)
  • Undang-Undang Dasar 1945
  • Ajaran cinta tanah air di Shiddiqiyyah oleh Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi

Penulis:

Editor: Nuraida