ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)
22 September 2023 17:30
Kyai Achmad Syuhada’ lahir di daerah Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, urutan silsilahnya sebagai berikut : Kyai Ahmad Syuhada’ bin Kyai Moyo atau Syekh Abdul Mutholib bin Syekh Nurul Iman bin Syekh Ahmad Al-Mahali bin Syekh Ahmad Al-Jamali bin Syekh Akbar Al-Maghribi bin Syekh Ja’far Al-Hadlromi. Menurut tutur cerita yang terhimpun, masa pergerakan Kyai Achmad Syuhada’ berbarengan dengan masa pergerakan yang dilakukan Pangeran Diponegoro, tercatat dalam naskah – naskah historis Perang Jawa terjadi pada tahun 1825 – 1830 M.
Untuk mengetahui betapa besarnya arti perjuangan dalam Perang Jawa saat itu mari kita kupas selayang pandang keadaan masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dalam permulaan abad ke 19, yang sebenarnya merupakan masyarakat yang sedang dalam masa transisi, yakni transisi dari tangan penjajahan kerajaan Belanda jatuh ketangan kerajaan Inggris kemudian kembali ketangan penjajahan Belanda, yang berusaha meng-konsolidir pemerintah jajahannya. Ada tiga hal yang dapat menjadi gambaran jelas kondisi rakyat awal abad 19 :
DARI SUDUT POLITIK
Nasib penduduk Indonesia ketika itu terang sangat memprihatinkan. Perubahan ketatanegaraan yang terjadi pada tahun 1795 M. mempengaruhi keadaan di Jawa. Dengan sendirinya Nederland yang termasuk juga Hindia Belanda ketika itu ikut terlibat dalam peperangan antara Perancis dengan Inggris. Ketika Nederland dijajah oleh Perancis, Rakyat Hindia Belanda pun terpaksa ikut berperang melawan Inggris yang saat itu sedang berjaya. Demikian buruknya nasib Hindia Belanda ketika itu hingga diantara tahun 1811 – 1816 M. Kekuasaan di Indonesia dipegang oleh penjajah Inggris, dengan Lord Minto dan Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpinnya. Peralihan pemerintahan dari Nederland ke Inggris menimbulkan gejolak batin yang juga dirasakan oleh rakyat, kegamangan terjadi akibat politik devide et impera yang semakin merajalela di kalangan bangsawan.
Tindakan Raffles pada tahun 1812 M menyerbu keraton Yogyakarta serta merampas harta kekayaan keraton yang diantaranya 750.000 ringgit, emas, intan dan pusaka keraton menimbulkan kebencian yang lebih besar kepada orang-orang Inggris. Pun terjadi di jaman pemerintahan Raffles, bahan-bahan mentah yang dihasilkan tanah air tak dapat berlayar ke tanah Inggris, tanah Eropa, bahkan Amerika. Disebabkan perang yang pecah antara tahun 1812 – 1814. Dengan kondisi terhimpit, Raffles membuat kebijakan untuk menjual tanah-tanah kepada orang-orang partikelir Hindia Belanda yaitu bangsawan yang pro penjajahan untuk menutup ongkos pemerintahan jajahan Inggris.
Hingga pada 19 Agustus 1829 pemerintahan di Djakarta diserahkan oleh pihak Inggris kepada komisaris Jendral yang terdiri dari Elout, Buyskes dan Van Der Capellen. Tindakan Belanda yang memonopoli cengkeh, pala dan rempah lainnya dikembalikan lagi, sedangkan hal ini oleh pihak penjajah Inggris telah diperlunak bahkan ada beberapa peraturannya dihapuskan.
- Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak
- Syukuri Tahun Baru 1448 Hijriyyah di Grobogan, Sang Mursyid Ungkap Hikmah Dibaliknya
- Pilar Syukur Dalam Lima Proyek Khususul Khusus Shiddiqiyyah
- Rumah Jadi Dalam 12 Hari, Ini Rahasia Percepatan Pembangunan di Kudu, Jombang
- Dari Zona 1 untuk Khususul Khusus: Ketika Satu Excavator Membawa Pesan Besar
- Bantuan Rumah Gratis di Tanggamus, Wujud Syukur Kemerdekaan Indonesia ke 81
- Shiddiqiyyah Bangunkan Rumah Untuk Orang Tua Tunggal di Pati
- Optimisme Atau Nasionalisme Buta? Mengkaji Ulang Makna Cinta Tanah Air
- Tantangan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Warga Shiddiqiyyah Bangun Rumah Syukur di Lampung Tengah
- Sambut Kemerdekaan Indonesia, 2 Unit Rumah Syukur Dibangun di Semarang