Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Opini & Esai

Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)

· 6 menit baca · Diperbarui

Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)

Dari tiga hal tersebut dapat menjadi gambaran jelas bagaimana kondisi rakyat awal abad 19 yang dalam masa transisi pemerintahannya. Dan dalam taraf peralihan ini pihak penjajah bangsa Nederland berusaha mencari pengaruh di kalangan anak negeri Hindia Belanda, terutama pemimpin kerajaan maupun para pangerannya, dan orang-orang yang memiliki pengaruh besar di kalangan rakyat. Di sisi lain pihak Inggris tidak begitu saja dengan sukarela meninggalkan tanah jajahan ini.

Dan dengan sendirinya ketika masyarakat berada dalam masa transisi, meletuslah perang batin. Juga dalam pertempuran, timbulah hasutan-hasutan yang mengakibatkan permusuhan dan persengketaan antara pemimpin bangsa kita sendiri. Siasat devide et impera pun membuat keinginan rakyat atas kemerdekaan bangsa semakin berkobar. Perebutan pengaruh antara Sultan Sepuh dan putranya Sultan Raja yang bertahta, diperbesar dan selalu diprovokasi oleh pihak Belanda maupun Inggris, mengakibatkan timbulnya suasana tidak tentram di kalangan Keraton yang kemudian berpengaruh pula pada kondisi rakyatnya.

Atas desakan rakyat yang tidak bisa menerima lagi segala bentuk sistem jajahan maka pecahlah Perang yang dimulai pada 19 / 20 Juni 1825 di Tegalrejo. Peristiwa bermula karena Raden Adipati Danurejo telah terpengaruh hasutan pihak penjajahan hingga tak lagi mendengarkan kakaknya yaitu Pangeran Diponegoro. Dan karena pecahnya dentuman meriam-meriam di Tegalrejo, rakyat pun merasa terpanggil untuk turut serta melawan penjajahan melalui komando Pangeran Diponegoro. Sehari setelah mendengar adanya peristiwa tersebut banyak kalangan menyatakan bergabung dengan pasukan Pangeran Diponegoro termasuk para Ulama’ yang telah memprediksi akan adanya Perang Jawa yang berawal dari tengah kepulauan Jawa.

Tak terkecuali Achmad Syuhada’, merasa terpanggil untuk ikut serta melawan penjajah. Dengan dasar agama yang kuat yang telah tertanam sejak kecil dan kecerdikan yang beliau miliki, menjadikan Kyai Achmad Syuhada’ berada di posisi vital yang berkaitan dengan strategi peperangan. Ditambah kemampuan beliau dalam membaca situasi-kondisi serta kepintarannya dalam membuat sandi /kode, beliaupun dengan mudah mengatur segala strategi agar memperoleh kemenangan demi kemenangan. Kyai Ahmad Syuhada’ tergabung sebagai Bekel Telik Sandi atau istilah sekarang adalah mata-mata. Karena masuk dalam pasukan khusus dalam Perang Jawa, Achmad Syuhada’ memiliki banyak nama samaran yang hingga saat ini masih sulit untuk menelusuri jejaknya.

-------

(OPSHID Media)

Tulisan ini adalah bagian satu dari dua seri Jurnal Edisi Spesial Kyai Achmad Syuhada'. Baca bagian dua disini.

Sumber:

  • Rangkuman tutur cerita Kyai Moch. Muchtar Mu’thi dan Maulana Moch. Subchi Azal Tsani.
  • Kenang-Kenangan 100 Tahun Wafatnya Pahlawan Diponegoro (1955) oleh Kementerian Penerengan.
  • Penaklukan Dunia Islam (1968) oleh O. Hashem
  • Jejaring Ulama Diponegoro oleh Zainul Milal Bizawie.
  • Kuasa Ramalan oleh Peter Carey.
  • Raden Saleh : Anak Belanda, Mooi Indie dan Nasionalisme oleh Peter Carey.
Tulisan ini merupakan opini/esai penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap redaksi OPSHID Media.

Penulis:

Editor: Sa’adatush S.