ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)
22 September 2023 17:30
DILIHAT DARI EKONOMI RAKYAT
Sistem feodal dengan penarikan pajak dan bulubekti dari rakyat untuk hamba keraton yang diberi hak menempati tanah Sri Sultan dan Sri Susuhunan, dan ditambah dengan penarikan cukai yang dilakukan pachter-pachter Tionghoa membuat rakyat amat memprihatinkan. Dengan bermacam-macam pajak yang harus dibayar oleh rakyat kecil yang diantaranya pajak peletre, pakeplok dalam keramaian mengundang ronggeng dan pajak kuduran untuk dapat dibebaskan dari kerja paksa disawah kaum feodal. Dan masih banyak jenis pajak yang kurang lebih ada 34 macam yang semuanya harus dibayar oleh rakyat. Beban pembayaran pajak pada rakyat tak ubahnya membuat rakyat kecil semakin ter-miskinkan oleh keadaan. Peraturan pengolahan ekonomi Hindia Belanda tidak pernah sampai menimbulkan kesejahteraan rakyat.
Sistem kerja paksa serta perampasan hak tanah juga menjadi persoalan yang tak kunjung usai, bangsa kita yang terkenal dengan sifat nriman-nya (serba menerima—red) seolah dipaksa untuk mematuhi peraturan, karena mereka pun tak memiliki pilihan jika ingin tetap hidup di tanah airnya. Dengan sistem pemerintah Hindia Belanda 100% buatan para penjajah, yang jika ditela’ah lebih dalam tidak ada sistem ketatanegaraannya yang menguntungkan bagi rakyat. Pemberlakukan sistem itu hanya akan memperkaya satu kelompok atau golongan saja. Sistem ketatanegaraan yang ada pada era Majapahit hingga awal mula Mataram tak lagi digunakan, diganti oleh sistem hasutan yang berupa usulan-usulan dari negara-negara kolonial berupa sistem ekonomi kapitalis. Ekonomi kapitalis disini terbagi menjadi dua: Ekonomi Kapitalis yang dipusatkan kepada perseorangan disebut Kapitalis Individu sedangkan Ekonomi kapitalis yang dipusatkan kepada kepentingan bersama dinamakan Komunis. Namun keduanya merupakan sistem ekonomi yang berlandaskan pada azas Materialisme.
ADANYA DEMORALISASI DI KALANGAN BANGSAWAN
Pihak penjajah khususnya Belanda berusaha agar para bangsawan terjangkit penyakit demoralisasi, yaitu usaha untuk menurunkan akhlak atau moral seseorang. Memperkenalkan tradisi barat yaitu berpesta dengan minum-minuman keras serta berdansa hingga pagi yang jauh nilainya dari tradisi bangsa kita. Ditambah dengan dikembangkannya acara pelesiran dengan dalih berburu yang sifatnya besar-besaran. Kemerosotan moral yang ditanamkan oleh pemerintah Belanda yang ingin menjerumuskan para bangsawan ke dalam jurang kesengsaraan dan kenistaan, itu semua untuk mempermudah sifat-sifat penjajahan masuk dengan sendirinya. Dimunculkannya cerita kehebatan orang-orang benua eropa, penanaman sistem geopolitik yang dibuat koloniasme, dan diajarkannya faham kebebasan yang jauh dari nilai kemerdekaan sejati.
Pudjangga Jasadipura II menggambarkan keadaan saat itu dalam naskahnya :
“Djanganlah membanggakan diri sebagai pembesar. Mengaku keturunan Brawidjaja dari Madjapahit : tapi tidak sakti, Mengaku keturunan pendita : tidak tahan lapar, Mengaku anak pudjangga : buta huruf, Mengaku anak seorang pandai : pikirannja kalut, Mengaku anak alim ulama’ : tidak bisa membatja Al Qur'an, Mengaku anak tjina : tidak pakai kutjir, Mengaku anak santri : tidak dapat membatja Qul Hu”.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak