ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar, Pasukan Borjumu’ah dan Laskar Berjaket Biru
16 September 2024 12:00

Kyai Achmad Sanusi Abdul Ghoffar berasal dari Pati, Jawa Tengah. Beliau merupakan Mursyid Thoriqoh Sathoriyyah. Kyai Sanusi dan saudara sepupunya Kyai Achmad Zamrozi ikut berjuang melawan penjajahan bersama-sama dengan bergabung dalam pasukan Perang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro.
Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghoffar sejak kecil juga mengenyam pendidikan di lingkungan langgar, yang sekarang dikenal dengan sebutan pesantren. Lahir dari lingkungan yang kental dengan nuansa ajaran Islam menjadikan beliau sosok yang religius.
Ditambah gambaran lingkungan tahun 1700 akhir hingga awal-awal 1800 yang rakyatnya telah kenyang dengan sifat buruk penjajah dan kemiskinan tersistematis. Dengan kondisi rakyat yang sangat menderita membuat Kyai Sanusi yang memiliki dasar pendidikan agama dan nilai kebangsaan yang kuat tergerak ikut serta menjadi bagian dalam Perang Jawa.
NASIONALISME JAWA ABAD 18-19
Penulis Peter Carey, meski dalam bukunya sering berubah pendapat mengenai nasionalisme dan pengaruh Islam di jawa, namun ada hal menarik yang pernah disebutkan: “peristiwa pemberontakan pertama yang terjadi di keraton Jawa tengah bagian selatan, yang pecah dari akar persoalan masalah penderitaan sosial dan ekonomi rakyat dan bukan pada ambisi dinasti elite istana". Yang bisa diartikan, kebangkitan nasionalisme Indonesia ini diikuti secara luas oleh rakyat bukan hanya kalangan elite.
ssejarawan dan akademisi politik Amerika Serikat, George McTurnan (1952) menyimpulkan nasionalisme Indonesia berakar pada tradisi Islam di Nusantara; Pesantren. Menurutnya, Agama Islam bukan hanya tali pengikat. Agama Islam merupakan simbol kelompok (in-group) dalam melawan penyusup sekaligus penindas asing yang menganut agama berbeda. Islam justru menyediakan saluran paling awal dari perkembangan nasionalisme Indonesia yang modern dan matang; suatu saluran yang sampai sekarang masih memiliki peran signifikan.
Keberadaan nasionalisme atau cinta tanah air di Indonesia ini memang tidak bisa terpisahkan dari peran Ulama’ dan ajaran Thoriqohnya. Pergerakan selalu di mulai dengan adanya kedewasaan spritualistas diri yang kemudian dapat membuka mata dan telinganya untuk memahami keadaan rakyat disekitarnya.
Sehingga kedatangan penjajah di Jawa pada era Sultan Agung (1628), dapat memberi sinyal ancaman yang kuat. Di mana awalnya penjajah datang dengan membawa janji perdagangan dengan hasil tinggi dan menawarkan kerjasama yang secara struktural membawa pemikiran materialisme pada diri bangsawan.
Penyakit keterikatan pada hal-hal keduniawian. Siapa yang pertama kali terjangkit? Tentu orang-orang yang terlibat komunikasi dengan asing/kolonialisme, dengan adanya jaminan kemudahan memperoleh materi yang dapat melanggengkan kekuasaan.
Demoralisasi dikalangan keraton inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab munculnya perlawanan pada Perang jawa. Baca juga: Kyai Achmad Syuhada’ dan Penguatan Cinta Tanah Air di Jawa (BAGIAN 1)
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur