Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar, Pasukan Borjumu’ah dan Laskar Berjaket Biru

16 September 2024 12:00

Kyai Achmad Sanusi Tamriz Abdul Ghofar, Pasukan Borjumu’ah dan Laskar Berjaket Biru

PERAN ULAMA’ DALAM PERANG JAWA

Selain membuat strategi peperangan, peran yang dilakukan kalangan Ulama’ yang tidak kalah penting adalah dengan membentuk pasukan dan menyiapkan mental-mentalnya. Dalam Kuasa Ramalan jilid II (hal.740) : bagaimana pengaruh-pengaruh keagamaan telah sangat berperan kuat, -Elout menceritakan bagaimana dalam hampir semua pertempuran kelompok Ulama’ telah membantu memperkuat semangat juang tantara Diponegoro dengan menyerukan ayat-ayat Al Qur-an. -Dan mereka (para prajurit laki-laki maupun perempuan) maju ke medan tempur dengan melakukan dzikir.

Kyai Sanusi dan Kyai Zamrozi termasuk dari golongan Ulama’ yang ikut serta mempersiapkan mental pasukan yang turun dalam medan tempur. Menumbuhkan jiwa-jiwa patriot agar tak mudah terhasut bujuk rayu pihak asing. Serta memastikan para ksatria/laskar masih dalam jalur satu komando, yang di mana siasat devide et impera telah menjadi tabiat kaum penjajah untuk menghancurkan persatuan. Sehingga korps pasukan seperti Turkiyo, Bulkiyo dan Borjumuah tetap berjalan dengan metode: tetap dalam satu komando.

Metode satu komando ini jika kami telusuri maksud kegunaanya adalah sebagai salah satu strategi perlawanan untuk merusak siasat devide ey impera  yang telah menjadi ciri khas penjajahan. Strategi ini dianggap berhasil, pasalnya metode ini dapat membuat komandan tentara Belanda di lapangan cukup cemas dengan pengaruh Ulama’ yang berada di samping Pangeran Diponegoro (Kuasa Ramalan II, Bab XI).

De Stuers (1847) melukiskan masing-masing pasukan Diponegoro sebagai berikut: Pasukan Bulkio, Borjumuah dan Turkiyo berikat kepala (serban) putih jaket berwarna biru, Harkio mengenakan serban hijau dan jaket berbagai warna, Pinilih mengenakan serban hitam bergaris putih berjaket merah, Larban dan Naseran mengenakan serban hitam jaket bermacam-macam warna, Suropadah mengenakan serban biru dengan garis putih jaket bergaris putih, Sipuding dan Jagir mengenakan serban putih jaket berbagai warna, Surotandang dan Jayengan mengenakan serban merah dan jaket putih, Surogama dan Wanaprang mengenakan serban putih jaket hitam.

 

PASUKAN BORJUMU’AH

Ada beberapa pendapat mengenai pasukan Borjumuah ini, baik dari sisi jumlah dan siapa saja yang termasuk di dalamnya. Dalam catatan Belanda maupun Babad Diponegoro tidak menyebut pasti bagaimana pasukan Borjumuah ini terbentuk.

Pada jurnal sebelumnya Kyai Achmad Syuhada' dan Jaringan Thoriqoh Penjaga Spirit Perlawanan Kolonialisme, telah disebutkan bahwa pembentukan korps pasukan Perang Jawa ini terinspirasi dari nama-nama pasukan Ottoman Turkiye.

Dalam catatan Peter Carey disebutkan dalam Kuasa Ramalan II bab XI: Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah Al-Ansari dan menantunya, yang di kenal sebagai Syekh Ahmad, dua-duanya berasal dari Jeddah, dan Syarif Samparwedi (Hasan Munadi), yang merupakan komandan resimen kawal Diponegoro, Barjumungah, yang beranggotakan “Ulama” yang jelas dapat dikenali sebagai orang Arab.

Diceritakan dalam Babad Diponegoro (Manado 1831-1832) bahwa pembentukan korps pasukan kawal berkuda Pangeran Diponegoro diresmikan di Dekso pada awal Perang Jawa 1826 yang anggotanya  berjumlah 40 prajurit, mereka direkrut dari kalangan Ulama’ di bawah pimpinan Kyai Mojo.

Namun dari catatan Ki Salendra Yoga,  ada versi cerita lain dari sumber Jawa yang mengatakan bahwa nama Borjumuah atau Barjumungah ini terinspirasi dari satu kegiatan pertemuan atau musyawaroh para Ulama dalam pasukan Diponegoro setelah mereka selesai menjalankan ibadah sholat jumat. Arti dalam bahasa jawa disebut “Bar Jumuah” atau setelah jumatan.

Dan pasukan khusus ini menurut tutur cerita, salah satunya dikenal dengan Cak Shiddiq,  menceritakan Berjumu’ah ini memiliki anggota 21 yang terdiri dari Ulama’ warosatul anbiya’. Siapa saja 21 Ulama’ tersebut? hingga saat ini belum menemukan data pastinya, serta ada dugaan jumlahnya lebih banyak dari yang sering dibicarakan oleh masyarakat. Ditambahkan pula di antara 21 ulama’ tersebut juga ada Kyai Ahmad Sanusi Tamriz Abdul Ghoffar, Kyai Ahmad Zamrozi, Kyai Ahmad Mujarot dan Kyai yang sekarang makamnya berada di Gunung Kawi, Malang serta masih ada beberapa yang belum kami ketahui namanya.

Penulis: Kholidah

Editor: Sa’adatush S.