Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Masih Keturunan Rosululloh, Saat Kyai Mukhtar Lahir Ada Tanda Akan Menjadi Pemimpin Umat

05 Juni 2024 07:00

Masih Keturunan Rosululloh, Saat Kyai Mukhtar Lahir Ada Tanda Akan Menjadi Pemimpin Umat

JOMBANG - Kyai Moch. Muktar Mu’thi adalah Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia. Beliau lahir pada Ahad Kliwon menjelang fajar, tanggal 28 Robi’ul Akhir 1347 H / 14 Oktober 1928 M. Beliau lahir di desa Losari Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang Jawa Timur. Beliau merupakan putra ke-enam dari pasangan KH. Abdul Mu’thi dan Nyai Siti Nasichah.

Ayah Beliau, KH. Abdul Mu'thi adalah putra KH. Ahmad Syuhada. Sedangkan Kyai Syuhada merupakan cucu Sunan Kalijaga, yang juga masih keturunan Adipati Wilwatikta, Tuban, Raden Syahur. Raden Syahur adalah suami dari putri Raja Brawijaya V dari Majapahit. Raden Syahur sendiri merupakan keturunan Ibnu Abbas, paman Nabi Muhammad SAW. 

Sedangkan ibu Kyai Mukhtar, Nyai Nasichah, cucu KH. Ahmad Zamrozi yang merupakan keturunan Syarif Hidayatulloh atau Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati merupakan keturunan Ja'far Sodiq, dan Ja'far Sodiq adalah cucu Zainal Abidin, putra Husain RA. Dan Husain bin Ali adalah cucu Nabi Muhammad SAW. 

Itulah silsilah nasab Beliau dari ayah dan ibunya yang ternyata sama-sama keturunan Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi ditandai dengan terjadinya peristiwa bencana badai besar yang melanda daerah Ploso pada tahun 1928. Rumah-rumah penduduk banyak yang hancur berantakan bahkan dari kejadian tersebut juga menelan beberapa korban jiwa, masyarakat Ploso menyebutnya dengan istilah prahoro (prahara-red). Namun anehnya di tengah-tengah badai yang melanda daerah tersebut, ada satu rumah yang masih kokoh berdiri seakan tidak terjadi apa-apa. Di rumah itulah Kyai Mukhtar dilahirkan. 

Tanda Kyai Mukhtar menjadi seorang Ulama Agung Warosatul Anbiya saat ini, rupanya sudah diterima oleh Nyai Nasichah sejak dahulu. Beberapa saat setelah peristiwa prahoro terjadi, Nyai Nasichah bermimpi bahwa di kediamannya memancar sebuah mata air kecil yang jernih. Mata air tersebut lambat laun terus membesar dan meluber kemana-mana, airnya mengalir ke segala arah penjuru rumah.

Mimpi tersebut kemudian dikabarkan pada Abah Nyai Nasichah, yakni Kyai Falal. Setelah mendengar mimpi tersebut Kyai Falal memberitahu Nyai Nasichah jika mimpi tersebut adalah sebuah isyaroh (tanda) bahwa dari anak Nyai Nasichah kelak terpancar ilmu yang akan diangsu oleh orang banyak dari berbagai penjuru daerah. Ngangsu artinya mengambil air, diangsu ilmunya berarti diambil ilmunya layaknya mengambil air di sumur. 

Kini mimpi itu menjadi kenyataan, Kyai Mukhtar di masa sekarang telah menjadi Ulama Agung dan seorang Mursyid yang memimpin dan diikuti jutaan orang dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah Indonesia. Layaknya sumber air yang jernih, jutaan orang telah ngangsu berlian-berlian ilmu-ilmu yang berharga dari Kyai Mukhtar.

Penulis: Nur Mika Sari

Editor: Sa’adatush S.