ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Masih Keturunan Rosululloh, Saat Kyai Mukhtar Lahir Ada Tanda Akan Menjadi Pemimpin Umat
05 Juni 2024 07:00

Latar Belakang pendidikan
Seperti anak pada umumnya, Kyai Mukhtar juga mengenyam pendidikan formal. Pada tahun 1936 Beliau mulai masuk sekolah Madrasah Ibtidaiyyah di Ngelo (sekarang MI Nizhomiyyah Rejoagung). Namun keikut sertaan Beliau dalam pendidikan formal hanya berjalan dua tahun, lantaran MI Ngelo dibubarkan. Selama bersekolah di MI Ngelo pelajaran yang paling disukai adalah menulis huruf khat Arab/Al Qur’an dan menghafalkannya.
Kemudian pada tahun 1943 saat usianya sekitar 15 tahun, Kyai Mukhtar mulai nyantri di Pesantren Rejoso (Darul Ulum), Peterongan, Jombang. Namun baru enam bulan mengenyam pendidikan di Rejoso Beliau pindah ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.
Di Bahrul Ulum, Kyai Chamid Chasbulloh selaku guru sekaligus pengasuh pesantren tersebut, memberikan tugas khusus kepada Kyai Mukhtar untuk menyimak hafalan al Qur-an Kyai Chamid setiap selesai sholat Ashar. Selang beberapa saat, Kyai Chamid menurunkan amalan khusus yang hanya diberikan kepada Kyai Mukhtar. Amalan tersebut adalah amalan QS. Al Alaq ayat 1-5 (iqro').
Selang delapan bulan setelah Kyai Mukhtar nyantri di Pesantren Bahrul Ulum, kesehatan abahnya, Kyai Hajj Abdul Mu’thi menurun. Sehingga Kyai Mukhtar dipanggil pulang untuk membantu menjaga abahnya, dan juga membantu mencari nafkah guna mencukupi kebutuhan keluarga.
Jika dihitung, keseluruhan masa pendidikan Kyai Mukhtar di dua pesantren tua di Jombang tersebut hanya sekitar 14 bulan. Namun meski dalam waktu yang terhitung singkat itu, Beliau telah mendapatkan banyak bekal ilmu, antara lain dari segi ilmu Nahwu Shorof, feqih, ilmu Kalam, dan Ushuluddin. Khususnya, amalan Iqro' khusus yang diturunkan oleh Kyai Chamid pada Beliau.
Hingga sekarang, amalan itu lestari dan diturunkan kepada murid-murid beliau khususnya di Madrasah Linailil Minal Maqooshidil Qur-aanil Mubiin (MQ). Beliau selalu menyampaikan, bahwa setelah mengamalkan amalan tersebut, beliau merasa seperti digerojok oleh ilmu yang melimpah. Subchaanalloh, alchamdulillah, astaghfirulloh, ilmu yang melimpah ruah tersebut telah menghasilkan kemanfaatan yang banyak untuk jutaan jama'ah Thoriqoh Shiddiqiyyah dan untuk Indonesia Raya. (OPSHID Media)
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur