ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Bulan ‘Asyuro dan Ibroh di Balik Peristiwa-Peristiwa Dahsyatnya
16 Juli 2024 00:39
Bulan Muharrom atau Suro, bulan pertama menurut kalender umat islam, Hijriyyah. Dalam sejarahnya, banyak kisah menarik dan nilai keutamaan, laksana gelap dan terang.
Dikatakan gelap, karena peristiwa pembunuhan cucu Rosululloh SAW, yaitu Sayyidina Husain RA dan dikatakan terang, sebab sering disebut sebagai Hari Raya para Nabi, yang mana seharusnya bisa diambil ibroh atau pelajaran oleh umat islam.
Sejarah Penanggalan Hijriyyah
Penanggalan Hijriyyah baru ada di masa pemerintahan Umar bin Khattob. Masa sebelum ditetapkannya kalender hijriyyah, masyarakat Mekkah sudah memakai istilah bulan-bulan Hijriyyah seperti pada kalender sekarang. Namun, belum ada penetapan mana yang bulan pertama, kedua, dan seterusnya.
Nama-nama bulan yang ada dalam kalender Hijriyyah mengacu pada iklim dan kebiasaan orang Mekkah. Seperti Ibnu Mandzur dalam kitabnya Lisanul Arab, mengartikan Shofar sebagai bulan kosongnya Mekkah dari peduduk sebab bepergian. Dari Shofar muncul istilah safari yang maknanya bepergian.
Ada beberapa pendapat mengenai peristiwa yang menjadi pemicu munculnya kesadaran akan perlunya penanggalan bagi kaum muslim, berbeda dengan kalender Gregorian yang berlaku pada masa itu.
Salah satunya, karena tidak adanya penetapan awal tahun kalender Islam menimbulkan kebingungan dalam dokumen dan surat menyurat. Suatu ketika Musa Al-Asy’ari, Gubernur Di Basrah (Irak) pada zaman pemerintahan Umar bin Khottob mengirim surat kepada Kholifah Umar, yang menyatakan bahwa ia telah menerima surat dari Kholifah yang tidak memakai tanggal, hanya ditulis bulannya saja, sehingga membingungkan. Misal; dokumen yang ditulis bulan Sya’ban, tapi tidak diketahui Sya'ban tahun ini, tahun sebelumnya, atau tahun yang sangat lampau.
Maka, atas usulan shohabat Ali bin Abi Tholib, kalender umat Islam di mulai dari bulan dan tahun hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah, yakni bulan Muharrom tahun 53 Fill, sehingga pada waktu itu penyebutannya sudah masuk sebagai tahun satu Hijriyyah dan ditetapkan oleh Kholifah Umar bin Khottob.
- Sediakan Fasilitas Gratis, Pesantren Shiddiqiyyah Muliakan Tamu Muktamirin dan Muhibbin MUKTAMAR ke-35 NU
- Haul Kyai Achmad Sanusi, Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Kalimat Paling Menonjol Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah.
- Hadirkan Musisi Ternama, Fakta Merdeka 2026 Usung Pesan “Sekali Merdeka, Tetap Merdeka!”
- Kisah KH Abdul Hamid Chasbullah Dan Syekh Mukhtar, Santri Kinasih Tambakberas
- Totalitas! OPSHID Gunakan Alat Berat untuk Bangun Rumah Gratis
- Gabungkan Tasyakkuran Maulid, Haul, dan Kemerdekaan Bangsa, Shiddiqiyyah Tegaskan Pentingnya Jiwa Dermawan
- Tiga Cara Ala Shiddiqiyyah Syukuri Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya NKRI
- Unit ke 136, OPSHID Jombang Bangun 1 Rumah Syukur Lagi Di Tengah Target Proyek Khususul Khusus
- Sang Merah Putih Dan Makna Agung Dibaliknya
- Riyandoko: Bertahan dalam Keterbatasan Fisik, Berbagi Ruang dengan Keluarga Sang Kakak