Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak

15 Juli 2026 15:00

Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak

Jombang - Di sejumlah desa yang jauh dari pusat perdagangan, perputaran ekonomi berjalan lebih lambat. Kesempatan memperoleh penghasilan pun terbatas, sehingga bagi banyak keluarga, pendapatan yang ada hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keinginan memiliki rumah yang layak hanya menjadi harapan yang terus tertunda.

Di Dusun Made, Desa Made, Kecamatan Kudu, Kab. Jombang, tinggal Putiah (67), yang hingga kini masih mengayuh sepeda ontelnya setiap hari. Di atas sepeda itu, ia membawa beberapa botol jamu racikan sendiri yang telah disiapkan sejak pagi. Menjelang siang hingga sore, ia berkeliling menyusuri jalan-jalan desa untuk menawarkan dagangannya.

"Saya sudah puluhan tahun keliling jualan jamu kunyit sama kencur pakai sepeda ontel. Kelilingnya cuma satu kelurahan sambil bawa tas. Buatnya juga sedikit saja. Kadang dapat delapan puluh sampai seratus ribu," ujar Putiah.

Pendapatan tersebut tidak sepenuhnya menjadi penghasilan yang dapat dibawa pulang. Sebagian harus kembali diputar sebagai modal untuk membeli bahan baku dan meracik jamu yang akan dijual keesokan harinya.

Menyesuaikan daya beli masyarakat di desanya, Putiah menjual jamu dengan harga mulai dari seribu rupiah. Setelah dikurangi biaya produksi, ia memperoleh keuntungan sekitar Rp50.000 per hari. Keuntungan itulah yang menjadi tumpuan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya.

"Kalau dijual mahal ya susah yang beli. Di sini desa pelosok, 200 meter sudah ketemu hutan masuk di perbatasan utara Jombang, jadi yang penting dagangan laku dulu. Dari pendapatan bersihnya 50 ribu, itu buat menghidupi satu keluarga", jelas Bagus Harianto, Koordinator Pembangunan Rumah Syukur Kecamatan Kudu.

Putiah memiliki dua orang anak. Anak pertamanya telah berkeluarga dan tinggal terpisah. Sementara anak keduanya sejak 3 tahun lalu berpamitan bekerja ke luar kota, namun tak pernah lagi kembali. Berbagai upaya dilakukan keluarga untuk mencari kabar, tetapi tak pernah membuahkan hasil. Komunikasi justru diputus oleh sang anak hingga akhirnya keluarga tidak lagi mengetahui keberadaannya.

"Pamitnya kerja tapi belum pernah pulang. Saya juga nggak tahu sekarang ada di mana. Mudah-mudahan segera pulang," ucap Putiah lirih.

Kepergian anaknya meninggalkan dua cucu, Muhammad Rehan (13) dan Rizki Alfian (8), yang kini diasuh oleh ayah mereka, Muhammad Dhori (51) yang tinggal bersama Putiah. "Anak-anak dari kecil sudah ikut saya. Dulu saat liburan masih sempat bertemu ibunya, terus kok malah tambah jauh sekarang. Bahkan Rehan sampai diblokir di media sosialnya," tutur Dhori.

Sejak itu, Putiah dan menantunya saling berbagi peran agar keluarga tetap bertahan. Putiah memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dari hasil berjualan jamu, sedangkan Muhammad Dhori bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sekolah kedua anaknya.

“Saya kerja bangunan kadang buruh tani, tapi kalau lagi ada saja. Kebutuhan sehari hari makan ikut ibu, saya cuma biaya jajan dan perlengkapan sekolah anak-anak. Nggeh sak enten e (ya seadanya)”, ucap Dhori.

Penulis:

Editor: Nuraida