ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Abdul Salam: Menjadi Penjahat, Lalu Bisa Taubat adalah Rumahku yang Istimewa
18 Februari 2024 12:00

Abdul Salam atau seringkali disapa Pak Sumbri merupakan salah satu penerima Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah kelahiran Madura. Beliau merantau ke Surabaya dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, sempat tinggal di tenda biru dekat aliran sungai yang kemudian dibongkar karena pelebaran jalan, “dulu saya tinggal di tenda biru, kalau pagi ditutup, kalau malam dibuka untuk istirahat saja”, ungkap beliau. Tergusurnya tenda biru membuat beliau tinggal di garasi mobil milik Haji Siri salah satu warga setempat yang seringkalii membantu Pak Sumbri.
Tim OPSHIDMedia mencoba untuk mengenal lebih jauh sosok Pak Sumbri yang dikenal memiliki karakter tegas dan keras. Setelah ditelusuri, rupanya beliau memiliki masa lalu yang cukup kelam sebelum akhirnya bertemu Thoriqoh Shiddiqiyyah dan menjadi murid Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah Bapak Kyai Moch. Mukhtar Mu’thi.
Bak tokoh utama di film-film layar lebar, Pak Sumbri bisa dikatakan sebagai tokoh utamanya. Beliau adalah preman kelas kakap di kawasan Surabaya dan Jakarta, tak jarang tawaran sebagai pembunuh bayaran seringkali berdatangan, "Masa mudaku dulu jadi jagoan (preman) yang ditakuti di Surabaya dan Jakarta. Black magic (ilmu hitam) juga saya kuasai, sering dapat tawaran jadi pembunuh bayaran. itu kehidupan sehari-hari aku dulu", cerita Pak Sumbri.
Pak Sumbri bertemu dengan Thoriqoh Shiddiqiyyah pada tahun 1973, “Saat itu saya sedang dikejar-kejar petrus dan ditolong oleh Bapak Kyai, dari situ saya mulai ikut dengan Bapak Kyai. Masa itu memang awal-awal Bpk Kyai mulai berjuang untuk mengembalikan nama Thoriqoh Shiddiqiyyah, tahun tujuh puluh tiga (1973)”, kisah Pak Sumbri kembali mengenang perjalanan beliau ketika bertemu dengan Shiddiqiyyah.
"Tapi tidak lantas saya jadi orang baik, masih sering aku melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak baik itu", lanjut beliau.
Beliau kembali mengingat bagaimana kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalunya tiba-tiba muncul, namun selalu dicegah oleh Bapak Kyai melalui tugas-tugas yang diberikan kepada Pak Sumbri, seperti kala itu diperintah untuk melakukan penjagaan di pesantren ketika mengalami penyerangan dari sekelompok orang yang disebut ninja, "aku pernah diperintah jaga pesantren dari ninja-ninja waktu itu. Ada kode yang harus disebutkan, kalau tidak menjawab langsung aku tebas saja", jelas Pak Sumbri.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon