ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
U'it dan Sudarsono: Rochmat Tuhan Tidak Pernah Pandang Agama
07 Oktober 2024 17:00

Dingin menyusup di lereng Gunung Semeru. Membekukan udara dan menyelimuti Dusun Pojok, Desa Pandan Sari, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, dengan kabut. Akses menuju dusun ini tidaklah mudah, jalan yang berkelok-kelok dan sempit sering kali membuat perjalanan menjadi sulit.
Di balik desau angin yang menusuk, sebuah rumah kayu sederhana berdiri dengan ukuran 4x6 M, menantang dinginnya udara lereng Semeru.
HARI-HARI SULIT HINGGA USIA TUA
Di dalam rumah kayu itu, hidup sosok ibu tua bernama U'it, yang telah lama menjalani hidup sebagai janda. Ingatannya sudah mulai memudar. Ia bahkan tak ingat berapa usianya dan kapan tepatnya suaminya pergi meninggalkan dunia.
“Aduh... 80, paling loh, tidak hafal saya”, katanya pelan, tak lagi mampu memastikan berapa usianya. “Bapaknya tiada, sudah pergi dulu, sangat lama sekali. Tidak ingat tahunnya".
U'it terlahir di desa ini dengan agama Hindu, bagian dari suku Tengger. Di usia primanya dahulu, di Kecamatan Sumber yang merupakan penghasil sayur-sayuran seperti kubis, wortel, dan kentang, U'it mencari nafkah dengan menjadi buruh tani. Di ladang milik orang lain, ia berjuang dari fajar hingga senja, meraup penghasilan yang tak seberapa, hanya 50 ribu rupiah sehari. Meski kecil, ia terima dengan ikhlas, karena itu satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Namun hari-hari itu sudah lama berlalu. Usia pun perlahan mengambil alih tenaga yang dimilikinya. Kini punggungnya semakin membungkuk. Ia tidak lagi menjadi seorang buruh tani, melainkan berperan sebagai nenek yang mengasuh cucunya. "Dulu saya buruh tani masih kuat. Sekarang tidak kuat, sudah tua. Sekarang merawat cucu saja".
Ia memiliki tiga orang anak, yaitu Sudarsono, Sianto, dan Sudarmini. Saat ini ia hanya tinggal bersama Sudar (38) dan anaknya Rena (cucu U'it). Kebutuhan hidup U'it kini ditanggung oleh anaknya, Sudar, yang bekerja sebagai tukang bakso keliling. Sudar harus menjadi tulang punggung keluarga.
MENJEMPUT REZEKI SEORANG DIRI
Selama 5 tahun, ia bekerja sebagai tukang bakso setoran, bukan sebagai pemilik utama usaha tersebut. Ia harus bolak-balik mengambil persediaan bakso di tempat pemiliknya, menempuh jalan tajam dari lereng gunung ke Pasar Leces, kota Probolinggo.
“Saya ambil kulakan ke pasar leces, kota Probolinggo. Kemudian di desa sini keliling jualannya. Pulangnya jam 7 sampai setengah 8, seperti biasa setiap harinya, untuk kebutuhan keluarga”.
Upah Sudar hanya 25% dari total penjualan harian. Menurut keterangannya, porsi bakso yang terjual bervariasi, antara 5 hingga 20 ribu rupiah per porsi. Dengan laba kotor sekitar 140 hingga 150 ribu rupiah, ia hanya membawa pulang 70-100 ribu rupiah per hari.
Dalam mencari rezeki, perjalanannya tak selalu mulus. Sering kali pelanggannya menunda pembayaran, sehingga Sudar terpaksa menanggung biaya dagangannya. Sebab keuntungan yang disetorkan harus tetap utuh sesuai porsi terjual.
“Kalau ada yang hutang kasbon, itu saya nombok dulu. Kadang ketika saya mampir (untuk menagih), uangnya gak ada. Jadi nomboki dulu. Kalau bos itu tidak mau tau, yang penting setoran ke bos genap”.
Dengan penghasilan yang terbatas, ia harus membagi untuk berbagai kebutuhan. “Iya dibagi-bagi cukup nggak cukup, kadang saya banyak mengalahnya. Karena penghasilan saya cuma segitu. Mengalah untuk kebutuhan. Untuk sekolah anak, nafkahi orang tua. Di sini saya sendirian itu jadi tulang punggung keluarga. Ya dicukup-cukupkan, meski terkadang saya mengeluh.”
Sebelumnya, Sudar bekerja sebagai kuli bangunan di luar kota, bahkan ke luar Pulau Jawa selama empat tahun. Namun ia memutuskan untuk berhenti agar dapat tinggal dekat dengan ibu dan putri tercintanya, Rena. Kini ia berusia 10 tahun dan duduk di bangku sekolah dasar.
Mengapa Sudar harus berjuang sendiri? Dimanakah sosok pendamping yang seharusnya ada di sisinya?
KEMELARATAN DATANG, SANG KEKASIH MENGHILANG
Jatuh dalam kemelaratan, Sudar merasakan beban yang harus dipikul seorang diri. Nasib buruk menghimpitnya, sebab ketidakcukupan materi, istrinya enggan untuk bertahan hidup dengan Sudar. Kekasihnya itu, telah meninggalkannya sejak 6 tahun lalu.
Dalam keputusasaannya, ia memahami mengapa istrinya pergi. Ia mengungkapkan, “dari Rena umur 4 tahun, tinggal anak sama saya. Mungkin materi atau apa, kan pengahasilan saja cuma segitu, jadi ya minta maaf saja sama mantan istri jadi agak kurang Bahagia. Mungkin itu alasan meninggalkan saya gitu. Jadi saya yang mengurus semuanya".
Kata-kata itu terucap dari lubuk hatinya, mengisyaratkan penyesalan, saat ia menyadari bahwa dirinya belum mampu memenuhi harapan sang istri dan memberi kehidupan yang lebih baik.
“Mantan istri itu menyerahkan Rena mulai umur 4 tahun, mungkin dia mau pergi jaaaaauh gitu. Jadi sampai umur 10 tahun ini, tidak menunjukkan mukanya di sini. Satu kalipun. Dia yang ninggalin saya, bukan saya yang ninggalin dia, jadi tidak pernah menghubungi saya”, tuturnya.
Di usia muda, Rena harus menghadapi kenyataan pahit, tumbuh tanpa sosok ibu di sisinya. Sudar menceritakan hal yang dialami putrinya. Kini, setelah kepergian ibunya, hanya ayah yang menemani Rena ke sekolah. “Kadang dia malu, ada wali murid yang hadir kok seorang bapak, sesekalipun tidak ada seorang ibunya. Itu dia mikir, kapan saya dijemput seorang ibu, karena seorang ayah sudah pernah. Tahu sebetulnya (dengan kondisi ini). Dia malu sama teman-teman, namanya anak anak SD kan belum tau apa apa, jadinya ya cuman ngejek”
Tempat pulang yang nyaman adalah berkumpul bersama keluarga di rumah yang nyaman pula. Namun kenyataannya sangat berbeda. Rumah mereka, yang sempat direnovasi pada 2017 oleh pemerintah desa, kini tak lagi layak huni. Dengan tembok setinggi satu meter dan sisi atas berbahan papan kayu, rumah itu telah rapuh dan berlubang. Atap seng tak mampu lagi melindungi, membiarkan angin menusuk ke dalam.
Di tengah kegetiran dan harapan yang seakan sirna, kehidupan mereka tak berhenti di situ. Secercah harapan pun mulai bersinar, seperti Rochmat yang membawa perubahan.
“Datangnya langsung blegh, seperti ketiban gunung. kejatuhan rejeki yang melimpah,” Ucap Sudar dengan mata berbinar, merasakan keajaiban, seolah angin segar mengubah nasib mereka.
ROCHMAT TUHAN TERLIMPAHKAN
Rochmat Tuhan dilimpahkan untuk seluruh ciptaanNya. U'it dan Sudar menerima berkah Rumah Syukur. Pertolongan dari Yang Maha Kuasa hadir melalui jiwa-jiwa OPSHID. U'it dan Sudar dipilih sebagai penerima Rumah Syukur OPSHID, tanpa pandang latar belakang agama, suku dan ras. Melainkan karena merekalah yang dinilai paling berhak menerima Rumah Syukur itu.
Ketika OPSHID mengabarkan bahwa rumahnya akan dibangunkan, U'it menyambutnya dengan penuh syukur. Mengetahui betapa tidak layaknya kondisi rumahnya untuk ditinggali, saat ada tangan-tangan baik yang menawarkan bantuan, tidak ada keraguan sedikit pun di benaknya.
Begitupun dengan Sudar, ia terkejut saat mengetahui rumahnya telah dibongkar. Layaknya beribu tetes keringat yang ia habiskan, kini mengalir deras rezeki yang didapatkan. “Saya nggak tahu. Saya kerja bakso keliling, lihat rumah, loh kok rumah udah rata? Saya bilang, mah rumah ini mau diapakan? Gini loh lee, dapat bantuan dari ini ini (Shiddiqiyyah dan OPSHID)".
Sudar juga menceritakan reaksi Rena mengenai bantuan yang diterimanya, “dia hanya melotot gini saja tolah toleh (Sudar mencontohkan). Dia mau mengucapkan hore itu saja, cuma gini tok (menunduk). Lalu saya memandang Rena tidak terasa air mati sudah di pipi saya. Kita tidak bisa baca bathin orang lain. Tapi kalau dia memandang, saya tahu”.
Di balik setiap kisah kehidupan, terdapat hikmah yang menunjukkan betapa besar rencana Tuhan, bahwa Tuhan Maha Tahu akan segala kebutuhan hamba-Nya. Rumah Syukur tersampaikan tepat sasaran. Ditempuh puluhan kilometer oleh tim OPSHID Probolinggo hingga menemukan U'it dan Sudar.
“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan. Seribu terima kasih, dibantu yang lebih layak ini, atau bahkan ratusan ribu terima kasih. Tidak bisa membayangkan. Kok bisa orang seperti saya? Mungkin rencana Tuhan. Kan saya nggak tahu, rumahnya ibu bakal dibangun seperti ini. Saya kehabisan bicara…”, ucap Sudar dengan tulus, sementara tanpa sadar, air mata menitik dari matanya.
“Kalau katanya orang Islam alchamdulillah, kalau kami orang Hindu menyebutnya 'astungkara'. Bantuan ini semoga dapat berkah, kami berterima kasih semoga yang Maha Kuasa ngasih kesehatan buat kita semua”, ucap Sudarmini.
U'it menambahkan ungkapan syukurnya dengan penuh haru, “Nggeh maturnuwun, kulo diparingi koyok ngeten, maturnuwun wong kulo niki mboten nggadah (terima kasih, saya diberikan seperti ini, saya ini orang tidak punya)”.
Atas ridho Kyai Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi, program Rumah Syukur membawa berkah yang melimpah. “Terima kasih, khususnya Kyai Mukhtar Mu'thi, mugi-mugi pinaringan yuswo panjang kagem romo Kyai Mukhtar Mu'thi, pinaringan seger kewarasan sedayanipun. (semoga diberikan umur panjang untuk Kyai Mukchtar Mu’thi, dan semuanya diberi kesehatan)".
Semoga kehadiran Rumah Syukur ini menjadi ladang kebahagiaan bagi Bu U'it di masa tuanya, dan menjadi tempat yang menyelimuti kehangatan mereka di dinginnya udara lereng gunung Semeru. (OPSHID Media)
- Apa Makna Sehat Tentrem bagi Shiddiqiyyah?
- Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Meningkatnya Jumlah Hewan Qurban di Shiddiqiyyah
- Idul ‘Adha dan Nilai Tashawuf Yang Menjelma Dalam Tradisi
- Rekontruksi Masjid Baitus Shiddiqin Menjadi Masjid Raya Fatchan Mubiina
- Menemukan Akar Tasawuf dalam Stoikisme dan Minimalisme
- Diversifikasi Pangan: Kunci Ketahanan Nasional di Tengah Ancaman Krisis Global
- Ketahanan Pangan: Benteng Terakhir Kedaulatan Bangsa di Tengah Geopolitik Global
- Sehat Tentrem: Bukan Sekadar Rokok, ST Adalah Nafas Perjuangan
- Pangan Dalam Peta Kekuasaan: Kondisi Dalam Negeri Hingga Ketahanan di Desa
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan