Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan

18 April 2026 17:00

Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan

Sebagaimana riuhnya kabar yang kita terima, dunia seolah tak pernah sunyi dari pasang surut konflik geopolitik. Dinamika ini merupakan cerminan dari ambisi dan kepentingan yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan peradaban manusia.

Sejarah mencatat tentang berbagai perjuangan memperebutkan kendali atas wilayah strategis, di mana ego dan ketakutan kolektif menjelma menjadi kebijakan politik yang saling berbenturan.

Geopolitik dapat dimaknai sebagai jalinan erat antara pengaruh otoritas dengan posisi geografis suatu bangsa, dan usaha suatu negara dalam memanfaatkan posisi geografisnya untuk mengamankan kepentingan nasional. Dalam konteks yang lebih dalam, geopolitik adalah cara sebuah bangsa memastikan bahwa kebutuhan rakyatnya tetap aman dengan mengendalikan akses terhadap sumber daya, jalur perdagangan, dan pengaruh wilayah.

Secara historis, konflik geopolitik terus berulang sebagai manifestasi dari dorongan untuk mendominasi dan mengamankan kepentingan, yang berakar dari sifat dan nafsu serakah.

KESERAKAHAN MENGHANCURKAN KEMANUSIAAN

Hingga hari ini, bumi masih menyimpan sumber daya yang cukup untuk menopang kehidupan manusia, namun tidak semua pihak merasa aman. Terbukti dari adanya konflik global yang sering kali dipicu oleh keinginan untuk mengamankan akses terhadap energi dan pangan. Sebab komoditas seperti minyak, gas, dan sumber pangan bukan sekadar barang dagangan, melainkan jantung kehidupan sebuah bangsa.

Ketergantungan yang ekstrem inilah yang membuat energi seperti minyak menjadi hadiah yang diperebutkan. Sebagaimana diungkapkan Daniel Yergin dalam bukunya, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power, minyak adalah satu-satunya komoditas yang terkait erat dengan strategi nasional serta politik kekuasaan dunia. Bagi negara yang tidak memilikinya, mereka menempuh beragam cara untuk menjamin akses pasokan, sementara bagi negara yang memilikinya, minyak menjadi posisi tawar politik yang sangat kuat.

Fenomena ini memicu persaingan yang tidak sehat. Negara-negara besar sering kali rela melakukan intervensi politik hingga operasi militer hanya demi mengamankan jalur distribusi energi. Bagi kelompok yang serakah, mereka menggunakan segala cara, baik pengaruh politik maupun kekuatan militer untuk memastikan kendali tetap berada di tangan mereka.

Michael T. Klare, dalam karyanya, Resource Wars: The New Landscape of Global Conflict, menuliskan bahwa peta konflik dunia telah mengalami pergeseran fundamental. Tatanan ketidakstabilan global saat ini bukan lagi dipicu oleh benturan ideologi, melainkan oleh perebutan sumber daya vital.

Adu kepentingan ini paling nyata terlihat di titik-titik sempit pelayaran dunia, seperti Laut China Selatan atau Selat Hormuz. Wilayah perairan ini adalah urat nadi perdagangan internasional, siapa pun yang berhasil menguasai jalur ini, secara otomatis memegang kendali atas aliran pangan dan energi dunia.

Namun, keenyataannya yang membut konflik bukan disebabkan kurangnya sumber daya di bumi, namun sifat keserakahan yang menjadi sumber kehancuran umat manusia. Pada akhirnya, ego dan nafsu diletakkan jauh di atas nilai kemanusiaan.

Nabi Muchammad SAW telah memperingatkan manusia akan ancaman ini. Dalam kitab Usfuriyyah halaman 93, sebagaimana yang disampaikan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah pada tahun 2025,

"Akan bermunculan di akhir zaman beberapa golongan, wajah anak Adam tapi hatinya manusia itu bersifat setan. Perumpamaan mereka seperti serigala penghisap darah....Ancen wong serakah, tomak. Dikek-i sak jagat iki gak puas. Iku sifat penjajah.”

Sifat penjajahan merupakah nafsu serakah untuk menguasai hak orang lain dan bertentangan dengan kemanusian dan keadilan. Penjajahan dalam bentuk modern tidak lagi selalu tentang penaklukan wilayah, melainkan tentang penguasaan akses sumber daya milik pihak lain demi pemuasan ego kekuasaan semata.

Penulis: Ainun Nasikhah

Editor: Nuraida