ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
18 April 2026 17:00

EFEK DOMINO KERIBUTAN DUNIA
Ketika para raksasa dunia mulai bersitegang, denyut ekonomi global pun ikut beriak. Gelombangnya tidak hanya menerjang pasar modal, melainkan merembet hingga ke harga energi dan nilai tukar mata uang. Aktivitas politik suatu negara terhadap negara lain nyatanya memiliki konsekuensi serius bagi perekonomian, baik yang dipicu oleh faktor internal, seperti keputusan pembuat kebijakan maupun faktor eksternal berupa ketegangan antarnegara.
Sebagian besar risiko geopolitik (Geopolitical Risk) terjadi di wilayah yang kaya akan sumber daya alam, seperti minyak dan mineral yang merupakan jantung energi dunia. Akibatnya, setiap kali stabilitas di wilayah tersebut goyah, harga energi global akan langsung melonjak dan menciptakan gelombang ketidakpastian.
Bahkan, sekadar bayangan akan adanya konflik pun sudah cukup untuk mengguncang harga pasar, karena para pelaku pasar cenderung mengantisipasi potensi kelangkaan pasokan di masa depan. Hal ini terutama terjadi pada komoditas yang produksinya terkonsentrasi di wilayah tertentu dan sangat bergantung pada arus perdagangan internasional.
Kenaikan harga energi, khususnya minyak dan gas, kemudian memberikan efek domino yang nyata. Energi bukan sekadar komoditas, melainkan komponen biaya dalam hampir setiap produk yang kita sentuh. Dimulai dari sektor logistik, ketika bahan bakar mahal, biaya angkut barang pun melonjak. Inilah yang memicu inflasi biaya di seluruh dunia, di mana barang tidak menjadi lebih berharga, namun menjadi lebih mahal untuk diproduksi dan dipindahkan.
Dampak paling fatal kemudian menghantam sektor pangan. Pertanian modern bekerja melalui energi, gas alam adalah bahan baku pupuk, sementara solar adalah penggerak mesin tani dan truk distribusi. Saat harga energi naik, harga makanan di pasar otomatis ikut terdampak.
Rembetan ini terus berlanjut ke berbagai industri, dari pabrik plastik hingga baja. Biaya produksi yang membengkak memaksa harga jual naik, yang pada akhirnya membuat daya beli masyarakat amblas. Kondisi ini memicu ketidakstabilan sosial dan memaksa negara-negara saling sikut demi mengamankan sisa pasokan yang ada. Pada akhirnya, setiap percikan konflik di panggung internasional akan selalu menyentuh keseharian kita, membuat stabilitas ekonomi goyah akibat harga kebutuhan pokok yang mendadak sulit dikendalikan.
Sebagai negara kepulauan yang berada di titik silang dunia, Indonesia adalah permata sekaligus sasaran. Ancaman tidak selalu hadir dalam bentuk serangan militer. Sebagai bangsa yang secara geografis strategis, posisi Indonesia sangatlah krusial. Namun, jika tidak kuat secara domestik, bangsa ini hanya akan menjadi penonton atau pasar bagi kepentingan asing. Saat negara besar bertikai dan jalur distribusi pangan terganggu, Indonesia yang masih bergantung pada impor komoditas seperti gandum, kedelai, atau bahan baku pupuk, akan langsung merasakan dampaknya di harga pasar lokal.
Di tengah kepungan kepentingan global, tantangan terbesar adalah bagaimana tetap menjadi bangsa yang berdaulat dan mampu menentukan nasib sendiri, bukan sekadar menjadi objek atau pasar bagi nafsu negara lain.
Geopolitik pada akhirnya bukan sekadar perselisihan, melainkan ujian bagi kemanusiaan. Di tengah ambisi global yang tak bertepi, keberagaman bangsa dan suku merupakan realitas yang seharusnya mendorong harmoni, bukan menjadi alasan untuk saling meniadakan demi ego kekuasaan.
Nyatanya, kedaulatan sebuah bangsa akan menjadi semu jika rakyatnya kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar. Pada akhirnya, sebuah negara tidak bisa dikatakan berdaulat penuh jika keamanan perut rakyatnya terus terancam oleh ambisi politik yang tak berkesudahan di tingkat dunia.
Mengingat dampaknya, sudah saatnya menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Hal ini akan kami bahas pada artikel seri kedua mendatang. (OPSHID Media)
=======
Referensi:
- Alam, M. S., Murshed, M., Rahman, M. A., & Chen, H. (2023). Geopolitical risk and energy market volatility: The roles of global political shifts and economic uncertainty. Resources Policy, 85(Part A), 103780.
- Yergin, D. (1991). The prize: The epic quest for oil, money & power.New York: Free Press.
- Klare, M. T. (2001). Resource wars: The new landscape of global conflict. Metropolitan Books.
- Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu'thi, Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyah Indonesia. Mauidhotul Chasanah, 2025.
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon