Header

ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA

Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak

15 Juli 2026 15:00

Putiah: Puluhan Tahun Jual Jamu Keliling, Baru Kini Rasakan Rumah Yang Layak

“Pas tahu pertama itu saya kaget, ya bahagia mendengar kabarnya alchamdulillah”, ucap Putiah.

tanda tangan.webp (345 KB)
Putiah menandatangani surat persetujuan pembangunan Rumah Syukur 

Pembangunan rumah tersebut merupakan bentuk dari rasa syukur warga Shiddiqiyyah atas nikmat Kemerdekaan Bangsa Indonesia dan Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-81. Tahun ini, sebanyak 135 unit rumah dibangun di seluruh Indonesia.

Kehadiran Rumah Syukur disambut hangat oleh warga Desa Made. Sejak awal pembangunan, masyarakat bergotong royong membantu proses pengerjaan baik dari sisi tenaga maupun konsumsi. Kebersamaan itu tidak hanya menghadirkan rumah baru bagi keluarga Putiah, tetapi juga mempererat rasa persaudaraan dan kepedulian di tengah masyarakat.

Sejak peletakan Batu Syukur pada 22 Juni lalu, Rumah Syukur untuk keluarga Putiah kini telah berdiri. Dalam waktu 12 hari, pembangunan berhasil diselesaikan tersisa proses kelengkapan perabotan rumah. Berukuran 10 x 4,5 meter rumah Putiah memiliki tiga kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi, dengan nilai pembangunan lebih dari Rp100 juta. Meski peresmian seluruh Rumah Syukur dijadwalkan pada Agustus mendatang, pembangunan di Desa Made menjadi salah satu yang selesai lebih cepat.

"Rumahnya alhamdulillah sudah jadi. Kami juga melaksanakan doa bersama kausaran di sini, supaya ada daya doa buat rumahnya. Bisa membawa keberkahan dirasakan sampai ke depannya buat keluarga yang menempati”, ujar Bagus Harianto.

Keberhasilan itu, lanjut Bagus, tidak lepas Atas Berkat Rochmat Alloh, Ridho Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah dan Ketua Umum OPSHID FKYME, serta upaya seluruh relawan yang mengelola tenaga, waktu, dan materi secara maksimal.

“Kita memprogres pengerjaan dengan target setiap harinya. Semua bekerja sesuai keahlian masing-masing dengan begitu insyaAlloh pasti cepat. Di awal sudah ada Rencana Anggaran Biaya (RAB) keseluruhan. Bekerja lembur pagi sampai malam hari, dengan 15-20 pekerja. Meski cepat, semuanya tetap berkualitas kita bangunnya tidak asal-asalan. Alchamdulillah, relawan di Kudu kompak dan tumbuh kesadarannya untuk bersama-sama melestarikan program ini."

Bagi keluarga Putiah, rumah itu hadir jauh di luar bayangan mereka. Saat pertama kali melihat bangunan yang telah rampung, rasa haru dan tak percaya menyelimuti seluruh keluarga. Mereka tak pernah membayangkan akan memiliki rumah yang berdiri kokoh dan nyaman untuk ditempati.

”Dikira saya sama anak-anak dibangunnya tidak sampai jadi seperti ini, ya rumah yang biasa-biasa kayak kemarin. Ternyata sampai kayak gini, mbangune sampai uapik (bangunnya sampai bagus), rumah ajaib”, Dhori tersenyum.

rumah jadi.webp (300 KB)

Ia juga mengucap syukur dan harapan kepada Shiddiqiyyah, “Saya bersyukur sekali dapat rumah dari Shiddiqiyyah. Semoga berkah dan bermanfaat untuk keluarga saya semua. Terima kasih banyak kepada Kyai Muchtar dan pengurus Shiddiqiyyah semoga panjang umur, programnya dapat terlaksana dengan baik dan barokah dari Alloh SWT”.

Kini, satu beban besar yang selama bertahun-tahun mereka pikul telah teratasi. Kekhawatiran akan rumahnya berganti dengan harapan baru untuk menata kehidupan. Dengan tempat tinggal yang layak, Putiah dan keluarganya dapat lebih memusatkan perhatian pada ikhtiar mencari nafkah dan mendampingi masa depan kedua cucunya.

Bagi Bagus Harianto, itulah tujuan utama dari Rumah Syukur. Menurutnya, kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata merupakan cara untuk bersyukur kepada Alloh dan manusia.

“Kami ingin bersama-sama mengurangi beban hidup saudara-saudara yang sedang terhimpit kesulitan ekonomi. Karena orang yang sedang diuji dengan kefakiran dapat membahayakan bisa mengarah pada kekufuran. Dengan ilmu yang diajarkan di Shiddiqiyah, Man lam yasykurin naas lam yasykurillah lalu diamalkan ini menjadi fakta bicara, sebuah program yang manfaatnya dirasakan masyarakat”.

Rumah baru yang kini ditempati Putiah dan keluarganya diharapkan menjadi awal terbukanya pintu-pintu rezeki dan tumbuhnya harapan akan kehidupan yang lebih baik. Di tengah keterbatasan, kepedulian yang diwujudkan melalui gotong royong mampu menghadirkan perubahan nyata bagi mereka yang paling membutuhkan. (OPSHID Media)

 

Penulis:

Editor: Nuraida