ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Marlik: 21 Tahun Sakit, Hutang Kemana Mana Untuk Berobat
· 3 menit baca · Diperbarui
LAMONGAN - Mendapat barokah dari Alloh SWT berupa Rumah Syukur Layak Huni, tampaknya bisa menjadi 'obat' untuk penyakit yang diderita Ibu Marlik. Ibu Marlik adalah salah satu dari 65 penerima Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah dalam Rangka Tasyakkuran Sumpah Pemuda dan Lahirnya Lagu Kebangsaan Indonesia Raya ke - 95. Ibu Marlik merupakan istri dari Bapak Kaseno, tinggal di dusun Wuluh, desa Sukomalo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan.
Satu rumah Ibu Marlik dihuni oleh 7 orang yaitu Ibu Marlik, Pak Kaseno, saudara Pak Kaseno, anak pertama, anak kedua, suami anak pertama, dan cucu.
Anak pertama Ibu Marlik sudah menikah dan sudah dikaruniai buah hati. Sedangkan anak yang kedua umurnya 13 tahun, namun dia terpaksa harus berhenti sekolah saat kelas 2 SD, karena ia menderita sakit step. Selain itu, faktor ekonomi keluarga juga berpengaruh besar.
Pekerjaan sehari-hari Ibu Marlik dan Pak Kaseno tidak menentu atau serabutan. Seperti menjadi buruh tani, atau mencari burung untuk dijual. Sehingga penghasilanya pun juga tidak menentu. Apalagi, semenjak adanya mesin pemanen padi, jasa buruh Pak Kaseno semakin tidak dibutuhkan.
"Kerja seadanya, kadang kerja sehari dapat uang 15 ribu. Kalau pas nggak sakit ya bisa dapat 25 ribu. Tapi itu udah maksa banget tenaganya. Dan itupun kalau ada yang nyuruh kerja, kalau nggak ada ya nganggur. Sampai 2 bulan pun juga pernah nganggur", begitu kata Ibu Marlik.
- Hak Suara Atau Hak Bicara? Meninjau Ulang Sistem Demokrasi di Negara Kita
- 17 Unit Rumah Gratis OPSHID Telah Diserahkan Kepada Penerima
- Arab, Korea, Yugoslavia: Kesamaan Tak Menjamin Persatuan
- Syekh Mukhtar: NU dan Muhammadiyah Tidak Bisa Lepas dari Walisongo
- RSTMC Pantau Kesehatan Relawan Pembangunan 5 Rumah Syukur di Jombang
- Sumpah Pemuda dan Dasar Persatuan di Tengah Keragaman Indonesia
- Kongres Sumpah Pemuda: Kunci Kebangkitan Nasional
- Berkah Rumah Syukur OPSHID: Dari Gubuk Reot Menuju Kemandirian Hidup Mbah Saminem dan Mbah Suparmin
- Benteng Negara, Peran Santri di Peristiwa 22 Oktober 1945
- Bukan Renovasi, OPSHID Bangun 2 Rumah Gratis Dalam 16 Hari