ATAS BERKAT ROCHMAT ALLOH YANG MAHA KUASA
Bahrun: Tak Lagi Banjir Air, Kini Banjir Syukur Tiada Henti
29 Oktober 2024 17:00

Semarang – Bahrun (56) bersama istrinya, Sri Lestari (54) dan anak-anaknya, alami situasi yang memberatkan hati juga fikiran. Meskipun awalnya baik-baik saja, namun itu semua berubah ketika rumah yang dulunya ditempati bersama harus terbagi, jalan ditinggikan, dan di PHK dampak wabah corona.
Dulu, keluarga Bahrun tinggal serumah bersama keluarga sang kakak, hingga akhirnya rumah tersebut dibagi dua sebab ekonomi yang makin sulit. Dengan begitu, rumahnya terbilang sempit bahkan tak memiliki pintu. Mendapatkan bagian tanah seluas 4x17 meter, tepat berada di perbatasan antara dua rumah tetangga kanan-kiri.
“Dulu kan satu rumah ya saya tempati, belum terbagi, terus satu rumah itu meskipun pendek tapi masih layak. Setelah yang separo diminta sebelah, dikasih batas, baru akses keluar masuknya ndak bisa, masuknya lewat jendela,” ujar Lestari.
Awalnya rumah itu sejajar dengan jalan. Selang beberapa waktu, jalan ditinggikan terpaut kurang lebih setengah meter, dan rumah menjadi lebih rendah posisinya. Yang mana jika hujan, rumah Bahrun tidak bisa terhindar dari banjir.
Bahrun memiliki 5 anak; 3 putrinya sudah berkeluarga dan 2 putra kembar yang masih melanjutkan sekolah masih tinggal bersama. Putra kembar Bahrun terbiasa menerima olokan sebab kondisi ekonominya.
“Sampe kadang di SMA, kakaknya yang kembar itu ada yang mengolok ‘anaknya orang kere’ gitu, sampe nangis kasian gitu diolok-olok. Makanya sekarang kan dia dapet KIP, dia ingin mengangkat derajat orang tuanya, biar orang tuanya bisa hidup enak,” tangis haru Lestari.
Bahrun dan Lestari seringkali merasa susah ketika banjir datang dan tak ada bantuan dari pemerintah. Bahkan pernah banjir merendam beras yang akan digunakan untuk bersama menantu.
“Kalo orang tua pasti mengeluh, karena tetangga juga, terutama kalo banjir tetangga sangat menghina, jadi tontonan, sangat ingin sekali punya rumah bagus. Tapi akhirnya coba nabung misal seperti ada yang menawarkan brangkal (material bekas pembangunan –red) dibeli. Tapi Alchamdulillah kalo anak-anak saya tu nggak menuntut, apa adanya kalo anak saya, kalo orang tua pasti ingin,” Bahrun dengan senyumnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, Bahrun dan Lestari membuka warung angkringan. Seringkali tabungan yang diharapkan untuk renovasi rumah, terpakai untuk kebutuhan lain. Alhasil 2 putra beliau, sekolah sembari bekerja. Mereka juga ikut membeli beberapa bata ringan untuk setahap menuju rumah yang layak huni.
“Sebagai orang tua pasti kasian lah, mungkin capek atau apa tapi anaknya tidak pernah ngeluh”, cerita Lestari.
Rumah itu hanya beratap asbes, disangga kayu seadanya, dan sebagian ruang terbuka yang tampak kumuh ditutupi terpal sebagai atapnya. Keinginan besar untuk merenovasi rumah itu tampak dari tumpukan bata merah yang sudah dikumpulkan. “Alchamdulillahnya kami kumpulkan sedikit-sedikit. Nggak sampai hutang”, terang Bahrun.
Dalam situasi kondisi itu, Bahrun tak sanggup menahan air mata bahagia ketika sekelompok pemuda datang menawarkan bantuan membangun rumah tanpa disuruh bayar sepeserpun. Lestari terkesan, “Awalnya kaget, bingung, takut. Kan ada begitu orang banyaknya, setelah disampaikan ternyata kita dapat santunan rumah layak huni, alchamdulillah Ya Alloh, ya nangis bahagia, nggak nyangka".
“Kami sangat bersyukur, sangat bahagia mendapat rumah seperti ini, dulu kami menderita bertahun-tahun, tapi kami ndak pernah berkeluh kesah sama tetangga, cuma aku berkeluh kesahnya tu kepada Alloh Yang Kuasa, berkuasa atas segalanya, pokoknya setiap malam berdo’a, akhirnya dapat rumah sebagus ini perasaannya sangat-sangat senang, sangat bersyukur berterima kasih sekali kepada OPSHID,” lanjutnya.
Rumah yang layak dan nyaman selalu menjadi hal yang diinginkan setiap orang, begitu juga dengan keluarga Bahrun. Menepis semua omongan orang lain yang menusuk hati, dan terus berusaha dengan sekuat tenaga untuk menciptakan kenyamanan bagi keluarganya. Itulah bagaimana kuasa Tuhan bekerja atas ketabahan mereka. (OPSHID Media)
- Konflik Geopolitik Berakar Dari Nafsu yang Menghancurkan Kemanusiaan
- Jejak Pemahaman Lintas Budaya Dalam Fitrah Keanekaragaman
- Haul Leluhur Mursyid, Bukan Sekadar Tradisi Tanpa Dasar
- Inlander, Sebutan Dari Para Penjajah Untuk Menjatuhkan Martabat Bangsa
- Zakat Fitrah: Hadiah Rosululloh Khusus Fakir Miskin
- Tradisi Sambung Roso OPSHID, Bagikan Parcel Idul Fithri Upaya Pangruwatan Rumah Syukur
- Sambut HUT Ke-13, PT Sehat Tentrem Jaya Lestari Salurkan Santunan dan Gelar Buka Bersama 500+ Pekerja
- Shiddiqiyyah Jelaskan Makna Lailatul Qodar dan Ketentuan 27 Syahru Romadlon
- Khamenei: Pemimpin Yang Memilih Syahid Daripada Tunduk Pada Zionis
- Mursyid Shiddiqiyyah Ungkap Peristiwa Besar dan Keistimewaan 17 Syahru Romadlon